Tanggal 7 Juni 2015 sulit dilupakan pencinta dan pelaku motorsport, khususnya pencinta balap roda dua. Pembalap andalan Indonesia berhasil menjuarai seri kedua Asia Road Racing Championship (ARRC). Sambil mengendarai motornya dengan kecepatan rendah, ia menyapa penggemarnya yang berada di tribun penonton Sirkuit Internasional Sentul.

Dari arah belakang, Jakkrit Sawangsat, pembalap dari Thailand, tetap melaju motornya dengan kecepatan tinggi. Sepertinya Sawangsat tidak menyadari bahwa balap telah selesai. Tanpa bisa dihindari, tabrakan antara pembalap Indonesia dengan pembalap Thailand terjadi.

Pembalap Indonesia tergeletak, pun begitu dengan Sawangsat. Tragisnya, pembalap Indonesia dengan nama M. Fadli itu pada akhirnya harus rela kehilangan sebagian kaki kirinya karena diamputasi. Si pembalap Thailand hanya luka ringan meski konon sempat mengalami trauma.

Mental Juara 
Keputusan berani terhadap nasib kaki kirinya sudah Fadli pikirkan dengan sangat matang dan penuh perhitungan untuk masa depannya. Ia memilih memulai hidup baru dengan menggunakan kaki palsu. Sebuah keputusan luar biasa dari seorang pria yang pada era kejayaan balap road race dijuluki raja road race Indonesia.

Menurut Fadli, perubahan yang dipilihnya memotivasi agar ia bisa beraktivitas kembali layaknya orang normal. Motivasi tambahan ia peroleh dari kelahiran buah hatinya yang hanya berjarak beberapa minggu setelah kecelakaan. Ia bertekad sudah mampu kembali jalan sebelum anaknya dapat berjalan.

Motivasi kuat menjadikan proses penyesuaian Fadli dengan kaki kiri palsu tidak membutuhkan waktu lama. Ia tak hanya bisa kembali berjalan layaknya orang normal, tetapi juga bisa mengendarai motor dan mobil meski harus mengubah dudukan transmisi.

“Semua proses adaptasi untuk kembali bisa normal tentunya menimbulkan rasa sakit, terutama karena otot-otot saya habis dan tak tersisa selama masa bed rest saya. Namun saya yakin, saya punya mental seorang atlet dan bisa berjuang,”tutur pria kelahiran Jakarta ini.

Tidak puas sekadar bisa mengendarai motor dan mobil, pria yang ketika balap motor selalu menggunakan nomor 43 ini ingin kembali berkompetisi. Ia mencoba mengayuh sepeda. Selain untuk mendapatkan fisik bugar, mengayuh sepeda adalah salah satu olahraga yang dahulu ia tekuni untuk menjaga stamina ketika masih menjadi pembalap motor.



Kembali Berkompetisi
Fadli telah berdamai dengan kondisinya. Mentalnya sanggup mengeluarkannya dari situasi terpuruk akibat kecelakaan parah dan menjadi acuan untuk kembali memotivasi diri. Tak heran bila semangat kompetisi di dalam dirinya kembali muncul meski dalam cabang olahraga berbeda.

Tekad kuat untuk kembali berkompetisi ditunjukkannya dengan berlatih serius. Semangat ini dilihat oleh pelatih sepeda Puspita Mustika Adya. Pelatih balap sepeda untuk Para Cycling ini melihat potensi yang dimiliki Fadli. Ia pun menawarkan bantuan. Dukungan agar Fadli kembali berkompetisi juga didapatkan dari ketua PB ISSI, Raja Sapta Oktohari.

Menurut Fadli upayanya ini merupakan sebuah ambisi dan mimpi. Walau dalam kondisi terpuruk, ia tak pernah melepaskan berbagai mimpi yang ada di otaknya. Selain bisa berjalan dan mengendarai kendaraan, ia memegang asa agar dapat berlari.

Kini, M. Fadli tak lagi dikenal sebagai raja road race Indonesia. Ia sedang memupuk harapan untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia dalam kayuhan sepeda.

Pria kelahiran 25 Juli ini mengajarkan bahwa keterpurukan bukanlah vonis keabadian. Setiap manusia bisa keluar dari balik bayangan dan kembali bersinar di bawah cahaya. Inilah M Fadli, sosok yang sangat menginspirasi dan menjadi salah satu teladan agar manusia berani berubah.