Lapangan sepak bola di rumput desa Tulehu, Maluku Tengah, bukan lapangan yang layak. Rumputnya jarang, dibatasi kuburan, sudut-sudut lapangan bertebaran kotoran sapi. Namun lapangan itu adalah pabrik pesepakbola nasional.

Tulehu telah melahirkan nama-nama tenar pesepakbola nasional. Sebut saja Khairil Anwar (Persebaya), Imran Nahumaruri (Persija), Ajie Lestaluhu (PSM Makasar), Ramdani (Persija), Hasyim Kipuw (Arema Cronus), Akbar Lestaluhu (Mitra Kukar), Ricky Orela dan Hendra Bayau (Semen Padang), Ricky Sanjaya (Pelita Bandung Raya), Alfian Tuasalamony (Persija), dan banyak lainnya.

Tulehu sendiri punya pabrik-pabrik pesepakbola seperti Sekolah Sepak Bola (SSB) Tulehu Putra, SSB Maehanu, SSB Nusaina, SSB Samasuru Kabau, SSB Rindam Sumi, SSB Masariku, SSB Nusantara Masohu, SSB Tawiri, SSB Alba Batu Merah, dan SSB PPSM Ambon.

Tidak heran Tulehu dikukuhkan sebagai kampung sepak bola sejak 2015. Namun sejarah kampung sepak bola Tulehu sudah dimula jauh sebelum itu. Bahkan kerusuhan Ambon di awal abad milenium sempat mewarnai sejarah panjang persepakbolaan Tulehu.

Ambon 1999

Kerusuhan sosial di Ambon pecah pada 1999. Masa kelam itu merupakan sejarah hitam Maluku yang tidak patut dikenang oleh anak-anak muda. Tragisnya, bagi anak-anak laki-laki usia 9-15 tahun di Ambon dan sekitarnya, menonton kerusuhan merupakan kegiatan rutin tiap sore.

Adalah Sani Tawainela, mantan punggawa Timnas Indonesia U-15 di Turnamen Pelajar Asia 1996. Ia tidak ingin ingatan anak-anak Tulehu diisi konflik dan darah. Sepak bola pun menjadi media Sani untuk mengalihkan anak-anak Tulehu ke kegiatan yang lebih positif.

Awalnya aktivitas saban sore ini ditanggapi biasa saja oleh warga desa. Namun seiring berjalannya waktu anak-anak asuhan Sani akhirnya menunjukkan prestasi.
Tim Sani beroleh kehormatan sebagai wakil Maluku di turnamen sepak bola remaja tingkat Nasional. Dukungan tim Maluku yang berangkat ke Jakarta mengalir dari seluruh warga. Tidak peduli apakah Sani Muslim atau Nasrani, warga berharap banyak tim asuhan Sani mampu berbicara banyak di turnamen itu.

Meleburkan Perbedaan

Tim sepak bola Maluku yang heterogen, terdiri dari kaun Muslim dan Nasrani, secara langsung menjadi pemersatu. Masyarakat yang semula terpecah menjadi bersatu kembali demi menonton tim kebanggaan di stasiun televisi.

Tidak ada lagi Islam maupun Kristen ketika mendukung tim kesayangan yang tengah bertanding. Tim Maluku U-15 pun berhasil meruntuhkan tembok konflik agama pasca 1999.

Sekembalinya ke Tulehu tim ini disambut bak pahlawan. Sejak saat itu pula budaya sepak bola di Tulehu berkembang pesat. Bahkan di tengah keterbatasan dan keterpencilannya Tulehu berhasil menjadi pabrik sepak bola nasional.

Maluku dan Indonesia belajar dari kisah Tulehu. Tidak hanya melihatnya sebagai potensi daerah namun juga mengambil pesan moral lewat sejarahnya yang berdarah. Lewat langkah-langkah sederhana seperti sepak bola persatuan bisa dibangun.  Selain itu mimpi pemuda-pemuda kita tidak seharusnya dikotori oleh konflik dan intelorensi yang mendewakan emosi semata.