Data yang dikeluarkan UNESCO pun menunjukkan minat baca di Indonesia hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang di Indonesia cuma satu orang yang rajin membaca.
Kondisi ini diperparah gaya hidup digital yang serba cepat. Koran tidak lagi menjadi sumber berita masyarakat, tetapi media sosial. Twitter yang hanya terdiri dari 140 karakter menciptakan kebiasaan baru. Kita jadi terbiasa membaca tulisan pendek dan cepat, padahal untuk memahami satu masalah dibutuhkan lebih dari 140 karakter.
Begitu pula dengan Instagram. Manusia modern sangat terobsesi dengan segala yang bersifat visual tanpa berniat memahami dan mencari tahu lebih banyak yang termakna dalam sebuah gambar.
Faktor-faktor ini membuat kita semakin malas membaca dalam format panjang. Padahal kebiasaan membaca perlu terus dipupuk untuk memajukan dan mencerdaskan masyarakat. Selain itu, banyak manfaat bisa diperoleh dari membaca, di antaranya sebagai berikut:
Jendela Dunia
Istilah buku adalah jendela dunia tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Istilah ini sangat tepat untuk mengambarkan bagaimana dengan membaca akan membuat kita melihat dan menemukan banyak hal yang ada di dunia luar. Kita mungkin tidak menjadi saksi mata langsung peristiwa 9/11 di New York Amerika tapi dengan membaca buku, kita tahu peristiwa itu pernah terjadi.
Mengasah Daya Imajinasi
Membaca meluaskan daya imajinasi yang merupakan kebutuhan setiap manusia. Beberapa penemuan modern terinspirasi dari buku-buku fiksi sains. Novel fiksi sains Twenty Thousand Leagues Under Sea karangan Jules Verne (1870) menginspirasi Simon Lake, seorang penemu Amerika, membuat kapal selam tahun 1898. Penemu Igor Sikorsky berhasil membuat helikopter modern setelah mendapat inspirasi dari buku Clipper of The Clouds karangan Jules Verne yang dibacanya sewaktu kecil.
Belajar Menganalisis
Media sosial dengan format tulisan pendek membuat orang mudah mengambil kesimpulan dan berprasangka buruk pada orang lain. Membaca buku bisa membantu kita menghindari kebiasaan ini. Buku memberi penjelasan menyeluruh tentang suatu masalah. Kita diajarkan melihat masalah dari berbagai sudut, dilengkapi data-data penunjang. Kita bisa melihat gambaran besar masalah lebih jelas lagi. Otak diasah menganalisis situasi secara mendalam, tidak hanya sebatas di permukaan saja.
Memperkaya Kosakata
Banyak orang mengeluhkan bahasa Indonesia tidak enak dibaca dan membosankan. Anggapan ini terjadi karena kita membaca kalimat dan kosakata yang itu-itu saja. Dengan membaca, kosakata bahasa Indonesia kita akan semakin kaya sehingga membuat kita lebih menghargai bahasa sendiri. Kita bisa memulai dari membaca kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono, Joko Pinubo, atau Aan Mansyur. Dari puisi mereka kita akan melihat betapa kaya dan indahnya Bahasa Indonesia.
E-buku yang Memudahkan
Di era digital memang ada pergeseran dalam pemilihan medium untuk membaca. Kehadiran tablet dan iPad sudah menggantikan buku sebagai sumber membaca. Sejumlah perpustakaan pun sudah mulai mendigitalisasi buku, sehingga tidak hanya memudahkan pencarian data tapi juga menghemat waktu dan tempat. Apa pun formatnya bukan masalah, yang penting bagaimana kita menyerap yang tertuang dalam buku itu.