"Jasmerah" adalah akronim terkenal kreasi Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Beliau menggaungkan Jasmerah dalam pidato legendarisnya di depan MPRS tanggal 17 Agustus 1966, "Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah."


Pesan yang hendak disampaikan Bung Karno cukup jelas, sejarah harus selalu menjadi bagian dari kehidupan, termasuk kehidupan bernegara karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Sejarah merupakan catatan dari tindak perilaku manusia atas suatu kejadian. Dengan mempelajari sejarah, utamanya sejarah negara Indonesia, maka kita bisa memetik ilmu untuk berkontribusi lebih baik lagi bagi negeri ini.

Sejarah mengajari kita betapa besar pengorbanan para pahlawan demi kemerdekaan Indonesia, hingga berkorban nyawa. Dalam pikiran mereka hanyalah mewujudkan Indonesia yang bebas merdeka, terlepas dari penjajahan dan penindasan. Semangat yang sama turut disuarakan kelompok pemuda dalam ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Artinya, para pemuda di tahun 1928 sudah bersatu bersumpah setia kepada Indonesia, membela Tanah Air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Padahal, kala itu mereka belum tahu pasti kapan Indonesia merdeka, ataukah mereka akan seterusnya berperang.


Meskipun penjajah masih menduduki Indonesia, para pemuda yakin bisa melindungi Indonesia bila mereka bersatu. Berbagai kelompok pemuda dari berbagai daerah menghadiri kongres yang diselenggarakan selama dua hari, 27–28 Oktober. Organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes (Sulawesi), Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, adalah beberapa organisasi yang turut merumuskan Sumpah Pemuda.

Sungguh indah persatuan beragam suku tersebut demi meraih satu tujuan mulia, yaitu Indonesia merdeka. Mereka tidak membeda-bedakan agama, suku, ras, maupun jabatan. Mereka adalah Indonesia, negara yang terdiri dari beragam suku, ras, dan agama. Sejarah mencatat kuatnya perjuangan dan solidaritas para pemuda ini, hingga akhirnya Indonesia merdeka tahun 1945, dan penjajah angkat kaki dari Indonesia pada 1949.

Kita, sebagai generasi muda masa kini dengan pendidikan yang lebih baik dan teknologi yang jauh lebih maju dibanding generasi pendahulu, seharusnya bisa berkontribusi lebih baik dan nyata bagi Indonesia. Jangan sampai darah para pemuda dan pahlawan yang telah tumpah demi merebut kemerdekaan Indonesia sia-sia. Janganlah persatuan dan kemerdekaan yang sudah diraih dengan susah payah ini dihancurkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Kita mundur beratus-ratus tahun jika Indonesia sampai terpecah belah.

Para pemuda tahun 1928 tidak saling mengenal, tapi bersama-sama berjuang demi satu tujuan mulia. Kita sebagai pemuda abad milenium harus bisa meneruskan perjuangan mereka untuk Indonesia yang lebih baik. Indonesia pernah tercatat sebagai Macan Asia karena perekonomian yang kuat. Tidakkah kita bangga bila berhasil menjadi salah satu penggerak kemajuan Indonesia?