Bagian belakang perahu ditempeli plakat besi berwarna kuning. Tulisannya terang berukir "Perahu Pustaka, Armada Pustaka". Perahu sederhana ini bukan sembarang perahu. Perahu yang dikelola M. Ridwan Alimuddin ini tengah menyusuri pesisir Sulawesi untuk membagi bacaan kepada anak-anak yang haus ilmu.

Jumat, 21 Mei 2017 pagi, Perahu Pustaka sandar di pesisir Polewali, daerah yang mungkin tidak pernah dibayangkan orang-orang Jakarta. Namun antusias siswa siswi SDN 006 Labuang di Kabupaten Polewali membuncah saat Perahu Pustaka sandar ke dermaga.

Langsung saja siswa yang kebetulan baru selesai mengikuti pelajaran olahraga melahap buku-buku bacaan yang dibawa Perahu Pustaka. Buku cerita bergambar dan komik laku keras di pesisir Polewali itu. Tak cuma siswa-siswi, para guru SDN 006 Labuang pun tak mau kalah membaca buku dari Perahu Pustaka.

Anak-anak membaca buku dengan cara berbeda-beda. Ada yang lantang, ada yang khusuk di sudut membaca buku favorit. Mumaijah, siswi kelas 6 SDN 006 Labuang, hobi membaca buku cerita rakyat. Ia sudah selesai melahap satu cerita rakyat dari NTB berjudul Putri Mandalika.

Minimnya Perpustakaan

Tidak ada perpustakaan di SDN 06 Labuang. Daerah-daerah lainnya di pesisir Sulawesi dipastikan memiliki wajah yang sama. Padahal antusiasme anak-anak pesisir untuk meneguk bacaan sangatlah besar.

Melihat hal inilah komunitas Armada Pustaka tergerak berlayar dengan Perahu Pustaka. Perpustakan bergerak ini memberi waktu setengah jam bagi para siswa untuk membaca buku. Setelah waktu habis Ridwan Alimuddin sang Koordinator Armada Pustaka memberi kuis kepada siswa-siswi sekolah.

Anak-anak ini dberi hadiah jika bisa menceritakan sinopsis buku ynag telah mereka baca. Beberapa siswa SDN 006 Labuang masih malu-malu berbicara di muka umum. Namun Ridwan sang koordinator menyemangati mereka untuk berani bercerita di depan teman-temannya. Menggunakan bahasa daerah Mandar, Ridwan antusias memotivasi mereka. Pemberian kuis ini diakui Ridwan sebagai trik untuk menarik minat baca anak-anak.

Dimulai dari Twitter
Ridwan punya kecintaan terhadap perahu dan buku. Kecintaan inilah yang mencetuskan ide untuk membuat Perahu Pustaka. Motivasinya untuk membawa buku-buku anak yang menyenangkan dan berwarna-warni ke desa nelayan dan pulau-pulau terpencil di seantero Sulawesi.

Pada Maret 2015 ide Perahu Pustaka ini dibawa ke diskusi kecil di Twitter. Ridwan pun menggalang dukungan bersama Nirwan Ahmad Arsuka, seorang budayawan dan penulis. Ridwan juga berdiskusi dengan Aan Mansyur, penyair yang melahirkan puisi-puisi Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta 2.

Ketiga orang ini pun sepakat menggunakan perahu tradisional Sulawesi yang nyaris punah, Baqgo. Perahu berjenis kargo ini punya manuver yang baik di perairan dangkal. Nama perahu itu pun Karaeng Pattinggalloang, diambil dari Perdana Menteri Kerajaan Gowa Tallo abad ke-17 yang sangat mencintai ilmu pengetahuan dan menguasai 7 bahasa asing.

Perahu Pustaka berlayar pertama kali ke Makassar, hadir di Makassar International Writers Festival (MIWF). Sejak itulah Perahu Pustaka dikenal publik dan memicu para dermawan untuk memberikan bantuan berupa buku.

Perahu Pustaka I telah mengarungi tiga provinsi, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Titik terjauh yang pernah ditempuhnya adalah Pulau Sagori, Kabaena, Kabupaten Bombana.

Tiap kali berlayar Ridwan membawa tiga pelaut untuk berlayar selama seminggu. Pelautnya dibayar Rp100 ribu per hari. Operasional lainnya berupa BBM dan logistik selama melaut.

"Kita harus perhatikan anak-anak pulau. Speerti di pulau Sagori itu, anak-anak Bajo tidak pernah lihat buku-buku berwarna," ungkapnya.

Saat ini Ridwan tengah berupaya membangun Perahu Pustaka III. Pengerjaanya dicicil mengingat biaya yang mencapai Rp 60 juta. Belum lagi Perahu Pustaka III ini dirancang berkapasitas lebih besar dari dua pendahulunya.

Ada pengalaman Perahu Pustaka I terbalik pada 13 Maret 2016. Penyebabnya karena kelebihan muatan. Hampir semua warga di pantai berkerumun berupaya menyelamatkan mereka dan ratusan buku yang basah.

Jangan Menyerah Perahu Pustaka. Teruslah berbagi pengetahuan di seluruh pesisir Nusantara!