Derasnya arus perkembangan teknologi dan gawai membuat anak-anak semakin asyik dengan perangkat digital dan “lupa” permainan tradisional. Mohammad Zaini Alif miris melihat kondisi ini. Menurutnya, permainan tradisional memuat banyak nilai baik kehidupan.

 

Pria kelahiran Subang ini pun mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari dan meneliti permainan tradisional di seluruh Nusantara semenjak 1996. “Saya dari S1, S2, dan S3 mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan permainan tradisional Indonesia,” jelasnya.

 

Kehidupan Kang Zaini—sapaan akrabnya, memang tak bisa dilepaskan dari permainan, ini terkait dengan masa kecilnya. Ia harus menempuh jarak sekitar 5 km untuk menuju sekolah, dengan waktu perjalanan 1,5 jam karena berjalan kaki. Untuk mengusir bosan selama perjalanan berangkat maupun pulang sekolah, Zaini kecil kerap bermain di jalan.

 

Sejak saat itu, jiwa bermain Kang Zaini selalu dibawa hingga lulus kuliah: ketika ia kuliah Desain Produk di Itenas, menjalani program pascasarjana di Institut Teknologi Bandung, hingga ia melanjutkan S3 di universitas yang sama.

 

Menurut penelitian Kang Zaini, permainan dan mainan memiliki definisi berbeda. Mainan adalah sesuatu yang dimainkan dan tidak berakhir dengan kalah atau menang, sedangkan permainan mengandung aturan, hukum, dan orientasi menang dan kalah.

 

Tak ingin permainan tradisional menghilang akibat perkembangan teknologi, Kang Zaini mendirikan arena bermain anak bernama Komunitas Hong. Tujuannya satu, yaitu mengajarkan dan melestarikan aneka permainan tradisional.

 

Beragam Nilai Permainan Tradisional

Kang Zaini mulai merintis Komunitas Hong pada tahun 2003 dan diperkenalkan kepada anak-anak pada tahun 2005. Berlokasi di kawasan Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat, arena bermain ini menyediakan aneka permainan tradisional yang bisa mendidik perilaku anak.

 

Kang Zaini merasa anak-anak masa kini harus diperkenalkan dengan permainan tradisional untuk lebih membangun karakter mereka masing-masing. Permainan tradisional juga mengajari mereka beragam nilai budaya Indonesia.

 

Dengan mengenal budaya lebih dalam, “Maka kita akan semakin tahu sejarah dan jati diri bangsa Indonesia. Dengan mengenal jati diri, maka kita tidak mudah terpengaruh dengan maraknya isu-isu negatif, terutama di masa sekarang,” jelasnya.

 

Menurutnya, apabila kita tidak sadar kekayaan budaya sendiri, maka kita akan selalu meniru budaya negara lain. Inilah ancaman bagi kelestarian budaya Indonesia. Padahal, Zaini mengungkapkan, ada sekitar 2.600 permainan tradisional dari seluruh Nusantara.

 

Selain sarana bersenang-senang, permainan tradisional dapat menjadi media yang efektif mengajarkan pola pikir dan perilaku yang baik bagi anak-anak. Misalnya saja, seperti disampaikan Zaini, anak-anak dapat mempelajari bagaimana cara bekerja sama dan mengatur strategi, menabung, dan nilai-nilai lainnya.

 

Lebih jauh lagi, salah satu pemahaman yang dapat diperoleh anak-anak dari permainan tradisional  adalah menerima perbedaan untuk mencapai tujuan yang sama dan keceriaan, bukan sekadar kemenangan. Artinya, meskipun peran kita berbeda dalam suatu permainan, tetapi kita harus bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Anak-anak pun akan mampu mengabaikan perbedaan dalam upaya mencapai tujuan bersama.

 

Untuk membuat anak-anak lebih tertarik, Kang Zaini banyak menyisipkan hal-hal masa kini dalam permainan tradisional. Bentuknya beragam, misalnya dari faktor visual permainan, alat-alat yang digunakan, dan sebagainya. Hal-hal berbau masa kini familier dan dekat dengan kehidupan anak-anak sehingga membuat mereka tertarik. Rasa penasaran anak-anak pun terpancing karena permainan tradisional adalah hal baru bagi mereka, pungkas Zaini.

 

Facebook: Zaini Alif

IG : zainialif

Youtube: zaini alif