Lahan pertanian seluas 4 hektar di Desa Sambilawang, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, itu tampak hijau. Ribuan tanaman cabai tumbuh subur dan menghasilkan buah ranum yang siap dipanen. Tanaman padi juga tumbuh dengan baik dan menghasilkan bulir-bulir yang bernas. Sulit membayangkan, lahan pertanian itu dulu merupakan lahan telantar bekas galian pasir.

”Tempat yang saya duduki ini bekas lubang galian pasir. Bahkan, ada yang berupa kubangan,” kata Naufal menunjuk tanah yang dia injak saat ditemui pada pertengahan Desember 2016 di Desa Sambilawang.

Dulu, tanah di sana dipakai sebagai tempat membuat batu bata. Tanah dikeruk, menyisakan butiran pasir coklat muda dan cadas putih. Hingga 2008, lahan itu masih bopeng-bopeng dan telantar.

Melihat ada hamparan tanah tak produktif seluas 4 hektar, Naufal merasa tertantang untuk memanfaatkannya menjadi lahan pertanian. Ia pun menyewa lahan tandus itu dan menguruk lubang-lubang dengan jerami, daun, serta hasil pembakaran sampah. Sedikit demi sedikit ia menambahkan tanah subur yang ia ambil dari lahan sekitar. Lalu, ia menaburkan pupuk kandang.

Alat-alat sederhana, seperti botol, pipa, dan selang, dipakai untuk mengairi lahan. Pelan tetapi pasti, lahan yang semula tandus itu bisa digunakan untuk pertanian. Ia menanam cabai merah dan melon yang tumbuh subur. ”Sampai bisa jadi (lahan subur) makan waktu lama, tidak bisa instan,” kata Naufal.

Setelah enam bulan, Naufal mulai memetik hasilnya. Keuntungan dari menjual cabai hasil panen saja mencapai Rp 25 juta. Belum lagi keuntungan dari penjualan melon.

Saat itu, Naufal masih bekerja sebagai petugas survei perusahaan elektronik yang telah dijalani dua tahun. Setelah panen pertama, ia memutuskan berhenti kerja untuk perusahaan itu dan memilih bekerja total sebagai petani.

”Bagaimana enggak tertarik (bertani). Pernah selama dua tahun setiap hari panen, sampai saya bosan. Ngapain capek kerja jadi pegawai (perusahaan orang),” kata anak muda itu.

Dicibir

Ketika pertama kali menggarap tanah tandus itu, Naufal dicibir sejumlah warga. ”Orang bilang, ’Ngapain kamu menanam di tanah yang kayak gitu. Mau jadi apa’.”

Ia tidak peduli dengan cibiran itu. Ia yakin, dengan teknologi yang tepat, lahan tandus pun bisa disulap menjadi lahan pertanian nan subur.

Keyakinan Naufal terbukti benar. Lewat kerja keras dan teknik bertani yang pas, lahan tandus itu akhirnya bisa ditanami aneka tanaman, mulai dari cabai, padi, durian, hingga jamur merang. ”Saya hanya senyum sambil bilang, ’Iya, iya’. Tak usah banyak omong. Perlihatkan saja dengan menanam. Sekarang ada hasilnya.”

Seiring dengan keberhasilan Naufal, cibiran warga berganti menjadi decak kagum. Sejumlah warga Desa Sambilawang—sebagian besar ibu-ibu dan pemuda penganggur—kemudian menyatakan keinginan mereka untuk ikut bertani di lahan bekas galian pasir.

Naufal membuka tangannya lebar-lebar. Ia menurunkan semua ilmu bertani di lahan tandus kepada mereka. Setelah itu, ia membentuk Kelompok Tani Hijau Daun. Saat ini, jumlah anggota kelompok itu 32 orang, 80 persennya adalah anak muda yang umurnya tak jauh berbeda dengan Naufal.

Mereka diajarkan saling membantu. Jika ada anggota kesulitan memasarkan hasil panen, anggota lain membantunya. ”Ada orang yang awalnya bertani, sekarang sudah mengurus pemasaran,” ucapnya.

