Percayalah, perubahan harus dilaksanakan, bukan sekadar dipikirkan. Berbuatlah sesuatu, yang lebih baik, meski sepele sekalipun. Tidak usah memedulikan komentar orang karena kitalah yang melakukan perubahan untuk tujuan lebih baik, bukan mereka.
Misal, kita merasa berat badan berlebih, lantas kita berpikir untuk mengurangi berat badan dengan alasan kesehatan. Kita pun mulai melakukan kegiatan olahraga meskipun sifatnya ringan, seperti lari selama 30 menit atau senam. Berat badan kita pasti tidak akan turun dalam semalam. Tapi bila aktivitas tersebut dilakukan secara berkesinambungan dan konsisten, kita akan semringah mengukur berat badan kita dalam dua atau tiga bulan ke depan.

Contoh lain, cobalah lihat diri kita sendiri di posisi sekarang. Proses bertahun-tahun telah membawa kita ke posisi saat ini. Bertahun-tahun lalu, mungkin kita seorang pelajar, atau mahasiswa, yang nilai studinya terbilang biasa saja atau standar. Tapi lihatlah kita sekarang, mungkin kita sudah menjadi manajer, pejabat, direktur, atau bahkan menteri. Pernahkah kita membayangkan berada di posisi sekarang ketika masih menjadi pelajar? Posisi tersebut bisa diraih berkat perubahan yang kita lakukan, baik sadar maupun tidak.

Apakah ketika kita berpikir dua belas hari dari sekarang saya akan jadi menteri, lalu abrakadabra, keingingan kita langsung terkabul begitu saja? Tentu tidak, bukan? Kita harus menjalani proses, beradaptasi, dan melakukan perubahan untuk mengejar impian kita.
Itulah yang dimaksud perubahan, harus ada langkah atau keputusan yang diambil untuk memulai proses. Hasilnya belum tentu terlihat besoknya, bisa jadi dalam hitungan minggu, bulan, atau tahun ke depan.

Rasa tak sabar kadang membuat kita ingin perubahan terjadi secara sehingga kita mengambil langkah instan. Tapi percayalah, langkah instan tidak pernah berdampak baik, dibandingkan dengan langkah yang dilakukan secara konsisten. Intinya, sesuatu yang bersifat karbitan tidak pernah bertahan lama.

Proses perubahan juga kadang mengharuskan kita bergerak dari zona nyaman. Tapi inilah inti dari perubahan. Zona nyaman tidak pernah membuat kita melangkah maju. Sebaliknya, zona tersebut tak jarang justru membuat kita ketinggalan.
Satu hal yang mesti digarisbawahi, perubahan adalah sesuatu yang tetap, sehingga sampai kapan pun kita harus bersiap menghadapi atau melakukan perubahan.

Ingatlah, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya. Apa artinya? Artinya nasib ada di tangan kita, bukan di tangan pemimpin, presiden, ataupun direktur. Bila kita merasa tidak puas terhadap kondisi sekarang, maka ciptakan kondisi yang menurut kita lebih baik dan dampaknya bisa dirasakan lingkungan sekitar.
Ingat pula untuk tidak membandingkan perubahan yang kita lakukan dengan yang telah orang lain lakukan. Setiap orang mempunyai pola pikir, cara penerapan, dan hasil yang berbeda-beda, meskipun tujuannya sama. Kita bukan dia, dan dia bukan kita. Jadi, yakinlah dengan apa yang kita putuskan.

Bila terjadi kesalahan atau kegagalan, jangan patah semangat. Perbaikilah selama proses perubahan itu terus berjalan. Rival abadi dan terberat dalam melakukan perubahan adalah diri kita sendiri, bukan kompetitor atau faktor eksternal lainnya. Percayalah pada proses, jalankan secara konsisten. Hasil akhir yang manis dari kesinambungan proses suatu waktu akan kita nikmati. Mari berubah!