Kolam renang Bulungan sore itu terlihat meriah. Puluhan perenang cilik mengikuti sesi latihan dengan serius di bawah arahan pelatih. Coach, begitu biasa para pelatih ini disapa oleh anak asuhnya, terdiri dari beberapa tingkatan: pelatih tingkat dasar, menengah, hingga senior. Tiap pelatih memiliki tanggung jawab sesuai tingkat kemampuan anak yang mereka latih.
Satu di antara sekian pelatih itu tampak tak asing. Dikenal akan prestasi renangnya di akhir 90-an dan awal milenium, Akbar Nasution adalah atlet renang andalan Indonesia khususnya untuk gaya dada. Akbar juga dikenal sebagai putra legenda pelatih renang Indonesia, almarhum Radja Murnisal Nasution.

Komitmen di Usia Muda
Kariernya sebagai atlet Indonesia dimulai pada ajang SEA Games 1999 di Brunei Darussalam, usianya kala itu masih 16 tahun. Bersama sang kakak Elsa Manora Nasution yang juga turun berlaga, Akbar dengan gaya dada 200 meter mampu meraih medali perunggu dengan catatan waktu 2:20,59 detik.
“Saya sebenarnya cukup beruntung kalau dibandingkan kakak-kakak saya. Kenapa, karena saya baru serius menekuni renang pada umur 10 tahun. Beruntung karena papa saya waktu itu fokus ke kakak-kakak yang sedang dalam masa prestasi emas, jadi saya masih memiliki waktu lebih untuk melakukan hal lain,”cerita Akbar kepada Banggaberubah.com.
Dalam usia relatif muda, Akbar kecil sudah berani memilih renang sebagai jalan hidupnya. Komitmen dan keseriusannya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. “Tidak hanya renang, saya dulu suka main skate board, roller blade, dan sepeda. Sepertinya kegiatan saya diarahkan ke active lifestyle. Tapi kenapa pada akhirnya saya memilih renang, tidak lain karena mendapat influence yang besar dari lingkungan sekitar,” ungkapnya.


Beasiswa Karena Berprestasi
Influence yang dimaksudnya adalah ia dapat melihat bagaimana keempat kakaknya yaitu Elfira Rosa Nasution, Maya Masita Nasution, Elsa Manora Nasution, dan Kevin Rose Nasution mendapatkan berbagai keuntungan ketika mereka meraih prestasi. Salah satunya ia melihat sang kakak mendapatkan beasiswa untuk menimba ilmu ke Amerika, sekaligus mendalami teknik renang. “Sejak itu, saya memutuskan untuk menekuni dunia renang,” ujar Akbar.
Butuh waktu 6 tahun hingga akhirnya Akbar bisa mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan renang bertaraf internasional. Sea Games Brunei Darussalam adalah jalan pembukanya. Satu tahun kemudian, ia mewakili Indonesia berlaga di arena Olimpiade 2000 di Sydney, Australia. Ia turun di nomor gaya dada yang menjadi andalannya. Sayangnya, ia gagal menembus semifinal karena berada di ranking 14. Hasil yang sebenarnya tidak terlalu buruk mengingat usianya masih 17 tahun kala itu.
Dari renang pula ia mendapat kesempatan untuk berlatih di Australia selama dua tahun di bawah arahan pelatih kawakan Denis Cotterell. Ia juga sempat melanjutkan pendidikan dengan beasiswa dari Chaffey College di Rancho Cucamonga, California, Amerika Serikat. Di sini, ia bergabung dengan tim renang Chaffey dengan pelatih Mike Dickson.

Generasi Penerus
Akbar kini menjadi head coach Pari Sakti Swimming Club (PSSC), salah satu klub renang elit Indonesia. PSSC didirikan ayahnya tahun 1996, dan kini ia warisi bersama Kevin Rose Nasution.
Pengalamannya menjadi atlet renang dan berguru ke Australia serta Amerika menjadi bekal dalam menerapkan metode pelatihan. Menurut pria kelahiran 1983 ini, menjadi pelatih bukan sekadar memberi pelatihan, melainkan ada ilmu lain yang harus diterapkan kepada anak didiknya dan ilmu tersebut belum secara maksimal diterapkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.

“Inilah mengapa saya meneruskan klub yang sudah dibangun papa saya. Saya ingin mengubah konsep bahwa semua tidak hanya terkait prestasi. Tapi lebih menanamkan basic value of sport dari kedispilinan, komitmen, kerja keras, dan juga sportivitas. Hal ini yang ingin saya tanamkan ke generasi muda, sehingga mereka mengerti makna sebenarnya dari sport dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi individu sukses,” kata pria ramah ini.

Melalui renang, Akbar ingin mengedukasi generasi muda sekaligus menciptakan atlet-atlet renang penerus yang memahami arti seorang juara. Dari sini ia memosisikan diri sebagai pendidik yang sanggup memberikan influence kepada banyak individu. “Setiap orang menurut saya akan menjadi versi terbaiknya ketika melihat influence yang maksimal dari apa yang dia lihat,” kata Akbar menutup perbincangan sore itu.