Ricky Elson dikenal sebagai salah satu pengembang mobil listrik di Indonesia, yaitu Tuxuci, Selo, dan MPV (Multi-Purpose Vehicle) listrik Gendhis. Ia salah satu dari serangkai putra petir—ahli kelistrikan—Indonesia. Tiga lainnya adalah Mario Rivaldi, Dasep Ahmadi, dan Danet Suryatama. Menteri BUMN Indonesia periode tahun 2011, Dahlan Iskan, meminta kontribusi Ricky Elson bagi Indonesia.

Sayang, proyek mobil listrik nasional itu tidak berjalan mulus. Berbagai faktor menjadikan Tucuxi dan Selo berakhir sebagai monumen mobil listrik. Padahal, jenjang karier cemerlangnya di Jepang rela ia tinggalkan demi bisa memajukan Indonesia. Ia tinggalkan fasilitas laboratorium dan sarana lengkap yang memungkinkannya membuat apa pun. Bahkan saat diminta kembali ke Jepang karena tenaga dan pemikirannya masih dibutuhkan, Ricky lebih memilih untuk berdayaguna di Indonesia. Ia bercita-cita membangun kincir angin murah untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah terpencil.


Apalagi profesornya di Jepang, Izumi Ushiyama, berpesan padanya bahwa teknologi kincir angin akan dibutuhkan di masa depan. Teknologi ini akan semakin andal dan menuju kapasitas super-raksasa. Kebutuhan akan teknologi kincir angin didorong oleh kepentingan industri baru untuk pemenuhan ekonomi negara maju dengan label "Renewable Energy Industry". Pemilik teknologi ini nantinya akan menguasai dunia ini.

Profesor Izumi Ushiyama menyesalkan bahwa di dunia ini dengan 7 miliar lebih manusia di dalamnya, 70%-nya hidup di negara berkembang dan 30% dari 7 miliar manusia ini masih belum menikmati peradaban elektrik. Sang profesor bermimpi menerangi mereka dengan kincir-kincir angin kecil karena mereka tak akan mampu membeli yang besar. Impian inilah yang memotivasi Ricky untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin.

Cita-cita ini menampakkan titik terang sekitar tahun 2012 ketika ia menemukan Dusun Lembur Tengah, Desa Ciheras, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pria kelahiran Sumatera Barat ini yakin kincir angin besutannya bisa diuji dan dimanfaatkan secara optimal di lingkungan tersebut. Ia juga bersemangat untuk menyalurkan ilmunya di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan ke pemuda-pemuda Indonesia agar bisa dimanfaatkan di kemudian hari.

Di sini, dia mengundang pemuda Indonesia untuk turut mengembangkan teknologi termasuk kincir angin hingga pertanian dan peternakan. Dari sebuah bangunan semi-permanen dia mulai semangatnya untuk melahirkan kincir angin berukuran kecil dengan harga terjangkau guna menerangi daerah-daerah terpencil yang belum bisa menikmati listrik. Pusat riset ini ia namakan Lentera Angin Nusantara. Lentera Angin Nusantara jadi tempat ideal bagi para mahasiswa yang ingin belajar soal cara kerja kincir angin, mendesain bilah, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, 100 mahasiswa dari berbagai daerah termasuk Ternate, Kendari, Alor, Makassar, Lombok, Kalimantan, Jawa, Padang, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Lampung mewarnai bumi Ciheras. Tahun 2013 ia berhasil membuat 100 kincir angin di Desa Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dengan sumber daya angin, desa-desa tersebut menikmati kemajuan dunia yang bernama peradaban elektrik.

Beternak domba juga menjadi salah satu cara yang dilakukan Ricky agar bisa memberi manfaat kepada masyarakat. Pelan-pelan, dia melibatkan masyarakat setempat untuk ikut beternak domba. Ricky sadar betul secara ekonomi banyak masyarakat di Ciheras yang kesulitan beternak domba. Dia pun melakukan berbagai upaya agar masyarakat mau berpartisipasi dan bisa meningkatkan standar hidupnya. Sejak tahun lalu, Ricky memiliki program bernama tabungan kurban.


Program ini menawarkan kesempatan kepada masyarakat yang ingin kurban, tapi bisa dicicil dengan harga disesuaikan bobot domba kurban. Domba-domba yang masuk program kurban itu tidak hanya mencakup domba di kawasan Lentera Angin Nusantara, tapi juga domba milik warga sekitar. Kini, Ricky dan lembaga miliknya perlahan bisa memberikan manfaat positif bagi masyarakat sekitar sekaligus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai visinya, Lentera Angin Nusantara memang dibuat untuk memupuk dan menanamkan rasa percaya diri pemuda-pemuda Indonesia.