Kecintaan itu mendorongnya mendirikan bengkel Retro Classic Styles selepas kuliah pada tahun 2002. Fokus pada motor Harley Davidson, perjalanan Retro Classic Styles diawali dengan membuat suku cadang replika untuk motor-motor klasik, sehingga motor-motor tersebut tidak kesulitan mencari suku cadang langka.

Sukses meraih konsumen dari seluruh Indonesia, bahkan mancanegara, Lulut memberanikan diri mengajukan workshop-nya menjadi pengimpor dan penyedia suku cadang motor Harley Davidson. Meski pada tahun 2002 Indonesia mengalami krisis ekonomi dan krisis kepercayaan dari pihak luar, tetapi Lulut terus mendapat kepercayaan dari Harley Davidson karena kenekatannya mendepositokan dana besar kepada pabrikan motor Amerika tersebut.



Prestasi Demi Prestasi
Dengan kemudahan memperoleh suplai suku cadang, Lulut mulai berkreasi membangun motor. Tahun 2005 karyanya meraih penghargaan Bike of The Month dari sebuah situs komunitas Harley Davidson. Prestasi pertama itu disusul gelar runner up dalam ajang World Custom Championship Asia Region di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2007.

Kemenangan tersebut mulai membuka mata internasional terhadap kemampuan builder Indonesia. Apalagi karya modifikasi Lulut mengalahkan karya modifikator ternama dari Jepang, Keji Kawakita.

Sadar akan potensi Lulut, Keji menantangnya mengikuti ajang yang lebih kompetitif, yakni Cool Breaker di Jepang. Lulut memenuhi tantangan tersebut dengan membawa motor modifikasi bernama Kyai Perkoso. Nama itu pemberian Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebelum motornya berangkat ke Jepang. Lulut menampilkan ornamen batik dan pahatan ala Candi Prambanan di bagian blok mesin. Keindonesiaan menjadi ciri khas karya-karya Lulut agar dunia bisa mengenal ragam kebudayaan Indonesia.
Kyai Perkoso berhasil meraih gelar Best People Choice di ajang Cool Breaker. Mata internasional pun semakin menyorot Lulut sebagai modifikator atau builder ternama dari Indonesia.



Merangsang Prestasi Builder Lokal
Menuai prestasi dan apresiasi di dunia internasional justru membuat Lulut merasa ironis atas rendahnya apresiasi pemerintah terhadap industri otomotif skala kecil. Menurutnya, builder-builder motor modifikasi yang tersebar di sejumlah kota besar memiliki kemampuan lebih baik dalam membuat suku cadang. Sayangnya, mereka tidak terfasilitasi sehingga kerap berjalan di tempat atau bahkan berhenti. Padahal banyak builder baru bertalenta tinggi bermunculan setiap tahun.

Lulut pun mendirikan event besar bertajuk Kustomfest (Indonesia Kustom Kulture Festival) pada tahun 2012 di Yogyakarta. Mengusung tema “This Is Our Garage!”, Lulut ingin menunjukkan bahwa Indonesia merupakan bagian dari industri budaya kustom (custom culture) dunia.

Event itu selanjutnya rutin digelar setiap tahun di Yogyakarta untuk mewadahi builder-builder lokal berkompetisi. Baru di tahun 2016, Kustomfest mulai dilirik mata internasional. Puluhan modifikator, pelaku industri, hingga media internasional berdatangan ke Yogyakarta untuk berpartisipasi di custom culture terbesar di Indonesia ini.

Lulut Wahyudi berharap ke depannya bukan hanya generasi muda yang mendukung industri otomotif skala kecil, namun juga pemerintah. Itikad baik sudah dilakukan pemerintah Yogyakarta yang mendukung penyelenggaraan Kustomfest sebagai aset dari kota Yogyakarta. Sebagai catatan, Kustomfest didatangi minimal 24 ribu pengunjung, termasuk sekitar seribu pengunjung dari luar negeri yang khusus ke Indonesia untuk Kustomfest.

Menurutnya, wujud dukungan pemerintah cukup dengan memberikan fasilitas kepada builder lokal seperti peralatan produksi dan proteksi harga biaya bahan baku. Masih menurut Lulut, industri skala kecil ini tidak akan mengganggu industri otomotif skala besar yang sudah berjalan, bahkan diprediksi bisa memunculkan banyak industri otomotif skala kecil lainnya yang tentu saja akan menambah lapangan pekerjaan serta devisa untuk negara.