Beberapa masa sebelumnya Salassae merupakan daerah pertanian menjanjikan. Namun lebih dari lima tahun lalu pertanian menjadi komoditas yang tidak lagi menarik di Salassae, Bulukumba, Sumatera Selatan. Lahan kecil dan biaya produksi besar menjadi tantangan di sana. Kondisi makin diperparah karena generasi muda setempat juga mengabaikan tradisi bertani. Mereka lebih senang merantau menjadi TKI.
Hingga akhirnya pada tahun 2011, sejumlah mantan perantau berkumpul dan berdiskusi untuk memperbaiki pertanian di Salassae. Penggagasnya adalah Armin Salassa, mantan perantau yang juga salah satu tokoh pemuda Salassae. Mereka resah karena kondisinya semakin memprihatinkan. Para mantan perantau dan petani ini memikirkan berbagai cara untuk memperbaiki kehidupan. Pilihannya kembali ke pertanian, tapi dengan teknik yang berbeda dari sebelumnya.

Pertanian Alami, Murah, dan Mudah
Kesepakatan diambil, mereka akan memulai metode bertani dengan cara alami, memanfaatkan bahan-bahan murah dan mudah diperoleh.
Mereka mulai dengan belajar membuat pestisida dan pupuk alami, termasuk mempelajari kondisi alam, guna menghasilkan hasil panen berkualitas. Secara rinci mereka juga mempelajari zat-zat yang dibutuhkan akar, batang, daun, hingga buah.
Berbagai percobaan pun dilakukan guna mendapatkan formula tepat untuk pupuk ataupun pestisida. Beberapa petani bahkan sampai mencari bacaan dan literatur tentang bercocok tanam, sementara sebagian pergi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan.
Sambil menjalankan percobaan, mereka membentuk kelompok petani dengan nama Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS). Mereka sepakat urunan uang untuk modal awal. Uang yang terkumpul digunakan membeli sapi untuk diternakkan. Hasilnya untuk mendanai kegiatan kelompok. Kelompok ini pula yang membantu petani memasarkan produk pertanian alami mereka.


Siap Berbagi
Percobaan yang dilakukan tak serta-merta langsung berhasil, banyak yang mengalami kegagalan. Pernah ada petani yang memakai nutrisi pada tanaman cabai, hasilnya daun melebar hingga setelapak tangan orang dewasa dan buahnya kurang. Ada juga yang menerapkan nutrisi pada kacang panjang, namun hasilnya bijinya besar dan tidak laku dijual.
Tapi kegagalan ini tidak menyurutkan semangat mereka, justru semakin mempererat kebersamaan antar petani. Kegagalan justru membuat petani penasaran dan berani mencoba sesuatu yang baru. Mereka semakin kreatif karena ingin menemukan sesuatu yang baru.
Tekad bertani alami dan menekan biaya pertanian yang besar membuat petani terus berusaha hingga berhasil. Keberhasilan ini signifikan menekan ongkos produksi, misalnya pupuk, dari jutaan per hektar menjadi ratusan bahkan puluhan ribu per hektar.
Soal berbagi ilmu, petani Salassae pun sepakat untuk berbagi pengetahuan kepada petani mana pun yang ingin bercocok tanam alami. Bahkan, mereka membuat kesepakatan tidak menjual pupuk atau pestisida buatan mereka, tetapi petani harus belajar untuk bisa membuat sendiri.

Jadi Contoh Daerah Lain
Meski awalnya banyak yang tak percaya, namun hasil pertanian di Desa Salassae memberikan hasil nyata. Misal ketika terjadi serangan hama atau musim kemarau, tanaman di Desa Salassae yang menggunakan pupuk organik lebih tahan dibanding yang menggunakan pupuk kimia.
Cerita keberhasilan petani Salassae ini pun menyebar dengan cepat dan menarik minat petani-petani dari daerah lain. Jika awalnya hanya petani di sekitar Bulukumba yang mengikuti jejak petani Salassae, kini kelompok-kelompok terbentuk di sejumlah kabupaten. Mereka semua saling membantu, belajar bersama dan berbagi setiap ada temuan baru.
Persoalan yang dihadapi juga diselesaikan bersama, meskipun dilakukan melalui diskusi lewat telepon atau media sosial. Di setiap desa, kelompok tani ini juga mengaktifkan gotong royong turun ke sawah terutama pada masa tanam dan panen. Hingga akhirnya, petani-petani di Salassae ini merasa lebih senang bercocok tanam karena tidak khawatir memikirkan biaya produksi yang membesar, ataupun keadaan cuaca yang tidak menentu.
Mereka sekarang tidak tergantung pada ketersediaan barang karena para petani Salassae sudah bisa menciptakan solusi sendiri atas kebutuhan pertanian mereka.