Wanita kelahiran Ciamis tahun 1987 ini tak pernah menyangka akan mendapat predikat Top 300 Young Leader Asia dari Forbes pada tahun 2016, yang kemudian disusul sederet penghargaan lain baik dari dalam maupun luar negeri. Namun mencapai kesuksesan tersebut bukan perkara mudah, ia harus menitinya dari paling bawah.
Demi melanjutkan pendidikan dan mengejar karier sebagai guru, Heni rela menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebagai pengasuh bayi di Hong Kong. “Satu tahun pertama sangat berat bagiku. Belajar memahami bahasa, budaya, juga ritme kerja di Hong Kong yang seolah tak pernah berhenti berdenyut. Meski tenggelam oleh pekerjaanku, aku tetap mengingat mimpiku, kuliah dan menjadi guru,” cerita Heni.

Penghasilan dari profesi pengasuh bayi, ia kumpulkan untuk membayar kuliah di Saint Mary’s University, Hongkong. Tahun 2011, Heni lulus sarjana dengan nilai cumlaude. Setelah cita-citanya menjadi sarjana tercapai, Heni pulang ke Indonesia. Sebenarnya, kesempatan untuk bekerja di Hong Kong dengan gaji yang lebih besar sangat terbuka untuknya, namun panggilan jiwa kembali ke kampung halaman dan mencerdaskan anak-anak di kampungnya saat itu menjadi cita-cita terbesarnya



Gerakan #AnakPetaniCerdas
Tiba di kampung halamannya, Heni menangis sedih. Tak ada yang berubah dengan kampungnya. Jalanan tanah gundul yang dilewati sejak SD masih saja sama. Teman-teman bermain telah menua dengan banyak anak, tetapi kehidupannya tak lebih baik dari orang tua mereka. “Berbekal buku-buku yang kubawa segera kudirikan perpustakaan di rumah orang tuaku. Perpustakaan pertama di kampung ini,” tambahnya.

Heni pun berdiskusi dengan suami, Aditia Ginantaka. Dari situ digagaslah langkah mendidik dan memberikan pendampingan belajar bagi anak-anak petani miskin. Aksi ini ia namakan Gerakan Anak Petani Cerdas.
Awalnya gerakan ini diselenggarakan di Kampung Sasak dengan jumlah siswa 15 orang. Kemudian bersama suaminya, Heni menyelenggarakan kegiatan serupa di Kampung Jampang. Ia memanfaatkan saung milik petani untuk belajar setiap pekan bersama lebih dari 50 anak petani.

Metode pendidikan yang digunakan adalah Fun Learning By Doing. Anak-anak diajak belajar dengan bermain kuis ataupun permainan edukasi lainnya sehingga mereka mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan memahami bahwa belajar itu penting bagi mereka.

“Ada 3 pelajaran penting dalam kurikulum sederhana ini. Pertama, Kemampuan Linguistik (berbahasa Inggris), Kemampuan Literasi (baca-tulis-diskusi), dan yang ketiga adalah kemampuan mengasah Logika, seperti pelajaran matematika, bisnis, dan lain-lain,” tambahnya
Setahun berjalan, kegiatan dan program Gerakan Anak Petani Cerdas semakin banyak, hingga akhirnya dibentuklah komunitas Agroedu Jampang. Komunitas ini fokus membantu keluarga petani, keluarga TKI, keluarga penambang pasir, dan keluarga dhuafa pada umumnya. Komunitas ini memiliki empat program besar, yakni pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan social emergency.

Kegiatan yang dulunya hanya diprakarsai oleh Heni dan suaminya kini sudah menjadi gerakan bersama banyak rekan yang tersebar di lima benua. “Mereka membantu mendanai kegiatan-kegiatan kami seperti memberikan beasiswa untuk lebih dari 400 anak petani, membantu warga kampung yang sakit untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, mendirikan toilet sehat di kampung-kampung, membangun instalasi air bersih dan sumur bor bagi warga yang kesulitan air, memberikan modal usaha kepada kelompok tani dan kelompok wanita tani yang kita dirikan, bahkan memberdayakan para pemuda kampung dan relawan dalam program Pemuda Wirausaha,” jelas Heni kembali.

Program komunitas ini yang awalnya hanya di Kabupaten Bogor saja kini penyebaran penerima manfaatnya sudah sampai di 10 kabupaten seperti: Kabupaten Bogor, Ciamis, Bandung, Banjar, Tasikmalaya, Majenang, Indramayu, Cirebon, Bekasi, Pekalongan, hingga Pulau Lombok dan Sumbawa.


Jaladara
Disinggung tentang Jaladara, Heni menjelaskan saat memulai debut menulis di Hong Kong tahun 2005, ia menggunakan nama pena Jaladara. Nama ini terinspirasi dari sepur klutuk Jaladara.

Nama kereta inilah yang senantiasa menjadi filosofi hidupnya. Ia bilang ingin hidup yang hanya sekali dan singkat ini seperti kereta. Sekali jalan tetapi bisa membawa serta bergerbong-gerbong orang bersamanya.

“Saya ingin sukses, tetapi juga menyukseskan mereka. Mulai dari anak petani cerdas, keluarga petani, TKI, keluarga pemulung, pemilah sampah, hingga keluarga penambang pasir. Supaya mereka dapat hidup mandiri dan layak. Inilah harapan hidup saya,” pungkas Heni.