Path, Instagram, Facebook hari ini pasti jadi makanan sehari-hari Anda ketika membuka ponsel. Anda nggak pernah absen tentunya dari social media, baik untuk update status, posting foto ataupun hanya sekadar scrolling untuk membaca status teman-teman Anda. Kelihatannya menyenangkan, namun di balik aktivitas Anda di social media, ternyata ada efek yang bisa menganggu kesehatan. Baik secara mental maupun fisik.
Nggak percaya? Coba Anda cek diri sendiri. Pasti pernah mengedit foto dengan filter demi terlihat sempurna sebelum posting foto. Menurut survei yang dilakukan oleh media situs sosial Pencourage, duapertiga pengguna social media melakukan "manipulasi realitas". Sementara sisanya yang sepertiga merasa harus berbohong. Penipuan itu dapat mengakibatkan perasaan malu, paranoia dan kesedihan, begitu kesimpulan dari survei Pencourage.
Nyatanya nggak hanya itu, masih ada beberapa penyakit yang harus Anda waspadai karena sering bersocial media. Simak ulasannya berikut ini!
"Penyakit" Pamer
Ya, ini jadi salah satu penyakit yang diam-diam menjalar di tubuh Anda. Berawal dari posting foto biasa, kemudian jadi berujung kecanduan dan jadi hobi pamer. Setiap foto maupun status yang Anda posting pasti bertujuan untuk menunjukkan status sosial, makanya nggak jarang Anda mengedit foto agar terlihat tampilan terlihat sempurna, sebelum dipamerkan ke social media. Dan itupun akhirnya berlangsung berkali-kali sampai punya cap “doyan pamer” dari teman-teman.
Iri Hati
Sebuah studi dari University of British yang dilakukan pada tahun 2015, para peneliti melakukan survey ke lebih dari 1.100 pengguna Facebook. Dari hasil penelitian tersebut menemukan bahwa semua orang memiliki potensi iri hati setelah melihat keberhasilan teman melalui posting-an di social media.
Hal serupa juga dilakukan oleh peneliti dari Jerman dengan mengamati 600 peserta yang menghabiskan waktunya bermain social media. Terbukti bahwa, posting-an teman-teman yang menunjukkan keberhasilan memicu iri hati, menderita dan depresi dapat menyebabkan hilangnya minat dan semangat di dalam diri, malas beraktivitas, bahkan mampu mendorong untuk melakukan bunuh diri.
Emosi Tak Terkendali
Semua pasti setuju, ketika membaca dan melihat posting-an negatif, pasti secara otomatis dapat memicu emosi. Ya, dalam studi tahun 2014, emosi memang bisa menular di social media dan mempengaruhi pembacanya. Jadi, kalau teman Anda hobi posting sesuatu yang berbau negatif, segera unfollow atau unfriend, supaya Anda tidak ikut tersulut emosi.
Antisosial
"Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat". Perumpamaan ini sepertinya pas untuk mereka yang terlalu sering menggunakan social media. Asik dengan social media, membuat Anda terlena dengan dunia maya dan menjauhkan diri dari lingkungan sosial yang sesungguhnya.
Internet Asperger Syndrome
Gangguan jiwa ini "menyerang" orang-orang yang biasanya pendiam di dunia nyata. Di social media seseorang dengan Internet Asperger Syndrome justru sering berkata kasar, bahkan mencaci maki orang lain. Dia juga suka memancing emosi orang yang membacanya dan memberi efek negatif.
Masalah Percaya Diri
Menurut penelitian para dokter, mereka yang terlalu banyak melakukan aktivitas di social media memiliki kepercayaan diri yang rendah. Alasannya, mereka sering membandingkan diri dengan orang lain di social media dan merasa dirinya selalu kurang, terlebih ketika Anda melihat posting-an blogger, artis dan model, tentunya membuat kita merasa terintimidasi.
Sementara Penemuan peneliti di University of Pittsburgh School of Medicine terhadap 1700 pengguna media sosial berusia 18 hingga 32 tahun, mengungkapkan bahwa responden yang menghabiskan nyaris seluruh waktunya untuk melihat dan bermain media sosial, memiliki rasa percaya diri di bawah normal. Alhasil, rasa benci pada tubuh sendiri, tidak percaya diri, dan frustrasi, banyak ditemukan pada netizen wanita yang terlalu sering menghabiskan waktu di social media.
Kegemukan
Semakin sering melakukan aktivitas di social media, membuat seseorang akan ketagihan dan ingin melakukannya lagi, secara terus-menerus, dan tanpa henti. Namun, terlalu asik dengan social media juga menghambat segala aktivitas. Hasil penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu dengan social media daripada berolahraga. Biasanya ketika kita menghabiskan 7-8 jam sehari untuk memandangi ponsel atau layar komputer, biasanya dibarengi dengan ngemil yang menyebabkan tubuh makin melebar.
Narcissistic Personality Disorder (NPD)
Coba cek di akun Instagram, Path atau Facebook Anda, apakah posting-an di album semuanya berisi foto Anda? Kalau iya, harap berhati-hati. Anda sepertinya masuk dalam lingkaran NPD. Gejalanya, suka pamer foto narsis dengan beragam gaya di social media. Biasanya orang NPD punya sifat yang arogan, egois dan tidak bisa berempati dengan orang lain. Mereka sulit menjalin hubungan dengan orang lain dan terancam depresi. Dengan posting-an narsisnya, orang NPD selalu mengharapkan pujian dan haus likes dari para followers-nya.
Munchausen Syndrome
Salah satu tujuan update status atau mem-posting foto adalah supaya seseorang mendapat perhatian atau simpatik dari orang lain. Namun, yang sekarang terjadi, postingan tersebut kadang dibuat-buat atau bersifat fiktif. Hati-hati, ini sudah mengarah ke Munchausen Syndrome.
Gangguan jiwa ini menyebabkan seseorang untuk rela melakukan sebuah kebohongan hanya untuk menarik simpati orang-orang di media sosial termasuk lawan jenis atau teman-teman di social media-nya.
Postur Tubuh Berubah
Terlalu sibuk dengan social media di gadget, membuat tulang leher kita akan berubah, karena dengan melihat gadget, leher akan menunduk. Jenis postur ini sering disebut juga dengan "text neck" (posisi menunduk menatap layar). Nah, hal ini bisa menyebabkan degenerasi persendian, bahkan operasi.
Sebenarnya, yang terbeban berat bukan hanya leher dan tulang belakang, jari-jari kita juga dipakai berlebihan sehingga lama kelamaan akan mengalami peradangan. Jadi, tariklah nafas panjang untuk mengambil jeda dan hentikan kesibukan setiap satu jam sekali untuk berjalan sebentar dan melemaskan otot-otot.