Bagaimanapun kondisi anak ketika terlahir di dunia, satu hal yang harus disadari bersama adalah anak merupakan generasi penerus yang mungkin suatu saat akan menjadi pemimpin di negara ini. Oleh sebab itu, anak-anak harus mendapatkan pendidikan memadai dan tercukupi gizinya agar kondisi fisiknya selalu prima.
Sayangnya, kondisi ideal seperti mendapat pendidikan layak dan gizi memadai belum dapat dirasakan semua anak di dunia. Tapi adanya kesenjangan justru memberi beberapa anak di dunia motivasi untuk berjuang sehingga mampu keluar dari penderitaan.
Hebatnya, perjuangan yang dilakukan oleh anak-anak tersebut sering mengejutkan dan bahkan di luar dugaan banyak orang. Tidak heran bila dunia mencatat keberhasilan beberapa anak mengubah dunia. Siapa sajakah mereka?
Inovasi
Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari kejadian yang dialami sendiri atau kejadian di sekitar mereka. Contohnya kejadian yang menimpa Yash Ghupta. Pada tahun 2010, saat Yash berusia 17 tahun, kacamatanya pecah mengakibatkan seluruh kegiatannya selama beberapa hari terganggu.
Yash kemudian berusaha mencari data terkait pentingnya peran kacamata bagi anak-anak di seluruh dunia. Hasilnya, lebih dari 12 juta anak di dunia membutuhkan kacamata. Dari sini timbullah ide untuk menciptakan Sight Learning, sebuah lembaga yang mengumpulkan kacamata untuk didonasikan kepada anak-anak dan remaja. Dengan usahanya tersebut, Sight Learning berhasil mengumpulkan 20 ribu kacamata dan diberikan kepada anak-anak dan remaja di 5 negara.
Kisah Adele Ann Taylor lain lagi. Saat usianya 13 tahun, ia tersadar banyak teman sekelasnya yang belum lancar membaca. Bukannya mengejek atau menertawakan, gadis asal Kenya ini tergerak mendirikan organisasi untuk membantu kesulitan teman-temannya dalam membaca.
Lalu lahirlah lembaga bernama Adele’s Literacy Library (ALL). Tujuan lembaga ini sangat sederhana, yaitu menolong anak-anak Kenya agar segera mampu membaca. Dalam perkembangannya, ALL tidak hanya membuat 25.000 anak menjadi bisa membaca, tetapi juga memberikan beasiswa SMA dan mendonasikan buku pelajaran. Bahkan, ALL juga turut membangun beberapa sekolah di Kenya.
Perjuangan
Kepedulian anak-anak dalam berbagai hal pada akhirnya bisa membuka mata dunia ini tidak melulu berlaku bagi mereka yang memiliki fisik sempurna. Anak-anak yang terlahir dengan kondisi tidak sempurna pun memiliki andil cukup besar karena kegiatan mereka sanggup memberikan makna pada dunia.
Alex Scott dan Nkosi Johnson adalah dua malaikat kecil yang terlahir kurang beruntung. Alex terlahir sebagai penderita neuroblastoma, yaitu kanker pada sistem saraf yang umumnya menyerang pada masa kanan-kanak. Sementara Nkosi Johnson terlahir dengan nama Xolani Nkosi. Ia terlahir dengan virus HIV/AIDS sudah berada di dalam tubuhnya karena sang ibu adalah penderita positif penyakit mematikan ini.
Alex Scott menjadi terkenal karena di usia 4 tahun memiliki kebiasaan menjual minuman lemon. Uniknya, kegiatan ini dilakukannya bukan untuk menghimpun dana bagi pengobatan dirinya tapi ia malah mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke rumah sakit anak di Philadelphia. Kegiatan ini membuat Alex mendirikan “Alex Lemonade Stand”, sebuah organisasi yang menginisiasi penelitian terhadap kanker saraf.
Perjuangan Alex yang lahir pada 18 Januari 1996 ini harus berakhir pada tahun 2004. Ia meninggal dunia. Duka sudah pasti dirasakan oleh siapa pun yang mengenal sosoknya. Tapi ia meninggalkan dunia dengan jejak yang tak akan dilupakan. Melalui organisasinya, nama Alex dikenang karena berhasil mendonasikan 6,5 triliun rupiah untuk penelitian terhadap penyakit kanker saraf.
Kisah Nkosi berawal ketika di usia 3 tahun ia diadopsi oleh Gail Johnson, seorang aktivis HIV/AIDS di Afrika Selatan. Saat mulai masuk usia sekolah, Gail mendaftarkan Nkosi ke Melprak Primary, sebuah sekolah di Johannesburg. Sayangnya, sekolah tersebut menolak kehadiran murid yang mengidap HIV/AIDS. Kisah penolakan ini menjadi berita luar biasa dan menjadi perhatian dunia.
Penolakan ini tak membuat Nkosi bersedih. Ia bersama ibu angkatnya kemudian membuat semacam rumah penampungan bagi mereka yang memiliki kisah serupa dengan Nkosi. Bahkan hingga ia meninggal di usia ke-12 pada tahun 2001, rumah penampungan ini masih tetap memberikan pelayanan dan terus menanamkan kesadaran agar memberikan hak yang sama kepada penderita HIV/AIDS.
Sebuah tamparan kepada dunia diutarakan Nkosi saat opening ceremony The 13th International AIDS Conference di Dublin, Irlandia. Setelah menceritakan latar belakangnya, dalam kalimat penutup ia menyatakan, “Care for us and accept us—we are all human beings. We are normal. We have hands. We have feet. We can walk, we can talk, we have needs just like everyone else. Don't be afraid of us. We are all the same!”