Cagar Alam Ciharus, Bandung, Jawa Barat adalah salah satu kawasan yang terancam rusak karena tergerus aktivitas masyarakat sekitar dan pengunjung yang sekadar memuaskan hobi. Melihat kondisi memprihatinkan ini, Pepep Didin Wahyudin mendirikan komunitas #SaveCiharus. Pepep bersama komunitasnya menegur masyarakat yang beraktivitas di kawasan Hutan Lindung Kamojang, bagian dari Cagar Alam Ciharus. Tak terima dengan teguran Pepep, warga balik menyerang dengan dalih banyak pihak luar Ciharus yang sudah melakukan pengrusakan lebih dulu, bahkan lebih besar. Pepep sempat jadi bulan-bulanan masyarakat sekitar, bahkan ia mengaku sempat ada pernyataan warga bahwa darahnya halal untuk ditumpahkan. Kunjungan ke tokoh-tokoh masyarakat ternama di wilayah Ciharus pun mendapat penolakan keras.

Namun, pria kelahiran Bandung ini tak menyerah. Dengan iktikad baik, Pepep memberikan edukasi dan sosialisasi pelestarian alam terhadap warga sekitar selama kurang lebih dua tahun. Seminggu sekali tim #SaveCiharus merestorasi Ciharus. “Dari seringnya sosialisasi dan edukasi, mereka pun perlahan-lahan sadar akan pentingnya cagar alam,” ujar Pepep. Warga pun balik mendukung gerakan #SaveCiharus. Bahkan, tokoh masyarakat yang semula bersikap keras terhadap Pepep juga turut berpartisipasi melestarikan Ciharus. Pepep bisa sedikit bernapas lega karena kemudian pembalakan dan penyalahgunaan lahan jadi jauh berkurang.

Selamatkan Owa Jawa

Bagaimanapun, tak berarti tugas Pepep berakhir. Kerusakan Ciharus utamanya disebabkan kegiatan olahraga motor trail. Banyak tanah di kawasan Ciharus digerus untuk dijadikan lintasan sirkuit motor trail. Kegiatan ini sudah berlangsung selama belasan tahun, tepatnya sekitar tahun 2002, sehingga sudah banyak area yang dirusak.

Kerugian utama dari penggerusan lahan ini adalah tersingkirnya owa Jawa yang populasinya sangat langka. Berdasar penelitian Pepep, owa Jawa tak mampu bereproduksi ketika merasa tertekan atau stres. Karena itulah langkah penyelematan segera ia ambil, yaitu dengan menghentikan kegiatan komunitas motor trail di Ciharus.
Niat hati menyosialisasikan hasil penelitiannya, sayangnya reaksi yang ia terima sama saja dengan masyarakat sekitar pada awalnya. Banyak yang menolak, tak sedikit yang menantangnya berkelahi. Pria kelahiran bulan November ini mengaku sempat panik, tetapi ia berusaha tetap konsisten. Ia tidak takut karena tekad dan niatnya baik.

Pepep pun menawarkan diri bertandang dan bertemu ketua atau pimpinan komunitas motor trail. Untungnya, kunjungan Pepep disambut terbuka. Anggota komunitas-komunitas itu berasal dari kalangan berada dan cukup terpelajar sehingga tak sulit bagi Pepep untuk menjelaskan pentingnya merestorasi kawasan cagar alam. “Setelah mereka paham, kegiatan motor trail di Ciharus berkurang 99 persen,” tutur Pepep bangga. Bahkan komunitas-komunitas tersebut sangat mendukung Pepep dengan memberikan banyak fasilitas. Jalur-jalur motor trail ditutup dengan sekat sedimen yang membuat bekas tanah terbuka dapat dilintasi hewan-hewan.
Kini, kawasan Cagar Alam Ciharus sudah lebih baik dibandingkan dua tahun lalu. Selain masyarakat, tak kurang dari 30 komunitas membantu kampanye #SaveCiharus dan turut merestorasi kawasan ini. “Saya berharap makin banyak masyarakat yang paham pentingnya melestarikan alam karena imbasnya adalah ke masyarakat sendiri. Alam jangan hanya dijadikan ladang penghasilan saja, tapi juga harus dirawat dan dilindungi,” tutup Pepep.