Riau mulai mengenal olahraga panahan semenjak SD kelas 4, jadi sudah 14 tahun ia berkecimpung di olahraga ini. Riau mengikuti kejurnas pertamanya di tahun 2005, dan berhasil menyabet 4 gelar emas. Dari sini, kemampuan Riau dilirik oleh salah satu pelatih panah dari Surabaya, Denny Trisyanto.
Denny yang juga pelatih di PLPP Surabaya menawarkan diri untuk mengasah kemampuan Riau. Sayangnya, pada awalnya Riau merasa berat ketika harus pindah ke Surabaya dari tempat kelahirannya, Blitar. Saking beratnya, Riau sempat menangis dan kesulitan menyesuaikan diri. Namun sang ibu terus mendukung anaknya, hingga Riau merasa ini jalannya dan memilih menjalaninya.
Prestasi Demi Prestasi
Pada tahun 2006, Riau mulai mengikuti kejuaraan internasional, disusul tahun 2007 mengikuti Asian Youth Championship di Taiwan. Meski masih dengan biaya sendiri, tetapi berkat dukungan sang ibu, Riau dapat menjajal kemampuannya di kejuaraan tersebut.
Prestasi perdana ia raih ketika mengikuti ajang Asian Grand Prix di Filipina. Ia meraih peringkat ketiga. Ia sempat juga mendapatkan 1 emas, 3 perak, dan 1 perunggu di Kejuaraan ATM Malaysia Terbuka. Selanjutnya, mahasiswa Universitas Narotama itu sempat tampil di kejuaraan panahan dunia 2011. Empat tahun selanjutnya, ia juga turun di nomor recurve putra dan beregu.
Riau juga sukses meraih medali perunggu di ajang Piala Dunia Panahan yang berlangsung di Shanghai China pada bulan Mei. Medali perunggu direbut pada nomor individu recurve. Prestasi apik juga ditorehkan Riau ketika berlaga di SEA Games 2015 Singapura. Riau berhasil meraih medali perak di nomor beregu recurve putra bersama Muhammad Wijaya dan Hendra Purnama. Lalu, di nomor recurve campuran bersama Ika Yuliana Rochmawati berhasil menyabet medali emas.
Melatih Fokus dan Kesabaran
Dalam perjalanannya menjadi atlet, Riau cukup banyak mengorbankan hal-hal yang harusnya ia nikmati di masa muda. Mulai dari jauh dari keluarga, hilangnya waktu bermain, hingga harus tertinggal pendidikannya dari teman-teman seangkatannya. Tetapi meski banyak mengorbankan hal-hal primernya, Riau tetap yakin dengan pilihannya sebagai atlet. Ia berprinsip kalau mau jadi atlet yang sukses mesti ada yang dikorbankan.
Olahraga panahan juga mengajarkan Riau untuk selalu fokus dan melatih kesabarannya. Latihannya pun berat karena panahan lebih mengutamakan kekuatan mental dan pikiran yang fokus. Efek positifnya, Riau menjadi lebih sabar dan semakin bisa mengontrol dirinya.
Menurutnya, olahraga panahan menjadikannya dapat berpikir lebih positif, baik untuk diri sendiri, orang lain, maupun hal-hal lainnya. Tak ayal, mentalnya pun menjadi lebih kuat dan tenang sekalipun dalam tekanan tinggi.
Terbukti di ajang Olimpiade 2016 ketika ia mengalahkan Kim Woo-Jin, atlet panahan nomor satu dunia, 8 Agustus silam di Brasil. Meskipun di awal pertandingan ia tertinggal satu set game dari Kim, ia selalu meyakinkan diri untuk tetap tenang. Kala itu ia tidak berpikir untuk mengalahkan Kim, namun ia lebih memilih fokus menenangkan dirinya agar bisa tampil optimal.
Fokusnya pikiran dan mental membuat Riau bisa mengalahkan Kim dalam tiga set berikutnya. Ia menang dengan perolehan angka 28-27, 27-24 dan 28-27.
Untuk ajang Olimpiade ini, Riau memang memotivasi diri untuk bisa tampil dan menunjukkan performa maksimal, salah satunya dengan menambah latihan fisik, dan melatih mental. Riau juga selalu menantang diri untuk menaiki level yang lebih tinggi lagi. Hasilnya, kini Riau menjadi salah satu atlet paling berprestasi di Indonesia.