Hati siapa yang tak hancur ketika mendengar dirinya divonis menderita lupus. Itulah kenyataan yang harus Sinta Ridwan hadapi sejak tahun 2005. Setelah vonis itu, suka tak suka perempuan kelahiran 11 Januari 1985 harus rutin menjalani terapi. Padahal ketika itu ia tengah semangat menata hidup, menuntut ilmu dan membangun mimpi layaknya teman-teman seusianya.

Tak ingin larut dalam kekecewaan, Sinta bangkit melawan penyakit yang belum ada obatnya tersebut. Menurutnya, obat paling ampuh melawan lupus adalah perasaan bahagia. Untuk itu, ia coba meraihnya dengan semangat dan optimistis membangun masa depannya.

Setelah menamatkan kuliah S1 Sastra Inggris di STBA Yapari ABA Bandung tahun 2007, ia mengambil master di Jurusan Filologi Universitas Padjadjaran, Bandung. Filologi yang mempelajari naskah kuno menjadi pilihan perempuan yang gemar membaca ini karena sesuai dengan passion-nya mempelajari ilmu-ilmu mulai dari antropologi budaya, penerjemahan, sastra kuno, semiotik, hingga filologi sendiri.

Menurutnya, warisan leluhur ini akan musnah begitu saja bila tidak ada lagi yang berminat mempelajarinya. Dengan terjun ke dunia filologi, ia ingin membuka cakrawala pengetahuan mengenai aksara masa lampau.

Mengajar Aksara Kuno
Di Filologi, Sinta memilih mempelajari aksara Sunda, Jawa-Cirebon, dan Arab. Hebatnya, Sinta tak ingin menyimpan pengetahuannya untuk diri sendiri. Itulah alasannya membuka kelas Aksakun yang mempelajari aksara kuno.

Berawal setelah Sinta menguasai dasar filologi, ia kerap diajak sharing pengalaman dan mengenalkan ilmunya di satu komunitas di Bandung. Kemudian beberapa kawan meminta Sinta mengajar aksara, khususnya aksara Sunda, mengingat mayoritas partisipan berasal dari kota-kota di Jawa Barat.

Siapa sangka, kelas Aksakun mendapat sambutan luar biasa. Banyak teman-teman Sinta yang mendukung. Salah satunya komunitas Bandung Death Metal Syndicate, yang juga ikut belajar bersama dan menyebarkan informasinya. Hingga akhirnya kelas Aksakun resmi berjalan untuk kali pertama, yakni awal Agustus 2009 di Jalan Kyai Gede Utama, Bandung.

Kelas Aksakun yang ia bina mengajak pesertanya mempelajari aksara dari satu periode ke periode lain. Metode pengajarannya yaitu belajar membaca dan menulis aksara kuno tanpa harus mencontek rumusannya.
Sinta Ridwan


Peta Interaktif Aksara Kuno
Selain menyelenggarakan Kelas Aksakun, Sinta juga melakukan perburuan dan penyelamatan aksara kuno. Ia berkeliling sendiri ke berbagai daerah di antaranya Sumatra Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lombok, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Papua Barat.

Menurutnya, peninggalan naskah kuno di Nusantara jumlahnya bisa sampai ribuan bahkan ratusan ribu. Sementara itu, terkait dengan usaha penyelamatan naskah kuno, Sinta memiliki cara sendiri.

“Saya tidak menyelamatkan naskah kuno secara fisik. Namun saya membuat proyek pendataan bagi naskah kuno yang saya kaji aksaranya secara khusus untuk dimasukkan ke peta interaktif berbentuk website aksakun.org. Situs jejaring ini sudah pre-launch September 2013 di Unpad, Bandung,” paparnya. Dari peta itu bisa diketahui penyebaran aksara, bentuknya, hingga sejarahnya.

Kelak situs tersebut diharapkan bisa bermanfaat bagi orang-orang dari latar belakang beragam agar dapat mengakses, melihat, membaca, dan mengunduh untuk berbagai kepentingan, sekaligus memberikan kesempatan kepada yang belum pernah menggeluti naskah kuno untuk bisa kenal dulu dengan aksara kuna.

Hingga saat ini, peta digital tersebut memang belum 100% rampung. Sinta pun berharap peta digital ini bisa segera selesai sehingga ia dapat berkeliling lagi mengunjungi tempat penyimpanan naskah kuno lain untuk kembali memotret dan membuat film dokumenternya.

Tentang pesannya kepada generasi muda yang ingin melakukan perubahan, Sinta menjawab, “Belajar dari masa lalu, untuk dilakoni di masa sekarang dan menghadapi masa depan. Perubahan berasal dari cara pandang dan berpikir. Ibaratnya, kita berani melawan arus sungai atau kalau bisa membuat jalur arus sungai sendiri, atau membersihkan arus sungai yang sekarang sedang kotor-kotornya,” tutup perempuan yang saat ini juga tengah disibukkan dengan proyek mengenai perkopingopian di Wilayah III Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu, Brebes, dan Tegal.