Berbagai literatur menyebutkan pria kelahiran 16 Januari 1985 ini awalnya tidak mengira ia bisa menjadi seorang techopreneur seperti saat ini. Setelah lulus kuliah jurusan network engineering, Ryan muda sempat bekerja di dua perusahaan teknologi informasi.

Pada tahun 2008–2011, ia bahkan sempat menjabat sebagai Head of Business Development PT Bayu Buana, sebuah agen perjalanan terkenal di Indonesia. Pada satu kesempatan bekerja di sana, Ryan membutuhkan banyak desain kreatif untuk menyiapkan logo, brosur, kalender, dan lainnya. Kebutuhan desain tersebut melebihi kapasitas kerja tim desainer internal. Kalaupun tugas tersebut sanggup dikerjakan, hasilnya kurang memuaskannya.

Pikiran kreatifnya pun muncul. Ia mencoba membuat kontes desain kalender di Kaskus dengan hadiah satu ponsel pintar. Hasilnya? Di luar dugaan, dalam kurun waktu 7 hari, ia sudah mengantongi 300 desain kalender.



Berangkat dari pengalaman itu, Ryan memutuskan untuk mendirikan sebuah crowdsourcing bersama rekannya, Wenas Kusnadi. Pada September 2011 lahirlah situs crowdsourcing pertama di Indonesia yang dinamakan sribu.com. Berapa modal yang disiapkan kala itu? Lima puluh juta saja.

Boleh dibilang momen pendirian sribu.com sangat tepat. Mencari seorang desainer bukan perkara mudah, khususnya bagi perusahaan yang sedang berkembang. Pada awal kemunculannya, sribu.com langsung mendapat sambutan antusias. Tak kurang dari 7.000 desainer bergabung bersama portal ini. Total transaksinya pun tidak main-main, mencapai 120 juta rupiah. Wajar jika pada akhirnya banyak pihak ingin menjadi investor dan portal ini berkembang sangat cepat.

Pola kerja di portal ini sangat mudah. Klien diharuskan mendaftar terlebih dahulu kemudian membuat deskripsi pekerjaan. Selanjutnya, sribu.com mengadakan kontes untuk seluruh desainer yang tergabung sebagai anggota dan para desainer tersebut wajib membuat desain sesuai arahan klien. Klien akan mendapatkan hasil desain para kontestan dalam waktu 1 minggu. Desainer yang desainnya terpilih akan mendapatkan imbalan sesuai perjanjian di awal.



SRIBULANCER.COM

Mengembangkan <sribu.com> bukan tanpa hambatan. Berbagai permasalahan datang silih berganti. Setidaknya Ryan mengalami beberapa masa kritis. Salah satunya ketika banyak karyawan yang direkrut namun berakibat pada tidak efisiennya kerja tim. Masalah lainnya, waktunya banyak tersita untuk mencari investor baru yang menyebabkan turunnya performa sribu.com.

“Startup adalah entitas yang labil. Kadang kita tidak tahu apa yang akan terjadi keesokan hari. Saya belajar semua hal tidak boleh dianggap sepele karena bisa menjadi awal mula kehancuran sebuah startup,” kata Ryan yang kami kutip dari youngsters.id.

Masalah yang hadir malah membuatnya terinspirasi untuk mengembangkan usahanya. Ia melihat peluang bahwa banyak bisnis kecil dengan skala UKM yang membutuhkan pekerja lepas untuk berbagai bidang pekerjaan selain desain. Sribulancer.com menyediakan pekerja lepas untuk pengembangan portal, penulis, akuntan, data entry, dan masih banyak lainnya. Sementara itu, pola kerja untuk klien sama dengan sribu.com, begitu pula dengan pola para pencari kerja.

Menurut data yang kami peroleh di awal tahun 2016, sribulancer.com telah memliki 10 ribu klien, 45 ribuan pekerja lepas, dan setidaknya telah memiliki 3.500 proyek. Omset situs ini tidak main-main, 8 miliar rupiah! Angka yang cukup fantastis untuk sebuah bisnis perintis.

Seperti kembali kami kutip dari youngster.id, Ryan berpendapat tentang bisnis yang telah dijalaninya ini, “Pada awalnya saya yakin akan dapat menghasilkan banyak uang dengan mengembangkan Sribu. Tapi pada akhirnya saya mengerti bahwa semangat start-up company berakar dari semangat mencari solusi dari permasalahan yang ada dan mengembangkan produk yang dapat menawarkan solusi dan menjadikannya diminati dan digunakan oleh banyak orang. Bayangkan apabila produk yang kamu buat dapat digunakan dan membantu 1.000, 10.000, bahkan 1 juta orang. You have changed the world,” ungkap pria yang mengagumi Jeff Bezos dan Neil Pattel ini.