Pada 2010 silam, tercatat kurang lebih 5.000 toko buku di dunia menutup usahanya. Kondisi ini tentu menjadi perhatian Gramedia Store, dahulu bernama Toko Buku Gramedia.
Menurut Corporate Secretary PT. Gramedia Asri Media Yosef Adityo, pada tahun 2010 banyak orang beralih ke e-book sehingga penjualan buku cetak menurun. Jajaran manajemen Toko Buku Gramedia, yang mempunyai 100 outlet di seluruh Indonesia pun segera mengadakan rapat untuk menemukan solusi terbaik.
Tak hanya membentuk tim internal, manajeman Toko Buku Gramedia bahkan menggunakan jasa konsultan marketing manajemen untuk menciptakan konsep toko buku yang berbeda dari konsep sebelumnya dan sesuai dengan perubahan ataupun orientasi pasar.
Dari situlah kemudian tercetus konsep Gramedia Store dengan tiga bidang bisnis berbeda, yaitu food and beverages, stationery store, dan kids store. Setelah itu, diusulkan pula konsep yang mengutamakan experience user. Diterangkan Yosef, dengan menggabungkan kedua konsep tadi, harapannya setiap konsumen yang datang ke Gramedia Store selalu mendapatkan pengalaman baru yang membuat mereka ingin kembali ke situ.

Memorable Gramedia Store
Dalam aplikasinya, desain interior toko-toko buku Gramedia yang tadinya hanya memajang buku kemudian diubah. “Kita mengambil benchmark satu toko buku di Taiwan. Tokonya sangat besar dan di dalam toko itu terdapat berbagai macam ruangan. Setiap ruangan merepresentasikan segmen yang berbeda,” jelas Yosef.
Dengan konsep baru tersebut, kini di setiap Gramedia Store dibuat pembagian ruang atau chamber berdasarkan beragam tema tapi saling berkaitan, seperti Writing Boutique Chamber yang menyediakan pena eksklusif dari beragam merek internasional, berdampingan dengan New Arrival & Best Seller Chamber yang berisi buku-buku pilihan dari deretan penulis terkenal.
Kemudian Fancy and Stationery Chamber yang disediakan khusus untuk memajang beragam kebutuhan remaja, tas, pernik dan alat tulis menarik, bersisian dengan Sport Chamber yang menampilkan peralatan olahraga dan kesehatan populer.
Selain itu, ada juga Kids Chamber, yang menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak mulai dari buku dongeng, buku aktivitas, mainan, dan aksesori. Area ini dilengkapi dengan panggung yang dapat digunakan untuk beragam aktivitas.
“Konsep yang diusung adalah nyaman, playful adventurous, dan memorable, agar setiap pengunjung yang datang mempunyai kesan yang menyenangkan terhadap Gramedia Store,” terang Yosef.


Perubahan Gaya Layanan

Tidak terbatas di konsep dan tampilan toko saja, sejak 2011 perubahan menyeluruh juga dilakukan di dalam organisasi Gramedia Store. Yosef menjelaskan hampir seluruh struktur dirancang ulang untuk menyokong konsep baru tadi. Departemen-departemen yang tadinya tidak ada diciptakan untuk melengkapi existing department guna memastikan bisnis Gramedia Store terus berkembang.
Salah satu departemen baru itu adalah branding department. Departemen ini diciptakan, seperti diuraikan Yosef, karena tidak sekadar mengganti logo, Gramedia Store juga menciptakan brand identity “baru”.
Dalam penerapannya, brand identity ini termasuk mengatur dan membudayakan pola dan perilaku layanan baru kepada setiap karyawan Gramedia Store (brand behaviour). “Cara menyapa konsumen, pendekatan ke konsumen, semuanya diubah agar konsumen lebih betah dan merasa nyaman selama di Gramedia Store,” lanjutnya.
Hasil perubahan ini berpengaruh terhadap kondisi penjualan yang meningkat. Secara pendapatan misalnya, bila dibandingkan dengan kondisi di tahun 2010, Gramedia Store meraih pendapatan yang lebih baik di tahun 2016. Persentasenya pun seimbang antara penjualan buku dan nonbuku.
Gramedia Store terus memperluas ekspansinya dengan membuat gerai-gerai baru di Aceh, Medan, dan Cikupa.