Sekolah Rumah Dunia didirikan karena Heri Hendrayana Harris, nama asli Gola Gong, merasa tak puas dengan kondisi masyarakat Banten. “Jadi, sebenarnya Banten punya tradisi menulis yang bagus semenjak dahulu, kemudian terputus dan mulai dikenal dengan negatifnya, khususnya hal-hal mistis. Apalagi di generasi muda, istilah pelet makin marak. Hal-hal seperti itu yang membuat saya malu sebagai putra yang lahir di Banten,” urainya.
Berangkat dari rasa malu itu, Heri membulatkan tekad untuk menghapus citra negatif tersebut. Diungkapkannya, sejak itu ia berjanji kalau sukses jadi penulis, ia akan memudahkan anak-anak muda di Banten untuk bisa menulis. Letak geografis daerah Banten yang dekat dengan Jakarta tidak membuat wilayah Banten menjadi maju. Toko buku tidak ada, perpustakaan juga tidak ada.
Diawali dengan sering menjadi kontributor, menulis puisi dan novel, Heri perlahan-lahan menuai kesuksesannya. Ia pun mulai merintis mimpinya, yaitu tempat literasi terbuka, tempat orang bisa mendapatkan bacaan atau ilmu yang dicari.
Tempat literasi itu pertama-tama dibuka di ruang publik, trotoar hingga alun-alun, yakni tahun 1988 hingga 1993. Namun sempat muncul kejadian tidak mengenakkan. “Tempat sekaligus sekretariat saya diusir, beserta semua yang terlibat di situ,” sesalnya.
Ia mengambil hikmah dari peristiwa itu bahwa untuk membuat komunitas literasi harus memiliki markas atau basecamp terlebih dahulu.
Angkatan ke-29
Basecamp atau markas pertama Heri berada di halaman belakang rumah, dengan tanah seluas 1.000 meter. Diterangkannya, “Waktu itu lokasinya juga harus di situ karena terletak di antara dua kampus yang tidak mempunyai budaya menulis, yaitu UnTirta dan UIN. Sehingga saya dan teman-teman mencoba merintis tempat yang juga akan menjadi sekolah alternatif.”
Perkiraannya tepat karena perlahan-lahan mahasiswa dari kedua kampus itu mulai berdatangan ke tempatnya. Hingga tahun 2002, organisasi Rumah Dunia resmi dibentuk. Rumah Dunia memanfaatkan mahasiswa-mahasiswa yang ingin berbagi ilmu dengan orang lain.
Di sini, pola pengajarannya berbeda dengan pendidikan formal. “Teori diajarkan sebesar 30%. Kami mengajari menulis tapi bukan membimbing mereka menjadi seperti saya. Lebih seperti, ‘ini lho resepnya, nanti kamu bisa menjadi seperti apa yang kamu mau’,” urai Heri panjang lebar. Selain itu, agar ragam ilmu semakin lengkap, dosen-dosen tamu juga kerap diundang
Dari angkatan pertamanya, kini Rumah Dunia sudah mencapai angkatan ke-29. Para murid ini harus lulus dari Rumah Dunia dalam waktu 3 tahun. Berbeda dengan sekolah formal, kelulusannya berbentuk novel atau puisi.
Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus
Menurut Heri alias Gola Gong, literasi itu berdaya guna, punya nilai ekonomi yang sangat tinggi. Daya literasi yang tinggi bisa dimanfaatkan untuk berkarier, seperti menjadi penulis skenario film, bahkan bisa jadi jurnalis, tanpa perlu meninggalkan pendidikan formalnya seperti kuliah S1 atau S2. “Dan keuntungan dari literasi tinggi itu, mereka mempunyai keterampilan tambahan yaitu menulis, hal yang kadang dianggap remeh dalam dunia kerja,” sela pria berpostur tinggi ini.
Ke depannya, Heri ingin membuat sekolah untuk generasi muda berkebutuhan khusus. “Saya terinspirasi dengan sekolah yang bisa membebaskan murid didiknya untuk berkreasi. Sekolah yang bisa menjadi sarana kaum muda terutama yang berkebutuhan khusus. Bukan berkebutuhan khusus dalam hal fisik, namun dalam hal ekspresi,” terangnya.
Misalkan murid didiknya hobi dengan film, maka ikutlah kelas film saja, atau kalau hobi olahraga ya ikutnya kelas olahraga saja. “Saya ingin bikin sekolah seperti itu. Saya ingin anak-anak eksentrik itu bisa saya akomodir, saya wadahi,” pungkasnya.