Hal inilah yang mengerakkan Mesty Ariotedjo untuk mendirikan WeCare.id, sebuah situs penggalangan dana (crowdfunding) bagi pasien kurang mampu, terutama yang berada di daerah terpencil.
Perempuan kelahiran 25 April 2025 yang berprofesi sebagai model dan dokter ini terinspirasi dari pengalamannya sendiri sebagai dokter ketika sedang magang di rumah sakit di Flores, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2012. Dilihatnya walau banyak penduduk terdaftar dalam program Jamskesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) tapi hanya sedikit yang sembuh. Kendalanya, pasien kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai, belum lagi masalah transportasi dan akomodasi saat dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar.
“Sebagai dokter, saya sering ‘geregetan’. Hal seperti ini amat menyulitkan, tak hanya bagi pasien, namun juga kami para pekerja medis. Kerja kami jadi terasa tak optimal, setengah-setengah. Bagaimana pasien bisa mencapai kesembuhan kalau mereka tidak mendapatkan akses yang mudah untuk itu?” ungkap Mesty.
WeCare.id
Bersama temannya, Gigih Rezki Septianto yang ahli IT, Mesty mendirikan WeCare.id pada Oktober 2015 yang diharapkan bisa memecahkan masalah kesehatan di daerah pelosok. WeCare.id bekerja sama dengan dokter di wilayah perifer untuk dihubungkan dengan para pasien yang membutuhkan layanan kesehatan. Dari situ pasien dapat memperoleh pengobatan dan fasilitas pendukung lainnya secara memadai.
Mereka juga bekerja sama dengan beberapa pihak seperti Dinas Kesehatan Bandung, jaringan rumah sakit Siloam, serta Uber untuk memudahkan pelayanan.
WeCare.id menggunakan sistem yang serba transparan. Calon donatur dapat melihat daftar dan informasi tentang pasien, memilih pasien yang ingin dibantu, lalu bisa memberikan bantuan dengan menyumbang dana mulai Rp25.000. Seluruh transaksi donasi yang dilakukan juga ditampilkan secara transparan di situs WeCare.id.
WeCare.id juga mendukung program JKN (jaminan kesehatan nasional) dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang mempermudah masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan memadai.
Masalahnya, sekarang ini masih banyak warga di daerah terpencil atau warga kurang mampu yang belum memiliki kartu JKN. Karena itu, WeCare.id siap membantu memfasilitasi warga untuk memproses kepemilikan kartu JKN serta membayarkan premi JKN pasien tidak mampu yang belum menjadi penerima bantuan iuran (PBI).
Mengatasi Ketidakpercayaan Publik
Membangun situs penggalang bukan usaha mudah. Dibutuhkan kepercayan masyarakat untuk mendonasikan uang mereka.
Awalnya WeCare.id hanya menangani enam pasien tidak mampu dengan kasus kecelakaan lalu lintas, bayi sesar prematur, diabetes mellitus, tumor leher, dan lainnya. “Setiap hari satu pasien tertangani. Tidak sampai enam hari seluruh pasien bisa tertangani dan terdanai. Dari situlah masyarakat mulai percaya kepada WeCare.id,” ucap Mesti.
Kendala lain, berkaitan dalam mencari investor. Banyak pihak yang menanyakan revenue atau profit dari gerakan ini. Padahal WeCare.id adalah gerakan nirlaba dan tidak fokus pada revenue. Kendala ini membuat mereka susah berkembang lebih besar karena keterbatasan dana.
Bagusnya, hingga kini WeCare.id telah mengumpulkan dana 1,4 miliar rupiah dari para donatur dan sudah membiayai hampir 200 pasien dari Sumatera hingga Papua. Tujuh bulan berdiri, banyak penghargaan yang juga telah diterima oleh tim WeCare.id, salah satunya Asia Social Innovation Award. Mesty sendiri mendapat penghargaan Forbes 30 Under 30 Asia untuk kategori healthcare and science.
Ke depannya, Mesty berharap WeCare.id dapat membantu semakin banyak pasien yang membutuhkan. Profesinya sebagai dokter sekaligus model dan figur publik dimanfaatkan Mesty untuk lebih dikenal sekaligus sering terekspos media. Dengan cara ini pula dia menggunakannya untuk mengedukasi masyarakat tentang kesehatan