Sifat malas banyak dihindari karena dicap sebagai penghalang kesuksesan. Padahal, tidak selamanya sifat malas merugikan. Adakalanya sifat malas berguna untuk memprovokasi otak mencari jalan termudah menghadapi persoalan. Pikiran yang lelah akibat stres perlu pula dikendurkan dengan bermalas-malasan selama beberapa waktu. Kitalah yang harus pintar memanfaatkan sifat malas untuk memacu produktivitas



Sifat malas memacu kita mencari cara paling efektif dan efisien.
Bill Gates pernah berkata, "Saya memilih orang malas untuk melakukan pekerjaan paling berat, karena orang malas akan menemukan cara termudah untuk menyelesaikannya." Cara ini memang lebih efektif dan efisien! Rasa malas akan menuntut kita untuk tidak berlama-lama terjebak dalam tekanan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya. Otak akan berusaha mencari cara tercepat menyelesaikan pekerjaan itu dengan hasil memuaskan. Tak jarang, sifat malas ini justru memicu suatu solusi kreatif sehingga tidak perlu bekerja keras atau mengeluarkan tenaga ekstra.


Sifat malas memacu kerja secara cerdas.
Bekerja dengan baik tak harus selalu bekerja keras. Jangan forsir tenaga untuk mengerjakan banyak hal setiap hari. Alih-alih bekerja keras, cobalah bekerja cerdas untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat sehingga bisa menyisakan waktu untuk bermalas-malasan. Waktu bermalas-malasan ini bisa dimanfaatkan untuk beristirahat atau memanjakan diri. Otak pun lebih segar dan siap bekerja kembali.


Bermalas-malasan membantu meregangkan otak agar kembali produktif.
Bekerja secara berlebihan bukan jaminan produktivitas. Jika kita tak lagi bersemangat menjalani rutinitas sehari-hari, mungkin kita terserang mental block, yaitu kondisi saat kita tidak bisa melanjutkan pekerjaan akibat pikiran yang jalan di tempat atau otak buntu.
Bermalas-malasan sejenak seperti istirahat atau tidur siang sebentar akan membantu mengurai mental block. Lakukan apa pun yang bisa membuat diri tenang, nyaman, dan segar kembali. Cara ini ibarat isi ulang kekuatan otak.


Sifat malas memacu kreativitas
Kreativitas dan ide-ide segar akan jauh lebih mudah datang saat kita bermalas-malasan dan beristirahat daripada saat kita sibuk. Kehabisan ide adalah imbas dari mental block. Beristirahat sejenak seraya menonton video-video lucu di YouTube bisa mengembalikan kesegaran pikiran.


Bermalas-malasan sama dengan menghormati diri sendiri yang sedang berjuang mencapai kesuksesan
Kita terbiasa menghargai jumlah jam yang kita habiskan untuk beraktivitas, belajar maupun bekerja, tanpa menghiraukan hasil pekerjaan kita. Kita mementingkan kuantitas daripada kualitas. Padahal, tidakkah percuma jika kita hanya memikirkan "aku sudah kerja dari pagi hingga malam" bukannya "seberapa baik yang aku hasilkan sejak pagi hingga malam"? Jika kita bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas dalam waktu singkat, maka kita berhak menghadiahi diri dengan bermalas-malasan.


Orang malas bisa menjadi pemimpin terbaik
Pemimpin tentara dan ahli strategi Jerman pada Perang Dunia II, Helmuth Karl Gernhard Graf von Moltke, mengatakan bahwa orang pintar yang malas adalah kriteria pemimpin terbaik. Sementara itu, orang bodoh yang malas akan menjadi pelaksana tugas terbaik.


Helmuth mengatakan orang bodoh yang aktif bekerja keras adalah orang yang paling berbahaya karena akan sering salah menginterpretasikan tugas. Dalam sejarah tercatat bahwa mereka yang bisa mengubah dunia dengan inovasi-inovasinya adalah orang-orang dengan sifat dominan malas. Namun, waktu malas mereka digunakan untuk berpikir, bukan cuma tiduran di kasur saja! Jika kita malas tapi ingin sukses, maka kita harus ada di tingkat tertinggi, yaitu menjadi orang pintar.