Dicoding merupakan program yang dikhususkan untuk pengembang aplikasi di Indonesia. Perusahaan ini terbuka bagi siapa saja dengan tujuan membangkitkan semangat, mengasah kemampuan terbaik, hingga meningkatkan daya saing developer Indonesia agar mampu unggul di pasar lokal maupun global.

Adalah Narenda Wicaksono, yang memprakarsai berdirinya Dicoding. “Inspirasinya berawal dari perjalanan karier saya selama lebih dari delapan tahun di developer relations di perusahaan teknologi dunia,” ungkap pria berusia 33 tahun dan lulusan S1 Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung (2002).

Cerita bermula ketika Naren, sapaan akrab Narenda, terlibat membangun komunitas developer. Dari mendengarkan masukan dan keluhan mereka, perlahan ia memahami karakter developer dan sesekali memberikan motivasi untuk kemajuan mereka.

“Saya menjadi saksi keunggulan potensi yang dimiliki developer Tanah Air. Sayangnya, developer tersebut masih terkendala akses pasar, pendidikan pemrograman terkini, dan jejaring bisnis yang mendukung. Ketiga hal itulah yang kemudian mendasari lahirnya Dicoding,” tambah pria murah senyum yang pernah menjabat Developer Manager Microsoft Indonesia pada tahun 2007–2010.

Selanjutnya, Dicoding berfungsi untuk menjembatani, membantu, dan membangun jejaring developer Indonesia yang unggul dalam perkembangan teknologi informasi global. Diungkapkan Naren, dari segi tim, bagi Dicoding yang terpenting bukan kecerdasan (meski kecerdasan tentu jadi pertimbangan), melainkan integritas dan kemauan seseorang untuk terus belajar meningkatkan kemampuan dirinya.

Hebatnya, meski baru berusia 2 tahun, saat ini telah lebih dari 45.000 developer tergabung dalam Dicoding. Lebih dari 20.000 developer terdaftar dalam Dicoding Academy dan 3.800 aplikasi di-trigger melalui Dicoding dengan lebih dari 330 juta downloads.

Lantas, apakah Naren sudah cukup puas dengan Dicoding saat ini? Bagaimana inovasi berikutnya? Tanpa bermaksud sombong, Naren menyatakan cukup bersyukur dengan apa yang telah Dicoding lakukan dalam waktu 2 tahun ini; sebuah startup yang bootstrapping bermodal kecil, namun memiliki mimpi besar. Tahun ini Dicoding memiliki target inovasi meluncurkan versi terbaru Dicoding Academy dengan kurikulum lebih komprehensif, yang dibangun bersama beberapa mitra perusahaan teknologi dunia. Harapannya, semakin banyak developer yang memanfaatkan Dicoding Academy sebagai sarana pembelajaran teknologi pemrograman termutakhir serta meraih kesempatan menjadi developer yang unggul di bidangnya.

Meski banyak yang mengapresiasi kehadiran Dicoding, tetapi dalam perjalanan ia menemui banyak tantangan, di antaranya tantangan finansial, pemasaran, pengembangan produk, sumber daya manusia, dan masih banyak lainnya. Di sinilah Naren berpikir keras untuk mencari solusi terbaik bersama-sama developer yang tergabung. “Kuncinya adalah kesabaran, keterbukaan, antaranggota tim, serta kegigihan dan tekad kuat untuk meraih tujuan bersama kami di Dicoding,” saran pria yang pernah menjabat Developer Manager Nokia Indonesia (2011–2014) ini.

Tak hanya bermimpi untuk masa depan Dicoding, Narenda juga punya hasrat untuk memajukan masyarakat Indonesia tercinta. Mimpinya suatu hari developer Indonesia akan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bersama-sama menjadi punggawa yang mengawal kebangkitan abad teknologi informasi untuk Indonesia. Developer Indonesia tersebar di seluruh penjuru Nusantara, dari segi kemampuan developer Indonesia tidak kalah dari developer negara lain.

“Itulah sebabnya, kita harus melihat beyond-Java untuk mencari sumberdaya yang unggul, lantas membimbing dan mengasah kemampuan mereka hingga mampu mewujudkan potensi terbaik yang dimilikinya,” tutup Narenda Wicaksono.