Banyak julukan dinobatkan untuk kota ini, seperti Kota Kembang, Parijs Van Java, hingga julukan sebagai Kota Belanja. Bahkan, pada awal abad ke-20, Bandung dikenal sebagai kota kreativitas lantaran banyak seniman dan produk kreatif yang berasal dari kota ini.

Sejak dulu Bandung terkenal dengan kemolekannya. Kota berhawa sejuk dan terletak di pegunungan ini awalnya memang didesain oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai kota tempat tinggal. Berkat pesona yang dimilikinya, tak sedikit masyarakat dari luar kota Bandung singgah demi menikmati keindahan alam serta nuansa kesejukannya yang bersahabat.

Meski begitu, tak sedikit masalah yang dihadapi kota ini dari sekitar lima tahun ke belakang. Problem terbesarnya masih meliputi banyak hal, seperti tata ruang yang belum baik, termasuk masalah kemacetan dan pedagang kaki lima. Permasalahan lainnya termasuk soal transportasi massal, pertumbuhan kota yang masih kacau sehingga struktur ruang kota tidak teratur.

Untungnya, Kota Kembang dipimpin oleh Ridwan Kamil yang menjabat Walikota Kota Bandung. Sejak mengawali kiprahnya September 2013 silam, orang nomor satu di Kota Kembang ini mulai memberikan perubahan positif.


Inovasi Bandung
Sisi menariknya, Kang Emil, sapaan akrabnya, yang berlatar belakang arsitek berhasil menunjukkan kepiawaiannya dalam bidang desain untuk membuat karya fisik di Kota Kembang. Ada sebuah mimpi dalam dirinya. Ia ingin membangun Kota Bandung menjadi kota yang mendunia, memiliki konsep smart city serta menjadikan kawasan Bandung Teknopolis yang melek teknologi. Harapannya, kota Bandung mampu terkoneksi dengan peradaban dunia.

Menurut Ridwan, indikator kemajuan negara dapat dilihat dari fokusnya pada teknologi. Cara inilah yang dilakukan oleh Korea Selatan. Salah satu upaya membangun Kota Bandung menjadi kota berteknologi yaitu dengan memasang 5 ribu titik Wi-Fi di seluruh bagian Kota Bandung.

Apakah pencapaian tersebut sudah cukup memuaskan warga Bandung dan menjadi daya tarik wisata masyarakat luar kota Bandung? Jawabannya belum. Sejurus langkah jitu dilakukan demi merevitalisasi Kota Kembang.

Berikut beberapa kemajuan inovasi yang dilakukan Kota Bandung menuju pencapaian yang lebih baik. Semoga bisa menjadi inovasi dan inspirasi bagi kota besar lainnya di Tanah Air.

1. Skywalk Cihampelas
Baru diresmikan awal Februari lalu. Skywalk Cihampelas atau dikenal dengan sebutan Teras Cihampelas dirancang mengambil konsep alam, membuat masyarakat dapat melihat langsung keindahan kota Bandung dari atas Jalan Cihampleas. Fasilitas ini turut berguna untuk memfasilitasi para pedagang kaki lima (PKL) yang kerap membuat kusut kawasan tersebut.
Sebagai informasi, Skywalk memiliki panjang 450 meter, lebar 9 meter, dengan kedalaman tiang pancang 9 meter, dan ketinggian sekitar 4,6 meter. Pembangunan Skywalk ini memakan biaya sebesar 48 miliar rupiah.

2. Bandung Creative Hub (BCH)
Proyek pembuatan Bandung Creative Hub dengan membangun gedung lima lantai. Bangunan ini akan menjadi tempat anak muda Bandung berkreasi. Di dalam gedung akan disediakan banyak ruang dengan beragam fasilitas, antara lain studio inovasi (3D Printer, Laser Cutting, Textile Printer dll), studio Fashion, studio ICT, studio Foto/TV, studio musik, studio keramik, Design Museum, Design Store, Design/Art Library, Art Gallery, Design Studio, Bioskop untuk Film Eksperimental, Classroom, Cafe/Resto, Co-Working Space, dan tempat hang out/study 24 jam.

Harapannya, gedung ini akan menjadi percontohan di Indonesia karena hingga saat ini belum ada gedung Creative Center di Indonesia. Goal yang ingin diraih adalah mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Kota Bandung, sekaligus menjadi persembahan Pemkot Bandung untuk anak-anak muda Bandung dan visi ekonomi kreatif Bandung agar juara dunia.

3. Bandung Command Center (BCC)
Sejak dibangun 2015 silam, Bandung Command Center (BCC) merupakan salah satu bangunan cukup penting. Uniknya, dalam ruangan tersebut terdapat peralatan canggih dan didesain layaknya film Star Trek. Menarik bukan?
BCC memiliki fungsi utama memantau tiap sudut Kota Bandung yang terkoneksi dengan kamera pengawas di seluruh kota. Targetnya akan dipasang ribuan kamera tersembunyi. Namun, hingga kini Pemerintah Kota Bandung baru memasang 68 kamera tersembunyi.

4. Restorasi Sungai Cikapayang dan Taman Dewi Sartika
Sungai Cikapayang merupakan anak sungai kecil yang melintasi area Balai Kota Bandung. Dahulu, sungai itu tampak kumuh. Pepohonan rimbun di Taman Dewi Sartika kian membuat daerah itu terkesan seram.
Kang Emil berhasil mengubah kesan tersebut. Air sungai yang keruh diubah menjadi lebih jernih dengan menerapkan teknologi penyaring air. Ia pun menyediakan tempat untuk bermain air bagi anak. Area pejalan kaki dipercantik dengan kursi klasik dan tanaman warna-warni. Hasilnya, lokasi tersebut kini banyak dijamah masyakarat dan berpotensi menjadi lokasi wisata.

5. Taman Film Bandung
Idenya cukup unik. Lokasi Taman Film dengan luas 700 meter persegi berada di area Taman Pasupati Bandung yang sebelumnya telah dibangun Taman Jomblo, Skatepark, dan area futsal. Taman
yang diresmikan pada 2014 lalu itu berdesain unik, yakni berbentuk topografi sawah berteras yang menghadap sebuah layar besar. Taman Film terdiri dari tujuh tingkat yang masing-masing memiliki ukuran berbeda, fungsinya sebagai tempat duduk.

*Diolah dari berbagai sumber

Penulis: