Kondisi seperti inilah yang pernah dialami Desa Brau – Batu di Jawa Timur. Desa Brau menjadikan ternak sapi sebagai pekerjaan utama. Dari jumlah 60 kepala keluarga, terdapat 200 sapi lebih. Tak heran, sepanjang jalan desa ini dipenuhi kotoran sapi yang berbau tak sedap. Karena kondisi alamnya yang bertebing, kotoran itu terbawa air ketika hujan dan meluber ke halaman rumah atau ke jalanan. Kotoran berceceran karena peternak tidak memiliki penampungan dan pengolahan kotoran sapi.
Kondisi lainnya, Desa Brau dulunya berudara sejuk dengan kawasan hutan cukup lebat, lahan pertanian kentang dan wortel juga luas. Kondisi ini berubah karena penduduk setempat suka memotong tanaman sebagai kayu bakar. Penggunaan tabung gas yang dicanangkan pemerintah pun kurang efektif karena mereka sudah terbiasa menggunakan kayu bakar. Akibatnya, Desa Brau menjadi gersang dan gundul.
Mengolah Kotoran Sapi
Kini, kondisi ini berhasil diubah oleh Yuli Sugihartati. Tahun 2013, Sarjana Peternakan Universitas Brawijaya Malang ini diminta oleh LSM Yayasan Alam Bumi Lestari (Yabule) yang bergerak di bidang konservasi alam dan pemberdayaan masyarakat untuk mencari kawasan yang lingkungannya mulai rusak dan berupaya memberdayakan masyarakat untuk melakukan penyelamatan. Terpilihlah Desa Brau.
Bersama Yabule dan aparat desa, Yuli mengajari warga mengolah kotoran sapi perah menjadi biogas dan bio slurry menggunakan reaktor. Masyarakat Brau mendapat bantuan dari berbagai pihak untuk pengadaan pertama reaktor, termasuk uang patungan dari teman-teman LSM. Tepat pada Februari 2014 dibelilah satu reaktor yang ditempatkan di rumah salah satu warga.
Warga Rela Mengeluarkan Uang Sendiri
Proses pembuatan biogas ini cukup sederhana. Peternak mengumpulkan kotoran sapi yang kemudian dimasukkan ke lubang mirip sumur kecil. Kotoran lalu dicampur air dengan perbandingan satu banding satu. Di atas sumur terdapat alat pengaduk kotoran sapi hingga hancur. Dari sini kotoran dimasukkan ke reaktor berbentuk tabung yang ditanam di dalam tanah. Tabung ini hampa udara dan terdapat mikroorganisme yang berfungsi mengubah gas metan menjadi energi.
Gas disalurkan melalui pipa ke dapur dan disambungkan ke kompor setiap rumah. Sementara itu, ampasnya (bio slurry) yang sudah tidak mengandung gas metan keluar di saluran yang berbeda. Ampas ini setelah diproses bisa dijadikan makanan ternak cacing dan pupuk organik. Dengan cara ini, masyarakat tidak perlu lagi menebang kayu atau membeli gas elpiji.
Saat ini di Desa Brau sudah ada sembilan reaktor berukuran 6 m3 dan satu berukuran 12 m3. Kalau dulu Yuli harus melakukan pendekatan lewat ngobrol sambil ngopi hingga pukul 12 malam untuk menggerakkan masyarakat memanfaatkan biogas, kini warga sudah sadar keuntungan menggunakan biogas. Bahkan, warga rela membayar reaktor dengan cara mengangsur.
Satu reaktor ukuran 6 m3 dan pemasangannya menghabiskan biaya sekitar 10 juta rupiah. Satu reaktor bisa digunakan untuk dua rumah dengan penggunaan setiap rumah selama tiga jam. Namun meskipun masyarakat bersedia membayar, Yuli dan Yabule tetap berusaha mencari dana bantuan agar masyarakat tidak terbebani. Masyakat hanya menanggung setengahnya, sisanya pihak Yabule yang mencarikan dana bantuan.
Hanya dengan sapi, Desa Brau sudah bisa memberdayakan diri mereka sendiri. Sapi tidak hanya memproduksi susu tapi kotorannya pun bisa diolah menjadi sumber energi dan pupuk. Desa Brau merupakan bukti bagaimana siklus alam bisa dimaksimalkan dengan baik. Sesuatu yang tidak berguna bisa diolah sehingga memberikan keuntungan lebih.