Kegagalan menjadi momok bagi sebagian orang. Tak sedikit lantas memilih mundur karena menganggap sudah salah langkah. Padahal, kegagalan bukan berarti tidak berhasil, melainkan satu titik dari sebuah proses.
Ketika gagal, sesungguhnya kita mengalami pengalaman baru. Kita jadi tahu ragam penyebab kegagalan sehingga memperkecil persentase risiko yang bisa membuat kita gagal lagi di kemudian hari. Secara tidak langsung, kita berhasil lebih maju dari kita yang kemarin, lantas menyusun langkah maju setahap demi setahap.
Sebuah ungkapan apik menyebutkan kegagalan yang sebenarnya adalah ketika kita berhenti atau tidak mencoba sama sekali. Kalah sebelum berperang adalah istilah paling tepat untuk menggambarkan kegagalan sejati. Memilih “kalah sebelum berperang” tidak membuahkan manfaat sama sekali dan malah membuat kita mundur atau tertinggal.



Berhasil dari Kegagalan
Thomas Alva Edison, penemu bohlam dan pendiri perusahaan General Electric, baru berhasil setelah berulang kali gagal. “Saya tidak gagal, tapi menemukan 9.994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal,” tuturnya. Itulah rasio kegagalan, kita semakin memperkecil kesempatan gagal dan makin dekat menuju pintu keberhasilan.
Kegagalan bukan akhir segalanya. Seorang entrepreneur sejati memandang kegagalan sebagai batu loncatan untuk memperbarui kinerja bisnis mereka di masa mendatang. Seorang pemimpin tidak menghabiskan waktunya memikirkan kegagalan, tetapi menemukan cara mencegah kegagalan yang sama terjadi. Hanya orang bodoh yang mau terjatuh dalam lubang yang sama.

Lebih jauh lagi, kegagalan kadang membawa kita pada perubahan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Dalam sesuatu yang baru ini, kita bisa menemukan peluang yang berpotensi berhasil. Seperti kasus perusahaan Fuji Film, ketika kamera digital mulai mengikis lahan kamera film, Fuji Film pun mengalami krisis hebat. Segala inovasi dan teknologi sudah dicoba tetapi responsnya tidak memuaskan. Fuji Film hampir menyusul para kompetitornya yang sudah gulung tikar lebih dulu, misalnya Kodak.
Tapi apa yang terjadi? Fuji Film memikirkan bagaimana memanfaatkan potensi yang ada untuk terobosan baru. Siapa sangka dari bahan kimia yang mereka punya, mereka bisa mendirikan lini bisnis baru yang bergerak di bidang kosmetik. Pasar dunia pun menyambut positif. Bayangkan, pendiri Fuji Film pasti tidak pernah mengira kalau suatu hari perusahaannya akan berkecimpung di dunia kosmetik.



Berani Gagal, Berani Belajar
Jangan ukur seseorang dengan menghitung berapa kali ia jatuh. Hitunglah berapa kali ia berhasil bangkit kembali setelah terjatuh. Setiap kegagalan adalah pelajaran yang mendorong kita mencoba pendekatan baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Berani gagal berarti berani belajar. Dengan kegagalan dan terus mempelajari sesuatu yang baru, niscaya kita akan tumbuh jadi orang yang lebih baik dan sukses meraih yang kita inginkan. Tidak ada yang tahu proses detail menuju keberhasilan. Semua keberhasilan yang dicapai cenderung mengalami kegagalan terlebih dahulu. Seperti pepatah bijak, “Kesuksesan adalah tangga terakhir dari kegagalan.”

Banyak cara untuk mencapai tujuan hidup. Sebagian orang mungkin lebih cepat mencapainya, dan sebagian lagi lebih lambat. Cepat atau lambat ini bersifat subjektif. Percayalah, kita akan lelah apabila kerap membanding-bandingkan keberhasilan orang lain dengan diri sendiri. Membuat perbandingan juga tidak akan membawa kita maju. Kita harus fleksibel terhadap segala sesuatu yang baru, berani berubah untuk beradaptasi. Lebih baik lagi bila kita bisa menciptakan sesuatu yang baru.