Bagi masyarakat pedalaman yang teguh memegang aturan adat, membaca dianggap melawan aturan adat. Seperti dikisahkan Saur Marlina Manurung atau lebih dikenal dengan nama Butet Manurung, perintis dan pelaku pendidikan untuk masyarakat terpencil, di kegiatan #AkuBaca yang diselenggarakan oleh Kompas Gramedia tentang tantangan yang dihadapinya ketika merintis sekolah untuk Suku Anak Dalam atau Orang Rimba yang berada di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD).

“Orang Rimba sangat patuh terhadap hukum adat. Membaca atau sekolah dinilai sebagai hidup seperti orang luar, dinilai sebagai sebuah pelanggaran adat. Bahkan, ketika ibu saya datang dan mau dibonceng oleh Orang Rimba, mereka tidak mau karena tidak sesuai aturan adat. Wanita sangat dihormati oleh Suku Anak Dalam,” tutur Butet.

Satu permasalahan yang sering dihadapi oleh Orang Rimba adalah seringnya mereka tertipu daya orang asing (sebutan bagi orang dari luar Suku Anak Dalam) yang dengan seenaknya menebang pohon tanpa memikirkan dampaknya di kemudian hari. Kejadian ini menimbulkan kesimpulan bahwa Orang Rimba mengalami buta literasi.

Kepeduliannya terhadap Orang Rimba membuat wanita lulusan Antropologi Universitas Padjajaran ini tergerak untuk berbuat sesuatu. Salah satunya dengan datang ke pedalaman Suku Anak Dalam dengan misi mengajarkan baca-tulis terhadap anak-anak Orang Rimba.

Ikuti Kebiasaan
Tidak mudah awalnya untuk memberikan pendidikan baca-tulis kepada Orang Rimba. Namun semakin maraknya pembalakan liar, isu konversi lingkungan hidup, perebutan lahan, dan lainnya, mereka pun sadar bahwa baca-tulis menjadi solusi agar mereka terhindar penipuan atau pemerasan yang dilakukan ‘orang asing’.

Kesadaran dan keinginan untuk mempertahankan hutan yang mereka pelihara sejak dahulu menjadi salah satu resep keberhasilan Butet dalam membentuk sekolah yang dinamakan Sokola Rimba. Sekolah ini menekankan pendidikan tentang baca-tulis dengan tujuan agar masyarakat Orang Rimba dapat memahami akta perjanjian, proses jual-beli, hingga penentuan tapal batas hutan adat.

Uniknya, metode pembelajaran yang dilakukan mengikuti kebiasaan anak-anak Orang Rimba. “Mereka tidak bisa diajarkan seperti di sekolah formal yang ada kelas, bangku, dan meja. Karena hutan adalah kehidupan mereka, maka mereka belajar ada yang di atas pohon,” ujar wanita ramah ini.
“Mereka juga susah dikumpulkan. Kalau sekalinya kumpul dan proses belajar sedang berlangsung, lalu ada kelinci lewat, mereka pasti akan mengejar kelinci itu lalu kembali lagi ke kelas,” tuturnya lebih lanjut.

Kini, Sakola Rimba sudah mulai diminati. Kesadaran pentingnya baca-tulis agar Orang Rimba yang terkena tipu daya oknum yang ingin mengubah fungsi hutan bisa diminimalisir. Hebatnya lagi, ketertarikan menjadi kader penerus pun berjalan dengan sendirinya untuk semakin memasyarakatkan kemampuan baca-tulis.