Siapa tak kenal Presiden RI ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie. Tokoh nasional ini terkenal akan prestasinya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta berkontribusi besar terhadap industri penerbangan. Dalam perjalanan karier di Indonesia, Habibie sempat melahirkan pesawat terbang karya anak bangsa yang dinamakan N250 alias Gatotkaca. BJ Habibie adalah satu contoh dari betapa banyak orang Indonesia yang mempunyai prestasi mendunia.

Minatnya terhadap ilmu  pengetahuan sudah terlihat sejak usia sangat belia. Habibie kecil selalu terpesona melihat karya manusia, entah itu alat transportasi seperti sepeda, mobil, sampai prasarana transportasi seperti jembatan dan sebagainya. Dalam benaknya selalu bertanya-tanya mengapa dan bagaimana bisa terjadi. Rasa ingin tahunya sangat tinggi.

Dia kerap bertanya tentang apa pun di luar pengetahuannya kepada siapa pun di dekatnya. Ayahnya  membelikan buku untuk menjawab keingintahuan Habibie. Dia pun terbiasa menjelajah buku untuk mencari jawaban pertanyaannya hingga menjadikannya kutu buku. Dia sering menyendiri menghabiskan waktu untuk menganalisis, tak berhenti berpikir.

Namun sayang, Habibie harus kehilangan ayahnya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena serangan jantung. Duka yang mendalam membuat ibunya menjual rumah dan kendaraan mereka kemudian memboyong anak-anaknya pindah ke Bandung. Sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya. Dengan kemauan kuat untuk belajar, Habibie menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School (SMA) Bandung dan prestasinya menonjol terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta.



Setelah tamat SMA tahun 1954, dia kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Tak sampai selesai sebab dia mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliah di Jerman. Beasiswa ini mengikuti pesan Presiden Soekarno tentang pentingnya penguasaan teknologi yang berwawasan nasional, yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Pemerintah Indonesia di bawah Soekarno gencar membiayai ratusan siswa cerdas Indonesia untuk bersekolah di luar negeri. Habibie memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH). Sejak awal Habibie hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi rakyat Indonesia yang menjadi ide Soekarno ketika itu. Dari situlah muncul perusahaan-perusahaan strategis, salah satunya IPTN.

Tiba di Jerman, Habibie bertekad untuk sungguh-sungguh belajar dan harus sukses, mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Musim liburan bukan liburan baginya, melainkan diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Habibie mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5.

Habibie melanjutkan studinya untuk meraih gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen. Tahun 1962 dia menikah dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian bertempat tinggal di Jerman. Hidupnya pun makin keras, pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat pengeluaran. Malam hari ia belajar untuk kuliahnya. Ibu Hasri Ainun Habibie pun harus mengantre di tempat cuci umum untuk mencuci baju demi menghemat uang.

Habibie mengungkapkan tidak mudah menjadi seorang genius dan pintar. Butuh kerja keras dan ketekunan menjalani itu semua. Semenjak lahir Habibie mengakui cuma butuh tidur empat jam, selebihnya digunakan untuk mempelajari apa pun yang memancing keingintahuannya. Dia selalu mengingatkan untuk terus berpikir secara rinci dan positif.

Cita-cita besar dan kecintaannya terhadap Indonesia membuat ia pulang kembali ke Tanah Air untuk mengabdi pada negara. Di Indonesia, Habibie menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT selama 20 tahun, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis. Pada tahun 1995, Habibie berhasil memimpin pembuatan pesawat N250 Gatotkaca yang merupakan pesawat buatan Indonesia pertama. 

Pesawat N250 rancangan Habibie kala itu bukan pesawat yang dibuat asal-asalan. Didesain sedemikian rupa oleh Habibie, Pesawat N250 sudah terbang tanpa mengalami dutch roll (istilah penerbangan untuk pesawat yang oleng) berlebihan. Teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan Habibie untuk 30 tahun ke depan.

Dia juga menghasilkan rumusan teori yang dikenal dalam dunia pesawat terbang, seperti Habibie Factor, Habibie Theorem, dan Habibie Method. Habibie Factor bisa menghitung keretakan atau crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia dijuluki "Mr. Crack".

Habibie menjelaskan salah satu keunggulan bangsa ini adalah sumber daya manusia. Indonesia juga memiliki beraneka budaya dan memegang teguh prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurutnya dasar ini penting bagi pengembangan sumber daya manusia saat ini. Kebudayaan, agama, dan pendidikan akan menghasilkan manusia beriman dan bertaqwa selain memahami iptek.

Bacharudin Jusuf Habibie berpesan untuk semua bangsa Indonesia bahwa kita harus menjadikan diri kita unggul. Untuk jadi unggul, kita harus tingkatkan produktivitas. Untuk meraih produktivitas tinggi, kita harus bisa bersinergi positif dengan tiga elemen penting yaitu memegang teguh ajaran agama yang kita yakini, membawa dan merealisasikan budaya bangsa yang kita miliki, dan memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni.