Lima tahun belakangan ini, gigs di alam terbuka ternyata sudah banyak digelar. Sebut saja Jazz Gunung, RRRec Fest, Jazz Pantai, Float2Nature, Summer and Rain Music Camping Festival, Freedom Festival, Ngayogjazz, dan Melodi Alam.

Pemilihan tempat di alam terbuka, tentu tak lepas dari kejenuhan dengan festival-festival musik yang sudah ada sebelumnya.
 
"Setelah saya keliling beberapa festival musik di Indonesia, rata-rata konsepnya festival berdiri. Ini kesempatan buat bikin sesuatu yang beda," ungkap Program Director Freedom Fest, Bimo Nugroho.

Selain jenuh dengan format festival yang itu-itu saja, pengalaman menonton konser yang beda juga menjadi tujuan digelarnya konser di alam bebas. Seperti Float2Nature yang digelar sejak tahun 2012, sukses menarik audiens yang ingin merasakan perjalanan menuju venue konser.

Menurut media relation, acara Float2Nature ini memang memiliki konsep untuk escaping dari kegiatan rutin sehari-hari, sehingga dibuatlah konsep traveling menuju venue konser. Pasalnya, selain musik, daya tarik alam seringkali jadi suguhan utama yang dicari oleh penonton konser camping seperti ini. Alam terbuka seperti Tanakita Camping (RRRec Fest), Gunung Bromo (Jazz Gunung), Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo (Float2Nature), Pantai Boom, Banyuwangi (Jazz Pantai), Bumi Perkemahan Cibubur (Freedom Fest), dan Hutan Pinus Cikole Bandung (Lalala Fest) dipilih sebagai venue konser.
 
Seperti misalnya Jazz Gunung yang digelar karena adanya kecintaan Sigit Purnomo, selaku penggagas event yang begitu mencintai music jazz dan gunung bromo. Begitu pula dengan Float2Nature saat perhelatan ketiganya di tahun 2014, mengambil tempat di Teluk Kiluan, karena daya tarik pantainya yang bersih.

Sampai sekarang, sensasi berbeda dalam menonton konser masih menjadi alasan utama digelarnya konser-konser rasa camping ini. Traveling experience menuju venue sampai pesona alam yang menjadi daya tarik, semuanya berujung pada sensasi berbeda.