Sudah banyak banyak gerakan yang mengajak masyarakat kita untuk menyingkirkan stigma dan mendiskriminasi para pengguna narkoba dan Orang dengan HIV AIDS (ODHA). Tak sedikit yang berpendapat bahwa pengguna narkoba sebaiknya direhabilitasi bukan dipenjara. Jika mereka tidak mendapatkan dukungan positif, otomatis penyembuhan mereka akan mengalami hambatan yang bisa berdampak negatif, bahkan terhadap orang-orang di sekitarnya.
Salah satu yang memiliki cara dan gaya sendiri tentang menghapuskan stigma dan diskrimasi terhadap pengguna narkoba dan ODHA di Indonesia adalah kisah perjuangan Deradjat Ginandjar Koesmayadi dan keempat temannya. Mereka tak lain pendiri Rumah Cemara .
Mereka boleh dijuluki pionir yang menyuarakan stop dikriminasi terhadap korban narkoba dan ODHA di Indonesia, sekaligus menjadi inspirasi bagi para pengguna narkoba dan masyarakat luas untuk berani berubah.
Rumah Cemara yang didirikan tahun 2003 ini merupakan sebuah komunitas yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup ODHA, konsumen narkoba, serta kaum marginal lainnya di Indonesia. Rumah Cemara bertujuan membentuk Indonesia tanpa stigma dan diskriminasi, di mana semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk maju, serta memperoleh layanan HIV dan NAPZA (Narkotik, Psikotropika, Zat Aditif) yang bermutu.
“Waktu itu kami melihat tidak adanya tempat yang aman, nyaman, kondusif dan nurture bagi korban narkoba dan ODHA untuk berkembang meningkatkan kualitas hidupnya. Terlalu banyak prejudice, stigma, dan diskriminasi bagi mereka di masyarakat saat itu,” papar pria yang akrab disapa Ginan ini.
Peduli akan hal itu, ia lantas berpikir untuk membangun sebuah space yang terbuka buat siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas hidupnya secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual. “Akhirnya kami berlima mendirikan Rumah Cemara ini,” kisahnya.
Ginan dan empat kawannya itu sendiri sebenarnya juga merupakan mantan korban ketergantungan narkoba dan pernah direhabilitasi. Mereka sadar, untuk sembuh dari penyakit kecanduan tersebut sangat tidak mudah. Butuh proses dan dukungan dari lingkungan. Pelajaran hidup yang mereka lewati dan bekal yang didapat selama rehabilitasi menjadi pegangan mereka membangun Rumah Cemara.

Dulang Prestasi di Ajang Internasional
Di sebuah rumah di Setra Sari, Bandung, pertama kalinya Rumah Cemara berdiri. Berbekal pengalaman dan pelatihan adiksi, mereka menerapkan langsung kepada pengguna narkoba yang berada di tempat mereka. Selanjutnya, Rumah Cemara pindah ke Jalan Gegerkalong Girang 52, Bandung hingga saat ini.
Kegiatan yang difokuskan Rumah Cemara adalah seputar pengetahuan mengenai adiksi narkotika dan zat berbahaya lainnya, HIV/AIDS, serta kampanye Anti Stigma terhadap pecandu serta pengidap HIV.
Sementara fasilitas serta program utamanya antara lain Treatment Center untuk pecandu narkoba, serta kampanye dampak buruk narkoba di masyarakat. “Tujuannya memberikan informasi kepada masyarakat tentang narkoba dan HIV, agar mereka paham dan bijaksana dalam memilih gaya hidup apa yang mau dijalani. Informasi yang kami sebarkan sesuai fakta dan scientific, bukan menakut-nakuti,” jelasnya.
Ada pula kampanye “Indonesia Tanpa Stigma”, yang salah satu caranya dilakukan melalui musik. Ginan yang juga vokalis band Jeruji ini menyebut mereka melakukan kampanye ke beberapa kota lewat berbagai ajang musik. “Salah satunya, event bertajuk Tribute for People Living with HIV untuk menyebarkan info dan menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan bagi korban narkoba dan ODHA,” tutur Ginan.
Selain itu muncul program sport for development. Menurut Ginan, olahraga merupakan salah satu aktivitas yang dapat menyatukan masyarakat luas, sehingga mereka bisa mensosialisasikan bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan kampanye “Indonesia Tanpa Stigma” secara efektif dan efisien.
Bidang olahraga yang dijalani adalah boxing dan bola. Lewat olahraga pula, Rumah Cemara ingin menunjukkan bahwa mantan korban penyalahguna narkoba dan ODHA, bisa menorehkan prestasi.
Upaya itu pun berbuah. Mereka sukses buktikan dengan membawa nama Indonesia ke ajang internasional melalui Homeless World Cup (HWC) tahun 2011 di Paris. HWC adalah kompetisi street soccer untuk para kaum marjinal. Timnas HWC Indonesia yang diorganisir Rumah Cemara berhasil menduduki peringkat ke-6, dan Ginan meraih predikat pemain terbaik di kejuaraan dunia tersebut.
HWC menjadi ajang pembuktian bahwa mantan pecandu, ODHA serta kaum marjinal pun dapat menunjukkan bahwa mereka tetap sama, dan haknya tidak berkurang sebagai manusia, termasuk hak untuk bersepakbola.
Sejak saat itu Rumah Cemara terus berkembang. Ginan merasakan stigma-stigma negatif makin lama makin terkikis. Ketika Rumah Cemara menggagas program penggalangan dana bertajuk #1000untuk1 demi mewujudkan mimpi berlaga kembali di HWC 2012 di Meksiko, dukungan penuh msyarakat mengalir kepada mereka.
Tak tanggung-tanggung, #1000untuk1 disebut sebagai ‘aksi massa’ karena keterlibatan masyarakat yang sangat besar, bahkan sampai ke kota-kota di luar Bandung, seperti Jakarta yang menginisiasi IAC (Indonesia Aids Coalition), Surabaya, Jogja, Makassar, Purwokerto, Sumedang dan lain-lain. “Ini progres yang baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sudah semakin care dan berkurang stigma serta diskriminasinya,” ujar Ginan.

Mulai dari Diri Sendiri
Melihat ke belakang, Ginan menyadari bahwa apa yang telah dilewati merupakan suatu pelajaran berharga dalam hidup. Ia sadar, perubahan yang ia bawa saat ini tidak akan mungkin terjadi bila tidak dimulai dari diri sendiri.
“Saat masih menjadi pecandu, proses kontemplatif yang saya alami adalah; saya merasa tidak mampu menguasai diri saya sendiri. Saya punya badan, pikiran, dan jiwa tapi saya tidak mampu menguasai itu. Saya merasa powerless. Di situ saya berpikir, kalau kuasa terhadap diri sendiri saja tidak ada, hidup apa yang akan saya perjuangkan ke depannya? Akhirnya saya putuskan untuk berubah dan masuk panti rehabilitasi tahun 2000 lalu,” kenang Ginan.
Menutup perbincangan, Ginan berpesan kepada siapa saja yang akan atau ingin melakukan perubahan. “Yang terpenting adalah menjaga spirit dan komitmen. Ada pepatah yang mengatakan, terlalu banyak orang yang berpikir bagaimana caranya mengubah dunia, namun sedikit sekali orang yang berpikir bagaimana caranya mengubah diri sendiri. Jadi mulailah dari diri sendiri. Itu yang terpenting untuk memulai suatu perubahan positif.”