Relawan Satwa
Edwin mulai aktif menyelamatkan satwa sejak 2007 dengan bergabung bersama relawan di organisasi penyelamat satwa. Ia prihatin akan nasib satwa yang sering jadi korban kekerasan manusia. Tahun 2012 ia bergabung dengan House of Stray. Tempat penampungan satwa di kawasan Parung, Jawa Barat, yang didirikan Vidia Schulz ini merawat satwa domestik, terutama anjing, yang telantar karena ditinggalkan pemiliknya maupun akibat bencana alam.

Edwin menjelaskan tidak semua anjing yang kini menghuni House of Stray bisa mendapatkan rumah tetap atau teradopsi. Selain karena masalah usia dan kesehatan, tidak mudah bagi anjing jenis kampung mendapat tempat. Akibatnya, jumlah anjing di penampungan ini terus bertambah. Hingga awal 2017, jumlah total anjing di bawah tanggung jawab House of Stray sekitar 105 ekor.

Kecintaan Edwin Yusman terhadap satwa khususnya anjing tak perlu diragukan lagi. Pernah ketika ia sedang menjalankan tugas sebagai jurnalis, ia menemukan seekor anjing dalam kondisi tak terurus. Selesai wawancara, ia langsung meminta izin sang narasumber untuk mengevakuasi anjing tersebut dan diizinkan.

Menurut Edwin, terdapat beberapa tahap setelah evakuasi anjing telantar. Langkah pertama adalah pemulihan di klinik satwa untuk mengetahui kondisi satwa tersebut. Bila ditemukan penyakit, anjing langsung menjalani perawatan hingga sembuh. Setelah sembuh, si anjing disteril/kastrasi agar tidak menambah populasi. Selanjutnya, anjing tersebut dimasukkan ke daftar adopsi untuk mencari keluarga yang ingin menerimanya. House of Stray juga memiliki beberapa program pilihan bagi mereka yang ingin membantu satwa. Dua di antaranya, menjadi donatur bagi anjing penghuni penampungan atau menjadi keluarga sementara dengan memberikan tempat di rumahnya hingga anjing itu mendapat rumah permanen.

Jangan Sakiti Satwa
Menurut Edwin, organisasi penyelamat satwa kini tumbuh cukup pesat, hampir setiap provinsi memiliki lembaga atau organisasi penyelamat satwa, tidak hanya Jakarta. Ada pula yang menyelamatkan satwa secara individu tanpa bergabung dengan organisasi mana pun. “Ini angin segar bagi Indonesia. Karena kata Mahatma Gandhi, ‘The greatness of a nation can be judged by the way its animals are treated’,” tutur lulusan FISIP Universitas Pembangunan Nasional tahun 2002 ini.

Edwin menegaskan semakin banyak manusia yang peduli terhadap hidup satwa, akan semakin banyak satwa yang terbantu. Manusia perlu terus mengingat bahwa satwa adalah juga makhluk ciptaan Tuhan. “Sama seperti kita. Tidak apa jika tidak suka dan tidak ingin melakukan sesuatu untuk membantu satwa. Namun, tolong jangan sakiti mereka,” tegas Edwin Yusman.