Nama Muhammad Alfatih Timur, atau akrab disapa Timmy, tercantum pada kategori Social Entrepreneurs berkat upayanya mendirikan KitaBisa.com. Situs patungan (crowd funding) pertama di Indonesia itu didirikan pria kelahiran Padang ini bersama sembilan teman lainnya.
Bermula ketika Timmy meminta rekomendasi dosennya, Rhenald Kasali, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Namun bukannya memberikan rekomendasi, Rhenald justru meminta alumnus Fakultas Universitas Ekonomi Indonesia (FEUI) itu untuk bergabung dan menjadi asistennya di Rumah Perubahan.
Berada di lingkungan yang menjadi tempat berkumpulnya pelaku-pelaku perubahan dan sangat kental dengan socialpreneurship pada akhirnya memengaruhi pola pikir dan jiwa sosial Timmy. Bersama beberapa rekannya, pria 26 tahun ini mencoba melakukan bisnis sosial yang dapat membantu sesama secara berkelanjutan..jpg)
KitaBisa.com
Didirikan tahun 2013, laman KitaBisa.com bertujuan menghubungkan orang-orang yang memiliki ide-ide sosial dengan orang atau pihak yang ingin memberikan bantuan dana. Pemilik ide akan menuliskan program sosialnya di situs ini, baik untuk membantu pengobatan seseorang, bencana alam, atau permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan. Harapannya akan tumbuh simpati orang-orang yang ingin mendonasikan uang atau tenaga untuk mendukung kampanye tersebut.
“Internet dan media sosial memudahkan kampanye crowdfunding saat ini. Kenaikan pengguna media sosial berhasil menyebarkan kampanye dengan efektif dan efisien, sementara perkembangan Internet membuat para calon donatur menjadi lebih mudah menyalurkan bantuannya. Kitabisa.com meyakini bahwa perkembangan teknologi membuat upaya pengumpulan dana secara digital akan kian mudah,” urai Alfatih pada satu kesempatan..jpg)
Ditilik dari KitaBisa.com, hingga kini laman tersebut telah menggalang dana hingga lebih dari 102 miliar rupiah. Dari dana tersebut, mereka telah memfasilitasi 4.766 kampanye sosial dari berbagai pelosok negeri. Beberapa di antaranya, gerakan menyelamatkan Sekolah Masjid Terminal Depok, wakaf Quran untuk kaum marjinal, parsel untuk penderita kusta, pembangunan lima perpustakaan di NTT, bantuan dana bagi korban bom, hingga pemberian dana bagi bayi William yang mengalami kesulitan bernapas, bahkan beberapa artis nasional yang mengalami masalah kesehatan.