Usia Abah Ugi terbilang muda, baru 32 tahun. Kelahiran Sukabumi, 16 Oktober 1985. Tapi di usianya tersebut, ia sudah memegang tanggung jawab besar sebagai Kepala Adat Kasepuhan Banten Kidul yang berpusat di Ciptagelar, sebuah wilayah yang masih menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat.
Kasepuhan Ciptagelar adalah desa adat yang sangat menjaga tradisi dan sangat patuh aturan leluhur. Warga Desa Ciptagelar biasa disebut sebagai masyarakat Kasepuhan. Masyarakat wilayah ini mayoritas bertani, walau ada pula beberapa yang berdagang.
Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, menuju desa adat ini bisa ditempuh melalui jalan darat yaitu Pelabuhan Ratu – Cisolok atau Pelabuhan Ratu – Desa Sirnaresmi. Mungkin Anda membayangkan kehidupan mereka yang begitu tradisional. Namun kenyataannya, Desa Ciptagelar adalah desa adat yang sangat akrab dengan teknologi seperti Internet, radio, dan televisi.
Otodidak
Terisolasi dan terpencil bukan berarti jauh dari teknologi. Abah Anom Ugi Sugriana Rakasiwi-lah yang membawa seluruh sisi modern ke daerah ini. Abah Ugi bukan hanya dikenal masyarakat sebagai Sesepuh Girang (Pemimpin Adat), tetapi ia juga yang mendekatkan sisi tradisional dengan perkembangan dunia.
Saat kami berkunjung ke Desa Ciptagelar beberapa waktu lalu, Abah Ugi tampak sibuk dengan perangkat elektroniknya dan tampak sedang mengutak-atik drone. Drone? Iya, pria yang menggantikan posisi sang ayah Abah Anom yang meninggal pada tahun 2007 tersebut memang penggemar elektronik.
Sedari kecil ia sangat tertarik dengan sesuatu yang baru. Termasuk ketika ia dihadiahi mainan oleh sang ayah. Biasanya, mainan tersebut akan dibongkarnya hingga ia mengetahui bagaimana mainan itu bisa bergerak. Tak heran bila seluruh mainannya hancur. “Saya dari kecil senang utak-atik. Mulai dari mainan sampai apa pun yang berbau elektronik,” ujarnya.
Ketertarikan terhadap elektronika terus tertanam hingga dewasa. Hebatnya, ia selalu mempelajari berbagai rangkaian atau sistem secara otodidak. Bahkan, karena dinilai memiliki talenta, ia sempat mendapatkan beasiswa untuk menimba ilmu di Jepang. Sayangnya, kesempatan itu urung dimanfaatkan karena tidak mendapat restu dari sang ayah.
“Tadinya sebenarnya saya ingin kuliah di ITB, tapi tidak dibolehkan ayah. Kata Abah, sekolah jangan jauh-jauh dari Ciptagelar. Maka dari itu, kesempatan untuk belajar elektronika ke Jepang juga tidak saya ambil karena saya adalah anak tertua dari pemimpin adat dan kelak akan menggantikan ayah. Karena itu juga saya belajar elektronika secara otodidak saja. Banyak trial and error sampai akhirnya bisa tahu prinsip kerja sebuah alat sekaligus menerapkannya untuk masyarakat Kasepuhan,” jelas Abah Ugi lebih lanjut.
Berkat tangan terampil Abah Ugi, pemandangan yang terlihat tradisional di Desa Ciptagelar berubah menjadi fenomenal ketika mengetahui bahwa desa ini memiliki stasiun televisi dan radio sendiri. Acara televisi dan radio diisi oleh masyarakat Kasepuhan yang umumnya berisi edukasi atau pengumuman untuk kegiatan tertentu.
Bahkan, meski berada di atas gunung dan harus berjuang cukup keras untuk sampai di Desa Ciptagelar, desa ini memiliki fasilitas Wi-Fi berkat kerja sama dengan salah satu provider telekomunikasi. “Awalnya saya membuat pemancar dengan memanfaatkan telepon selular. Saya cari frekuensinya yang sama dengan frekuensi seluler dan kemudian dimanfaatkan untuk Internet,” tuturnya.
Drone
Bisa dibayangkan kekagetan kami ketika berkunjung ke daerah terpencil ini dan melihat seseorang gemar bermain dengan perangkat yang dahulu hanya digunakan untuk keperluan militer.
“Ini drone DJI Phantom I. Model awal yang saya bongkar untuk mencari tahu bagaimana cara kerjanya. Tapi pada akhirnya drone ini saya manfaatkan untuk mengontrol daerah Kasepuhan Ciptagelar untuk melihat kondisi sekitarnya,” tukas pemimpin adat yang mulai memimpin sejak tahun 2007 ini.
Bukan hanya DJI Phantom 1 saja, Abah Ugi juga memiliki DJI Phantom 3 yang lebih modern. Mengenai kegemarannya terhadap drone, Abah Ugi bercerita, “Awalnya belajar dari drone yang murah dan bentuknya kecil. Setelah mahir dan mengerti caranya, baru menggunakan DJI Phantom.”
Satu hal yang ia jelaskan kepada kami terkait teknologi. “Pakai teknologi itu untuk membantu sesama dan bermanfaat bagi orang banyak. Abah pakai drone bukan buat apa-apa, tapi untuk memantau kondisi di sekitar Ciptagelar. Drone ini juga bukan milik Abah seorang, tapi nantinya harus ada orang lain yang bisa menggunakan drone untuk mendukung kegiatan warga Kasepuhan,” kata Abah mengakhiri perbincangan dengan kami.
Abah mengenalkan teknologi terbaru tanpa meninggalkan budaya dan tradisi. (*)