Pada buku kenangan Sekolah Dasar, Gamal Albinsaid kecil menuliskan cita-cita menjadi dokter. Menurutnya, langkah kaki seorang dokter seperti malaikat penyembuh. Karena itu, selepas Sekolah Menengah Atas, pria kelahiran 8 September 2025 ini melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang pada tahun 2007.
Diceritakan dr. Gamal, di balik prestasinya menjadi dokter, ada peran penting sang ibunda. “Saya bersyukur dibesarkan ibu yang senantiasa menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan kepedulian. Ibu saya menasihatkan, lakukan semua karena Allah.”
Nasihat itu kerap terngiang di kepalanya sehingga membuat dr. Gamal selalu ingin berbuat kebaikan terhadap sesama. Alhasil, ia menemui ratusan hingga ribuan pasien dari kalangan orang kurang mampu selama perjalanan kariernya.
Klinik Asuransi Sampah
Titik awal langkah sosial dr. Gamal adalah perjumpaannya dengan Khaerunnisa, anak seorang pemulung. Suatu hari Nissa terkena diare, tapi karena bapaknya tidak punya cukup uang untuk membawanya berobat, Nissa meninggal dunia di gerobak sampah bapaknya.
Inilah yang kemudian memotivasi dr. Gamal mengembangkan program kesehatan terbuka bagi setiap orang. “Open doors to health access,” ungkapnya.
Ia mengajak kader posyandu, PKK, dan warga untuk bergabung dalam program Klinik Asuransi Sampah. Mereka diajak mengumpulkan sampah dan menyetorkan sampah senilai 10 ribu rupiah per bulan untuk mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan. Target utamanya warga kurang mampu yang sulit mengakses layanan kesehatan.
Meski sempat tutup setelah berjalan enam bulan, lima klinik dengan sistem asuransi sampah ini akhirnya berjalan stabil sejak dibuka kembali pada Maret 2013, bahkan berhasil mengajak 88 relawan, 15 dokter, dan 12 perawat untuk bergabung..jpg)
Progam Sosial Lain
Setelah mengembangkan Klinik Asuransi Sampah, dr. Gamal semakin bersemangat membuka beberapa program sosial lain. Di antaranya, Ayo Tolong dan Siapa Peduli (program dengan sistem crowdfunding untuk fasilitas kesehatan dengan pendekatan digital, optimalisasi sosial media, dan gerakan kerelawanan) dan Homemedika (wahana digital yang diinisiasinya untuk menghubungkan tenaga dan fasilitas kesehatan dengan masyarakat).
Ia juga memelopori pembentukan Livestock Waste Insurance (asuransi limbah ternak untuk kesehatan peternak), Goodness Development (pinjaman tanpa bunga), Mother Happiness Center (program untuk membantu ibu hamil menikmati kehamilan), Baby Belt Enhancer (sabuk dengan prinsip audioterapi untuk janin), Mobile Hospital, hingga program Eduvalent (pembiayaan pendidikan dengan sampah)
Penghargaan Nasional dan Internasional
Dari seluruh program kesehatan yang dicanangkan, dr. Gamal banyak menerima penghargaan nasional maupun internasional, salah satunya Gelar Kehormatan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entepreneur Award dari Kerajaan Inggris yang diserahkan langsung oleh Pangeran Charles di Istana Buckingham. Ia menjadi pemuda pertama yang mendapatkan penghargaan ini, menyisihkan 511 pengusaha dari 90 negara.
dr. Gamal Albinsaid juga masuk daftar 50 Most Impactful Social Innovator in The World (Global Listing). Atas usahanya, ia menyabet 41 Penghargaan dalam dan luar negeri serta 9 penghargaan internasional lainnya..jpg)
Belum Puas
“Saya bersyukur sejauh ini program kami telah memberikan akses layanan kesehatan ke ribuan pasien, tapi we still have big job to do. Ke depan kami terus berorientasi meluaskan impact dari setiap inovasi yang sudah kami kembangkan dan memastikan daya keberlangsungan dari semua inovasi tersebut,” ujar dr. Gamal.
Ia ingin masyarakat merasa tenang, tenteram, dan tidak khawatir karena mereka bisa mendapatkan akses layanan kesehatan ketika mereka sakit. “Saya benar-benar ingin mewujudkan Indonesia Sehat dan mampu menjadikan kesehatan sebagai hak asasi masyarakat Indonesia, tanpa memedulikan dari mana ia berasal dan bagaimana kondisi ekonominya,” pungkasnya.