Adi Panuntun. Bagi kalangan sineas, nama ini tidaklah asing. Ia dikenal sebagai produser film Cin(T)a yaitu sebuah film dokumenter yang menceritakan kisah cinta antara sepasang kekasih yang berbeda agama maupun etnis. Film ini dalam Festival Film Indonesia 2009 mendapatkan penghargaan naskah terbaik. Selain itu, film dengan durasi 79 menit ini juga diputar di negara Malaysia, Thailand, Australia, dan Inggris.
 

Tapi, kini nama pria yang kerap disapa Atun tersebut menjadi sebuah nama yang mampu mendobrak dunia kreatif Indonesia. Bersama adiknya – Sonny Budi Sasono – di tahun 2010 Atun mulai memperkenalkan video mapping, melalui perusahaan yang mereka dirikan, Sembilan Matahari. Apa itu video mapping?
 

Video mapping adalah sebuah teknik memproyeksikan video pada layar bertekstur. Kalau biasanya kita menonton film bioskop, gambar diproyeksikan pada bidang datar dengan latar berwarna putih. Maka video mapping mengandalkan bangunan sebagai latar belakangnya dengan menggunakan beberapa proyektor beresolusi sangat tinggi.  
 

Tahun 2010, ‘virus’ video mapping mereka tampilkan dengan menjadikan Museum Fatahillah sebagai objeknya. Saat itu, video tersebut menggambarkan bangunan museum retak dan dalam hitungan detik, bangunan yang dahulu merupakan Balai Kota Batavia tersebut luluh lantah. Kreasi tersebut praktis menimbulkan decak kagum bagi penonton. Tapi, ada arti dari ‘video retaknya’ Museum Fatahillah. Pesan itu adalah untuk merevitalisasi dan menjaga bangunan ini bersama-sama. 
 

Hadirnya teknik pemetaan video jelas menjadi angin segar bagi industri audio visual di Tanah Air. “Sejak saya dan adik saya menyelesaikan kuliah di ITB, kami sudah memiliki kesamaan visi berkarya, sebuah keinginan untuk menghadirkan produk tayangan audio visual yang inspiratif,”ujar Adi.

 

Diferensiasi Karya

Darimana awal ia menemukan video mapping? Ternyata sejak kecil pria yang berdomisili di Bandung ini sudah terbiasa bermain dengan proyektor. Adi kecil pun juga suka memainkan kaca pembesar ke cermin dan menghasilkan sebuah objek bergerak. Bakatnya semakin terasah ketika ia menimba ilmu di Fakultas Desain Komunikasi Visual, dan dilanjutkan dengan mengambil master di Universitas Northumbria. Newcastle, Inggris. 
 

Menurut Adi, tantangan terberat yang dimiliki oleh Sembilan Matahari adalah membangun modal dan brand. Tantangan ini dapat diatasi dengan membangun kepercayaan terhadap brand terlebih dahulu, yakni dengan melakukan penguatan diferensiasi melalui karya-karya audio visual.
 

“Kami selalu mengedepankan pendekatan desain (design thinking), dalam cakupan lebih luas yaitu ilmu/metodologi yang dapat memastikan bahwa setiap orang dapat membuat gagasan inovatif melalui metode dan proses kreatifnya. Di Sembilan Matahari, desain berlangsung baik secara intuitif maupun dipelajari dan dilatih terus menerus,”jelas pria berkacamata ini. 
 

Menariknya, orang-orang kreatif yang ada di Sembilan Matahari memiliki latar belakang dari berbagai profesi seperti film maker, animator, arsitek, IT programmer, lulusan komunikasi dan lainnya. Menurutnya, identitas dan industri boleh berbeda, namun biasanya intuisi dari berbagai disiplin ilmu tersebut selalu satu frekuensi dalam berbagi inspirasi yaitu Idealisme untuk Indonesia. “Sembilan Matahari itu sangat Merah Putih,”tegas sang Founder & CEO ini.
 

Selain Museum Fatahillah, Sembilan Matahari mengaplikasikan kreasi mereka di beberapa gedung maupun bangunan bersejarah seperti Gedung Asia Afrika, Gedung Sate, bahkan Candi Prambanan. Lalu, manakah karya yang paling berkesan? “Karya video mapping kami yang berjudul Kriyasana. Karya ini kami ikutsertakan dalam ajang kompetisi video mapping tingkat internasional yang diselenggarakan di kota Moscow, Rusia pada bulan Oktober 2014 lalu. Kriyasana, berhasil menjadi Juara 1 Dunia.”
 

City Intervention Video Mapping Project di Bandung Design Biennale 2017, di bulan November nanti akan menjadi proyek terbaru mereka. Proyek intervensi video mapping skala kota ini, juga akan merespon hingga pelosok bekas Gua Jepang dan Belanda di kawasan Taman Hutan Raya Dago Pakar.
 

Jelas, apa yang dilakukan Adi Panuntun banyak menginspirasi kaum kreatif di negeri ini. Adi menitip pesan kepada mereka yang sedang atau ingin melakukan perubahan. “Mengubah kebiasaan kita yang terbiasa dengan jargon seeing is believing menjadi believing is seeing.  Pesan bagi generasi muda Indonesia? Change the thing, by changing the way we think!
 

 

Salute….