Panasnya lintasan sirkuit, raungan mesin yang memekakkan telinga, ceceran oli, hingga persaingan yang keras, dan rawan kecelakaan membuat dunia balap cenderung lebih identik dengan dunia laki-laki. Meskipun begitu, Indonesia punya beberapa pembalap wanita ternama, salah satunya Diandra Gautama yang juga terkenal di dunia hiburan.
Diandra terlahir dari keluarga pembalap. Sang ayah, Candra Gautama, adalah pembalap mobil nasional yang pernah berjaya pada masanya. Meski terlahir dalam lingkungan otomotif, tidak ada yang menggiring atau memaksa Diandra untuk terjun ke dunia ini. Ia sendirilah yang tertarik dengan dunia balap.
Diuraikan Diandra, keinginannya menjadi pembalap sudah muncul dari usia sangat belia, dan makin menjadi sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Menurutnya, memacu mobil dengan kecepatan tinggi itu seru.
Gender Tak Membatasi
Lahir dan besar di antara lingkungan pembalap tak berarti Diandra langsung memiliki kemampuan balap. Pengalaman pertamanya dalam dunia balap tak langsung berjalan mulus. Diandra muda melintir dan mengalami kecelakaan lumayan berat. Mobilnya melaju mundur setelah melintir dan menghantam pagar pengaman sirkuit. Perlu dipahami, tabrakan dalam posisi melaju mundur lebih bahaya karena pengemudi tidak tahu kondisi di bagian belakang mobil.
Setelah kecelakaan, Diandra sempat mengalami trauma dengan mobilnya. Namun hanya berlangsung singkat. Ia hanya butuh satu jam untuk mengusir traumanya. Setelah itu, ia justru penasaran dan ingin segera kembali turun di lintasan balap.
Selain kemampuan yang belum terasah betul, tantangan lain pun dihadapi Diandra di awal kariernya. Di luar lintasan tak sedikit ia diremehkan, baik oleh sesama pembalap maupun masyarakat umum. Karena faktor gender, mereka meragukan kemampuan membalap Diandra.
Namun begitu, Diandra tetap teguh dengan pilihannya. Ia terus berlatih dan rajin mengikuti kejuaraan nasional (kejurnas) balap yang kerap diselenggarakan di Indonesia.
Hasil perjuangannya berbuah manis ketika di tahun 2013 ia menjadi juara umum event balap Indonesian Series Of Motorsport. Ia berhasil memenangkan balapan enam kali berturut-turut.
Mentor Perempuan di Event Internasional
Sekian lama menekuni balapan kelas touring, Diandra mengaku sedang coba-coba balap di kelas lain saat ini. Meski kotor dan berlumpur, off road, speed off road, dan drifting menjadi pilihan lain wanita yang mengidolakan pembalap F1 Lewis Hamilton ini. Tujuannya supaya skill balapnya makin terlatih.
Diandra juga sedang menekuni balap drifting karena lebih menantang. Tantangannya adalah bagaimana mengendalikan mobil yang sedang meluncur menyamping pada kecepatan tinggi.
Pengakuan terhadap skill balap Diandra belakangan ini disematkan oleh Nissan. Perempuan penggemar tarian hip hop ini didaulat menjadi brand ambassador sekaligus mentor tim Indonesia untuk ajang Nissan GT Academy 2016. Ajang ini bertujuan mencari bibit-bibit muda calon pembalap nasional dengan metode balapan virtual, alias dengan game console.
Akhir Oktober tahun lalu Diandra baru saja kembali dari Inggris, menunaikan tugas sebagai mentor tim Indonesia di event Nissan GT Academy 2016 di Sirkuit Silverstone. Hampir dua pekan Diandra menemani 6 pembalap Indonesia di Inggris. Hebatnya, Diandra menjadi satu-satunya mentor perempuan di event balap internasional yang diikuti Australia, Thailand, Filipina, Afrika Utara, dan Meksiko.
Perjuangan dan keberhasilan Diandra membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih prestasi terbaik di bidang apa pun, tak peduli gendernya.
Menurutnya, yang terpenting adalah tekad dan kemauan serta passion. Dengan gairah dari diri kita sendiri, tanpa sadar kita akan punya tekad kuat (untuk berhasil) meskipun sudah jatuh berkali-kali atau terhalang berbagai rintangan.