Delapan tahun silam, tepatnya Januari 2009, Amerika menciptakan sejarah ketika Barrack Hussein Obama dilantik sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat. Ia menjadi Presiden Amerika pertama yang berkulit hitam.

Terpilihnya Obama tidak hanya mendobrak pandangan politik yang selama itu berlaku di negeri Paman Sam, tetapi juga memengaruhi kondisi politik dan sosial di hampir seluruh belahan dunia.

Menilik ke belakang, angin perubahan telah Obama embuskan bahkan ketika ia masih dalam masa kampanye. Dengan keinginan mengubah negaranya menjadi lebih baik, Obama menggunakan kata ‘change’ dan ‘hope’ sebagai tema kampanyenya. Salah satu pernyataannya yang menarik dan diyakini membangun semangat warga Amerika untuk berani berubah (dan memilihnya) adalah “change will not come if we wait for some other person or some other time. We are the ones we’ve been waiting for. We are the change that we seek”.

Obama membuka pikiran warga Amerika untuk melakukan perubahan dari diri sendiri pada saat itu juga. Tidak perlu menunggu orang lain, karena mereka sendirilah yang harusnya mereka nantikan untuk melakukan perubahan.

Lebih jauh, Obama juga mengajak orang untuk memperkuat dan meningkatkan hubungan dengan Tuhan. Ia percaya kebaikan seseorang sangat bergantung kepada keyakinan dan keimanannya.



Bertumbuh Secara Bertahap
Namun, bagaimana kita dapat melakukan perubahan seperti yang disampaikan Obama jika resolusi untuk berubah sering tidak bertahan lebih dari beberapa hari? Bagaimana kita bisa membuat motivasi bertahan lama? Bagaimana kita menjaga momentum perubahan tersebut terlaksana seterusnya?

Setelah termotivasi untuk berubah, cobalah memikirkannya dalam beberapa tahapan, dimulai dari yang termudah dan sederhana. Kita lebih cenderung gagal jika melakukan sesuatu yang terlalu besar dan drastis pada tahap awal.

Setelah tahap awal terpenuhi, jangan berhenti berkembang. Meski hanya mengambil satu langkah kecil, tetaplah fokus pada hasil akhir yang ingin dicapai. Konsistensi juga penting. Pertumbuhan yang stabil perlu dilakukan secara bertahap.

Kita ambil contoh memperkuat dan meningkatkan hubungan dengan Tuhan, seperti yang disampaikan Obama. Bagi “pemula”, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memperdalam kitab suci. Riilnya, dimulai dengan berkomitmen membaca kitab suci lima menit sehari. Jika sudah konsisten melakukan hal tersebut, tingkatkan komitmen dengan menambahkan waktu membaca, misalnya menjadi 15 menit sehari.

Harapannya, dengan semakin memahami kitab suci, kita juga dapat mengayomi dan mengamalkannya di kehidupan dengan melakukan kebajikan setiap hari.



Not Easy but Possible
Di bawah kepemimpinan Obama, AS berhasil bangkit dari resesi ekonomi. Dibandingkan masa sebelumnya, Amerika berhasil membangkitkan industri otomotifnya, meningkatkan lapangan pekerjaan, hingga menjamin kesehatan dan kesejahteraan masyarakat miskin yang sebelumnya lebih banyak tersisihkan.

Perubahan besar itu tidak dilakukan dalam sekejap, tetapi setahap demi setahap selama delapan tahun masa kepemimpinannya. Itu pun setelah berjibaku dengan segala tantangan dan hambatan dari kelompok politik yang senantiasa menentangnya.

Meski sudah menjadi presiden sebuah negara adidaya, pria kelahiran Agustus 1961 ini sadar sepenuhnya bahwa perubahan tidak mudah, tapi ia yakin change is never easy but always possible.

Setahap demi setahap hingga akhirnya mencapai hasil yang ditujunya.