Alih-alih bertahan di perusahaan yang menjanjikan kenyamanan, Ebbie Vebri Adrian memilih menjalani kata hatinya menelusuri keindahan alam Indonesia dan mengabadikannya dalam buku Indonesia: A World of Treasures.
Hobi Ebbie, sapaan akrabnya, sebagai pencinta alam dan membaca bukulah yang membawanya ke titik sekarang. Ia merasa tidak puas dengan minimnya literatur keindahan alam Indonesia yang beredar di pasaran. Ia mengeluhkan jarang ada orang Indonesia yang mengabadikan keindahan alam Indonesia dalam buku. Ebbie pun memutuskan untuk bertualang, mengabadikan keindahan alam dan budaya Indonesia.

Penuh Tantangan
Tidak mudah mewujudkan impian “liarnya”, apalagi ia juga mendapat pertentangan dari orangtua dan teman-temannya. Almarhum ayahnya, Adnan Amir, termasuk yang menentang ketika ia memutuskan untuk menjual aset perusahaan dan menguras tabungannya.
Tantangan berikutnya, pria kelahiran Sumatra Selatan ini belum memahami dunia fotografi. Latar belakang pendidikannya pun ilmu komputer sehingga mengharuskannya belajar fotografi mulai dari nol. Hanya tekad kuat saja yang membuatnya memahami teknik fotografi, komposisi, dan pencahayaan dalam kurun waktu enam bulan.
Dalam pikiran Ebbie ketika itu, bukunya harus selesai, ia bahkan tidak peduli berapa lama waktu yang ia perlukan untuk belajar. Jika tidak selesai, semua yang telah ia lakukan akan sia-sia. “Saya sudah jual semuanya, dan akan sia-sia kalau tidak ada hasil akhirnya,” kenangnya.
Di awal petualangan Ebbie pada tahun 2005, faktor finansial menjadi tantangan berikutnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya tersebut juga untuk membeli perangkat pendukung seperti bodi kamera, lensa, sewa kapal, membeli peralatan, dan lain-lain. Beruntung, keluarganya masih mendukungnya secara finansial sehingga tantangan tersebut bisa dilewati.

Memahami Seluruh Proses
Ebbie berhasil menuntaskan karya perdananya selama sembilan tahun sejak ia memulai petualangannya pada tahun 2005. Tanggal 10 November 2014 bukunya diluncurkan untuk pertama kali dan menjadi fenomenal.
Hebatnya, pembeli buku ini tak hanya dari Indonesia. “Terbeli di 23 negara, di lima benua. Kenapa saya tahu? Karena saya menjualnya secara pribadi dan online,” terang pria ramah ini.
Indonesia: A World of Treasures diproduksi Ebbie sendiri. Total tercetak lebih dari 1.000 eksemplar. Ia melakukan sendiri kurasi foto, desain layout, sampai proses cetak. Semua ia lakukan agar tahu prosesnya dari awal sampai akhir karena ia ingin memotivasi semakin banyak fotografer lokal untuk ikut berkarya, membuat buku tentang kekayaan Indonesia dari semua provinsi.
Ebbie terus melanjutkan petualangannya. Sekarang ia sedang membuat buku tentang Kalimantan. Rencananya buku ini akan diberikan kepada 500 sekolah di lima provinsi Kalimantan. Ia ingin para siswa di pulau itu lebih mengenal khazanah dan potensi alam provinsi masing-masing. Pertengahan Maret ini ia akan terbang ke Kalimantan dan rencananya akan menghabiskan waktu kurang lebih tiga bulan di sana.
Ebbie melakukan semua ini untuk melaksanakan tujuan hidupnya , yaitu untuk berkarya. “Kita hidup harus bermanfaat, karena hidup hanya sekali. Apa pun bentuknya, kita harus bermanfaat, baik untuk orang lain, masyarakat, ataupun negara,” tutupnya.