Tidak hanya kepada warga sedesa, Naufal juga membagi pengetahuan bertaninya kepada orang yang datang dari sejumlah daerah di Banten, Jawa Timur, bahkan Nusa Tenggara Barat. Setiap pekan, dia menerima tiga hingga empat rombongan orang yang ingin belajar bertani. ”Setiap rombongan jumlahnya hingga delapan orang. Kadang ada yang menginap di sini sampai tiga hari,” katanya.

Naufal terus menularkan ”virus” bertani kepada banyak orang. ”Saya memang bikin virus pertanian. Virus itu telah berjangkit,” ujarnya tersenyum.

Ia juga tak henti berinovasi. Teknologi sederhana, seperti mulsa dipadu dengan metode pengairan, ia terapkan. ”Dulu, pengairan bersumber dari sungai. Saya malah mengebor tanah sehingga cocok tanam tak mengenal musim. Kemarau panjang pun masih bisa bertani,” tuturnya.

Air ditarik mesin diesel. Agar biayanya murah, sumber penggerak diesel yang semula berupa bahan bakar minyak (BBM) ia ganti dengan elpiji. Dengan bahan bakar elpiji, biaya yang ia keluarkan untuk mengairi 1.500 meter persegi lahan pertanian hanya Rp 22.000 per hari. Jika menggunakan BBM, biaya yang dibutuhkan hampir Rp 50.000 per hari.

Pengairan itu cukup dilakukan dua kali dalam seminggu. Biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi hasil panen. ”Saya utak-atik sedikit. Bisa dibilang, saya gila inovasi. Selalu ingin mengembangkan gagasan baru. Tak pernah puas,” katanya.

Memilih praktik

Naufal bukan berasal dari keluarga petani. Ayahnya dulu bekerja sebagai sopir. Namun, ia lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang warganya bekerja sebagai petani.

Anak muda lulusan sekolah menengah kejuruan itu tertarik dengan pertanian lantaran ia sering singgah ke rumah temannya, Haris Kurniawan, yang bekerja sebagai penghasil bibit tanaman. Ia belajar bertani pada Haris pada 2007. Selain itu, ia juga belajar pertanian dari buku. Hasil belajarnya langsung ia praktikkan di lapangan, termasuk bertani di lahan bekas galian sejak 2008.

Naufal pernah diikutsertakan dalam pelatihan pertanian. Namun, ia merasa materi pelatihan yang diberikan begitu-begitu saja. Karena itu, ia sering bersikap kritis jika tak setuju dengan cara yang disampaikan pemateri dalam pelatihan. Akibatnya, Naufal tak pernah diundang lagi. Dia bahkan tak pernah menerima bantuan pertanian.

”Tahun 2011, saya masih diajak pelatihan. Saya selalu ribut di forum. Sekarang, saya dianggap orang buang- an. Biarin, ha-ha-ha,” katanya. Naufal tak peduli dan membeli alat-alat pertaniannya sendiri.

Belakangan ada yang mengajak Naufal ikut pelatihan lagi. Namun, ia tetap menolak. ”Ngapain ikut pelatihan lagi. Saya sudah dalam tahap realisasi. Kalau pelajar dan mahasiswa wajar ikut pelatihan,” ucapnya.

Naufal melihat kegiatan pelatihan pertanian di daerah sering kali digelar dengan pendekatan proyek. ”Orang yang dilatih itu-itu saja. Pemberi materi juga sama. Menghabiskan anggaran saja. Saya memilih bergerilya langsung ke petani-petani,” ujarnya.

Menurut Naufal, petani di Desa Sambilawang lebih baik karena mereka mandiri. Sementara petani di desa lain mengandalkan program bantuan dari pemerintah. Nah, mereka ini sering dijadikan obyek proyek bantuan.

Naufal bertekad untuk menunjukkan bahwa pilihan menjadi petani mandiri yang ia dan sejumlah petani Desa Sambilawang ambil sudah tepat. Mereka akan bertahan dan berkembang dengan usaha keras sendiri, tanpa perlu meminta-minta bantuan pemerintah. Kuncinya adalah terus belajar, bekerja keras, dan mengembangkan inovasi.


Ahmad Naufal: Penakluk Lahan Tandus

Lahir: Serang, Banten, 14 Agustus 1984

Pendidikan:

SD Negeri 2 Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten

SMP Negeri 1 Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten

SMK Yabhinka, Kota Cilegon, Banten

Sumber : Kompas