Tahun 2008 menjadi awal berdirinya PT Super Spring yang bergerak di dunia Global Positioning System (GPS) di Indonesia. Perusahaan yang mulanya mengembangkan GPS navigasi itu didirikan oleh Arianto Furiady dan David Sundiah. Sementara itu di tahun yang sama, Ade Habibie masih menjabat sebagai jurnalis otomotif di media ternama dan terbesar di Indonesia.

Diceritakannya, satu kali ketika sedang mencari informasi berita terkini, ia memperoleh informasi tentang tren GPS. Lebih dari itu, ia juga melihat peluang bisnis di situ. Dengan tujuan mencari pendapatan tambahan selain menjadi jurnalis, Ade membuka diler produk navigasi Super Spring.

Tak disangka-sangka, penghasilannya justru lebih banyak dari pekerjaan sampingannya itu ketimbang pendapatan bulanan sebagai jurnalis. Singkat cerita, ia ‘banting setir’ dan bergabung menjadi salah satu owner Super Spring pada awal 2009.

Keputusannya alih profesi tersebut bukan tanpa halangan. Mulanya Ade sempat mengalami dilema besar karena dengan fokus di Super Spring artinya ia meninggalkan zona nyaman yang sebenarnya masih dapat menghidupinya. Apalagi saat mengambil keputusan tersebut, istrinya juga sedang mengandung anak pertama.

Bisa dibilang faktor nekatlah yang membuatnya berani melompat ke kuadran yang berbeda. Tetapi memang, ”Saya tak ingin terpaku pada zona nyaman. Potensi kita bisa jadi ada di tempat yang baru,” tegas Ade.

Dari Navigasi ke Tracker
Hanya dua tahun bergelut di bidang GPS navigasi, Super Spring mencoba merambah produk baru, yaitu GPS Tracker. Keputusan ketiga pemilik perusahaan ini merambah produk lain mengingat tahun 2010 pasar GPS navigasi terbilang cukup ‘jenuh’ karena banyaknya pemain yang mencoba peruntungannya dalam bisnis yang sama.

GPS Tracker berfungsi untuk memantau kendaraan di mana pun kendaraan tersebut berada. Teknologi ini tersambung dengan server RajaTracker yang berfungsi menampung seluruh data pengguna GPS Tracker Super Spring.

Hebatnya, puluhan ribu pengguna GPS Tracker Super Spring kini telah terkoneksi di RajaTracker. Bahkan tidak kurang dari 20.000 user di luar Indonesia, seperti Australia, Timor Leste, Brunei, Malaysia, serta Mesir, sudah menggunakan GPS Tracker Super Spring dan terkoneksi di RajaTracker.

Menurut Ade, kunci keberhasilan Super Spring menjalankan bisnis GPS Tracker adalah karena strategi mereka memperkuat server dan tersedianya tim yang memonitor selama 24 jam. Umumnya, layanan yang dibutuhkan konsumen adalah kekuatan dalam sektor data serta fasilitas layanan pelanggan.

Kerja Sama Internasional
Sisi menarik Super Spring, meski hardware masih impor, namun software dan segala infrastrukturnya sudah mengandalkan kemampuan anak-anak bangsa sendiri. Hasil karya mereka pun terbilang cemerlang.

Buktinya, atas prestasi tersebut Super Spring segera akan menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan teknologi pemetaan dan traffic terbaik di dunia, TomTom International BV. Dalam dunia teknologi dan pemetaan, perusahaan yang berasal dari Amsterdam, Belanda, itu dikenal sebagai provider Maps pada iPhone dan iPad.
Bentuk kerja sama keduanya nantinya adalah membangun sebuah sistem manajemen Traffic Realtime di Indonesia. Program Traffic meliputi perkiraan kemacetan jalan, juga perkiraan waktu tempuh.

Harapan Ade, dengan kerja sama ini Super Spring dapat membantu pengemudi sampai di tujuan dengan cepat dan dapat mendukung pemerintah mengelola arus lalu lintas. Ia juga berharap kerja sama tersebut dapat membuka kesempatan Super Spring untuk bekerja sama dengan berbagai perusahaan teknologi dunia yang berhubungan dengan GPS Tracking dan Traffic.

“Yang pasti kami sedang menjajaki berbagai kemungkinan agar dapat beroperasional di luar negeri secara resmi, di mulai dari ASEAN terlebih dahulu, ” tutup Ade.


Website:
www.superspring.co