Awalnya adalah sebuah mimpi dan obrolan dari enam orang anggota Wanadri tahun 2009 yang ingin melakukan ekspedisi. “Mulanya hanya brainstorming saja. Karena kita masih pendaki pemula, jadi awalnya takut untuk menyampaikan ide. Dan awalnya pun cuma ingin mendaki Kilimanjaro tapi akhirnya berubah menjadi mendaki 7 Summits,” cerita Nurhuda, salah satu dari enam Summiters (sebutan untuk orang yang sudah mendaki 7 Summits).

Pada masa itu, kenang Nurhuda, belum ada pendaki dari Indonesia yang mendaki 7 Summits lagi. Pendakian terakhir dilakukan oleh dua pendaki dari Mapala UI, Norman Edwin dan Didik Samsu. Kedua pendaki ini hanya menyelesaikan 5 pendakian dan meninggal di gunung Aconcagua, Argentina, tahun 1992. Selain itu, ide mendaki 7 Summits juga muncul karena Indonesia memiliki Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid.
Kala itu, Nurhuda bersama lima temannya, Ardeshir, Iwan Irawan, Fajri Al Luthfi, Martin Rimbawan, dan Gina Afriani sebagai satu-satunya perempuan, tidak berpikir sama sekali kalau mereka akan bisa mewujudkan mimpi ini. Hanya bermodal tekad kuat, mereka tetap berlatih dan mempersiapkan diri.

“Waktu itu belum semua orang mendukung. Tapi kami tetap semangat dan tetap latihan walau belum tahu mau berangkat atau tidak. Karena semangat kami, orang mulai melihat sampai akhirnya beberapa senior mendukung. Jadi kalau mau berbuat sesuatu, memang harus dimulai dari diri sendiri. Dalam proses itu orang akan melihat. Kita akan dihargai,” urai Nurhuda.




Kenali Tantangan
Pendakian 7 Summits berhasil dilakukan dalam jangka waktu 2,5 tahun. Diawali dengan pendakian Carstensz Pyramid (2010), Kilimanjaro (Juli 2010), Elbrus – Rusia (Agustus 2010), Aconcagua – Argentina (Des 2010- Jan 2011), Denali – Amerika Utara (Mei 2011), Vinson Masif – Antartika (Desember 2011), dan terakhir Puncak Everest (April – Mei 2012).

Dapat terbayangkan sulitnya perjalanan dan tantangan yang harus dihadapi ketika mendaki 7 gunung. Tetapi Nurhuda dan teman-temannya sama sekali tidak pernah menyerah sesulit apa pun medannya. “Yang paling sulit itu kalau jenuh, karena hal ini tidak bisa dihindari,” ucapnya.
Menurut Nurhuda, kejenuhan terjadi terutama karena faktor proses pendakian yang sangat tergantung cuaca. Bila cuaca buruk, maka mereka tidak bisa pergi ke mana-mana alias tinggal di dalam tenda. Mereka pernah harus menunggu selama satu minggu di basecamp Everest karena cuaca yang buruk.

Sementara soal tantangn, dijelaskan Nurhuda, pengalaman paling berat adalah menunggu cuaca membaik ketika hendak menaiki Gunung Vinson Masif di Antartika. Walau hanya tiga hari, tapi cuaca dingin dan salju membuatnya terasa sangat berat.

Nurhuda memberi tip, dalam menghadapi hambatan dan tantangan yang penting adalah mempelajari dengan baik yang ada di hadapan kita. Dalam kasus mendaki gunung, perlu dipelajari dan diketahui bahaya dan risiko dari tiap gunung. Dengan begitu, bisa sangat membantu menguatkan mental.




Motivasi Jadi Modal
Untuk pendakian menuju puncak Everest ini, dari enam anggota tim 7 Summits Indonesia hanya empat orang yang menyelesaikan pendakian, yaitu Nurhuda, Ardeshir, Iwan Irawan, dan Fajri Al Luthfi. Mereka berempat naik melalui jalur utara Tibet. Sementara dua teman lain yang melalui jalur Selatan (Nepal) mengalami kendala kesehatan dan hanya sampai di camp terakhir.

Nurhuda tidak mengingkari kalau bisa mendaki 7 gunung ini dipengaruhi pula oleh faktor keberuntungan. “Banyak orang yang sudah mencoba melakukannya dan tidak semuanya bisa sampai ke puncak. Ini juga yang membuat kami sadar kalau bisa sampai ke puncak itu kadang ditentukan oleh nasib. Ya, sudah waktunya memang sampai ke puncak.”

Tapi yang paling penting dari semua itu tentunya motivasi yang kuat. Sejak awal perjalanan ini mereka sama-sama punya tekad kuat. “ Naik gunung ini kami yang ingin. Tidak ada orang lain yang menyuruh. Risikonya ya kami tanggung sendiri. Kami tidak bisa menyalahkan orang lain bila terjadi sesuatu. Dengan motivasi masing-masing yang kuat, semuanya bisa terlalui,” pungkasnya.