Setelah dibaca, koran hanya dibiarkan begitu saja. Kalau sudah menumpuk, koran biasanya dibuang atau dijual murah ke tukang loak..
Siapa sangka, di tangan Aling Nurnaluri, koran bekas bisa menjadi barang cantik yang bermanfaat bagi orang lain dan memiliki nilai jual tinggi.
Melalui komunitas Salam Rancage yang digagasnya, Aling membangun social business yang memberdayakan masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga untuk berkreasi membuat kerajinan berbahan dasar limbah koran.

Ide membuat komunitas berslogan “tak ada rotan, koran pun jadi” ini berawal pada tahun 2009 di Sekolah Alam Bogor. Ketika itu, Sekolah Alam Bogor membuat bank sampah bagi para siswanya dan mendorong para siswa untuk mengumpulkan barang-barang bekas, memilahnya, dan memanfaatkannya.

Berangkat dari situ, tepatnya di tahun 2012, Aling bersama rekannya Dewi, terpikir untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar dengan mendirikan Salam Rancage.

Sekolah Alam Terampil
Kata “Salam” merupakan singkatan dari kata “Sekolah Alam”, sedangkan Rancage merupakan bahasa Sunda yang berarti terampil. Salam Rancage sendiri merupakan pengembangan bank sampah Sekolah Alam Bogor menjadi bank sampah masyarakat.

“Salam Rancage sengaja dikonsep sebagai social business. Sebab kami ingin menebarkan kemanfaatan sosial tapi yang berjangka panjang dan berkelanjutan. Kalau formatnya bisnis, modalnya bisa terus berputar sehingga bisa sustainable,” jelas perempuan kelahiran 2 Februari 1982 ini.
Menurut Aling Nurnaluri, karena konteksnya bisnis, maka produk yang dijual harus laku. Untuk bisa laku, tentu kualitasnya harus bagus. Ia ingin orang membeli produk Salam Rancage karena menyukai kualitasnya, bukan sekadar kasihan. Dengan demikian, sisi bisnisnya bisa terus berjalan dan ibu-ibu yang mengerjakan akan terus mendapatkan pesanan.

Seiring berjalannya waktu, dari mulanya mengelola beragam barang bekas, Salam Rancage memutuskan fokus pada kerajinan berbahan baku koran. Riset mereka mengungkap bahwa koran adalah jenis sampah dengan penjualan bagus dan memiliki pangsa pasar serta kualitas produk bagus.
Seluruh anggota lantas diberi pelatihan intensif menganyam koran hingga benar-benar memiliki keterampilan mumpuni.

Barang-barang yang dihasilkan sangat variatif, umumnya berupa perabot rumah tangga seperti keranjang sampah, vas bunga, tas, keranjang cucian, hingga tempat tisu. Kapasitas produksi per bulan bisa mencapai 3.000 item yang rata-rata diproduksi untuk korporat atau diekspor.

Berdayakan Perempuan
Ketika ditanya alasan Salam Rancage mengutamakan kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga dalam proses produksinya, lulusan Institut Pertanian Bogor ini memiliki jawaban tersendiri. Menurut Aling, perempuan dianugerahi ketangguhan untuk sanggup melahirkan, mengasuh anak, dan menahan rasa sakit. Namun, ketika ada masalah di lingkungan atau negara, perempuanlah yang sering tidak berdaya.

“Cita-cita kami adalah mengembalikan rasa percaya diri perempuan dan mengingatkan kembali bahwa dirinya tangguh. Dengan demikian, perempuan punya rasa percaya diri bahwa dirinya merupakan makhluk tangguh yang bisa berkontribusi untuk sekitar dan menyelesaikan masalah apa pun yang menimpanya,” terang Aling.

Lebih lanjut Aling menjelaskan, selain untuk meningkatkan pendapatan mereka, bisnis ini juga bisa menjadi ajang perempuan untuk bersosialisasi, belajar, bertukar pikiran, dan saling membantu.

Kini Salam Rancage pun terus berkembang. Semakin banyak yang ingin bergabung dan belajar menganyam koran. Terbukti, bermula dari hanya 6 orang anggota, kini ada 97 perempuan yang tergabung di komunitas yang berada di Bogor dan Jakarta tersebut.

Sejak Mei 2015, Salam Rancage juga digandeng Kompas Gramedia dalam program CSR Kampung Koran, yaitu pengembangan komunitas masyarakat sekitar kantor Palmerah. Dengan konsep social business yang sama, Kampung Koran menjadi wadah ibu-ibu rumah tangga wilayah Palmerah untuk menghasilkan barang-barang bernilai jual dari bahan baku koran.

Aling yakin perempuan dapat menjadi pembawa perubahan yang efektif. Perempuan tak perlu takut membuat perubahan. Ketika perempuan berani melakukan perubahan dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan, kelak mereka akan menuai hasil yang luar biasa.

“Ibarat kita meneteskan air ke dalam gelas, akan terbentuk riakan pertama. Riakan pertama selanjutnya akan membentuk riakan kedua dan seterusnya. Jadi, jangan ragu, teteskan saja airnya, suatu saat nanti perjuangan awal kita akan diikuti atau dilanjutkan masyarakat sekitar, dan memberikan nilai yang luar biasa untuk lingkungan,” tutupnya.