Geraldine Oetama salah satu tokoh yang berperan penting atas hadirnya Skystar Ventures pada Juni 2013. Skystar Ventures adalah inkubator digital (startup) yang beberapa programnya antara lain memberikan training, fasilitas kerja, dan mentoring kepada calon entrepreneur.
Perempuan lulusan University of Southern California pemegang gelar MA di bidang Marketing ini menerangkan kehadiran Skystar Ventures dilatarbelakangi kondisi rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia, di sisi lain penetrasi Internet yang begitu cepat di Indonesia tidak mendorong jumlah itu menjadi lebih tinggi. “Jadi, mayoritas pengguna (Internet) di Indonesia hanya pengguna, bukan pembuat,” urainya.
Tidak cukup hanya training dan mentoring, Geraldine menginisiasi lahirnya Skystar Capital, venture capital (VC) yang fokus pada pendanaan level seed-fund atau pendanaan tahap awal pada startup.
Untuk kriteria, Skystar Capital mencari startup yang sudah berjalan 1-2 tahun, tim harus lengkap dan bekerja penuh waktu, founder sudah berpengalaman dan memiliki keahlian industrial yang mumpuni. Selain itu, Skystar Capital juga mempertimbangkan model bisnis yang dikembangkan startup. Jika produk memiliki bisnis serupa di luar, maka perlu dibuat tolok ukur terlebih dahulu.
Tetapi selama 3,5 tahun mengelola Skystar Capital, Geraldine mengungkapkan rata-rata startup yang mengajukan diri ke VC ini karena ingin mendapatkan pelatihan dan mentoring, tidak semata faktor dana. Mayoritas ingin mencari informasi tentang cara membangun startup, proses pengelolaannya agar lebih efisien, hingga terkait riset dan validasi ide dengan lengkap.
Kecenderungan tersebut karena startup pengaju program inkubator digital kebanyakan mahasiswa yang baru mulai berbisnis atau fresh graduate (80%). Hanya 20% startup yang dari kalangan umum.


Dana Sendiri

Tiga setengah tahun berkecimpung di bisnis pemodal ventura, Geraldine melihat dan menyadari meski pemodal ventura lokal mulai bermunculan, tetapi umumnya kantongnya tak sedalam para pemodal ventura asing. Begitu pula dengan Skystar Capital.
Bahkan berbeda dengan VC lain yang biasanya menginvestasikan uang orang lain, Skystar Capital bermodalkan dana sendiri. Karena itulah, Skystar Capital cenderung lebih konservatif dalam mempertimbangkan investasi. Hingga kini Skystar Capital telah mendukung 16 startup, beberapa di antaranya Bridestory (marketplace seputar pernikahan), HijUp.com (e-commerce), Indoproc (e-procurement), dan Kudo (e-commerce untuk UKM).
Berinvestasi di industri teknologi, menurut Geraldine, tidak seperti bisnis konvensional. Profit bukan yang dilihat di awal, melainkan pertumbuhan dan penetrasinya. Sementara beberapa cara untuk menilai valuasi atau nilai perusahaan startup, dapat dilakukan dengan price per sales, price per value, atau benchmark-ing dengan startup luar.
Ke depannya, Skystar Capital ingin semakin mengembangkan startup di bidang Internet dan mobile karena startup semacam ini belum banyak jumlahnya di Indonesia. Selain itu, Geraldine menyatakan ingin mendorong anak muda Indonesia mengembangkan produk lokal.
Beberapa tip dari Geraldine bagi mereka yang berminat membuat startup antara lain fokus pada masalah di sekitar, banyak bertanya ke calon konsumen untuk memperoleh masukan sebanyak-banyaknya, jangan takut atau khawatir akan startup asing yang masuk ke Indonesia karena mereka tidak memahami kultur Indonesia sebagaimana startup lokal memahami kulturnya sendiri, serta jangan ragu untuk berbagi ide. “Jangan takut idenya dicuri karena yang terpenting dari sebuah ide adalah eksekusi,” pungkasnya.

Penulis: