Bayangkan 100 perempuan dewasa maupun anak-anak berambut panjang berkostum kebaya berjajar di Tugu Yogyakarta. Seluruh perempuan itu berlenggak-lenggok menari diiringi lagu “Suwe Ora Jamu”. Hanya lima menit, tetapi dampaknya pasti luar biasa, bukan?

Itulah yang tampaknya dibayangkan Kinanti Sekar Rahina ketika menggelar karya tari “Jampi Gugat” di Tugu Pal Putih pada 21 September 2025 silam. Gelaran itu memang sempat menimbulkan kepadatan di area sekitar, tetapi masyarakat juga bisa langsung menangkap pesan yang ingin ia sampaikan melalui karyanya: tentang jamu yang kian ditinggalkan.

Lalu, sukseskah gelarannya? Sudah tentu, karena setelah itu banyak orang membicarakan Kinanti Sekar Rahina, tari “Jampi Gugat”, maupun pesan di balik karya tarinya.



Kata dan Pemberontakan
Diuraikan gadis yang akrab disapa Sekar ini, kelekatannya dengan dunia tari bermula ketika ia sering menonton balet di televisi kala masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak. Selama menonton, ia tidak bisa duduk diam. Melihat kesukaannya, ayahnya, Jemek Supardi, lalu memasukkan Sekar ke sanggar tari.

Keterlibatan perempuan kelahiran Yogyakarta, 26 Juli 1989 ini makin mendalam ketika ia memilih pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Bantul Yogyakarta dengan konsentrasi Tari dan kemudian menyelesaikan sarjananya di Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2012.

Baginya, tarian adalah bahasanya. Ketika dunia terlalu berisik dengan banyak perintah, kata-kata, dan bunyi-bunyi, lewat tarianlah ia berbicara. Laksana kata-kata, gerakan dan ekspresi tubuhnya menggantikan huruf-huruf, teks, dan bebunyian yang penuh makna. Tariannya pun multi-interpretatif.

Dalam masyarakat patriarki tempat stereotip perempuan sebagai makhluk lemah dan pelengkap kehadiran lelaki begitu kuat, Sekar merasa tarian bisa menjadi bentuk pembebasan atau pemberontakannya atas stereotipe tersebut. Melalui tariannya, ia ingin menunjukkan bahwa perempuan pun punya gagasan, mimpi, dan pemberontakan tersendiri. Bahwa perempuan juga punya peran penting dalam kehidupan.

Karya tarinya, antara lain “Donga Drupadi”, “Jampi Gugat”, “Air Mata Kunthi”, menjadi medianya mengungkapkan pemberontakan.


Prestasi Terbesar
Hingga kini tak terhitung banyaknya pergelaran tari yang telah Sekar ikuti. Dari kesungguhannya menggeluti dunia tari, ia sempat hilir mudik ke luar negeri, di antaranya Jepang, Belanda, Thailand, Singapura, dan Kazakhstan. Sekar juga pernah enam kali memenangi kejuaraan tari tingkat Yogyakarta.

Dari seluruh prestasi dan penghargaan yang pernah diukirnya, Sekar menilai Sanggar Seni Kinanti Sekar yang didirikannya adalah prestasi terbesar baginya. Sebagai penari, tak bisa dimungkiri keinginannya sangat besar untuk memiliki sanggar sendiri. Ia ingin berbagi pengalaman menarinya dengan “sedulur sanggar”, istilahnya untuk siswa Sanggar Seni Kinanti Sekar.

“Tujuan saya agar anak-anak yang ingin belajar menari mempunyai tempat belajar sekaligus ruang bermain dan mengembangkan kreativitas. Kemudian yang lebih saya harapkan adalah agar nantinya banyak (anak-anak) yang cinta seni tari, khususnya tari tradisional,” ungkapnya.



Sanggar Seni Kinanti Sekar
Sanggar Seni Kinanti Sekar berdiri sejak tahun 2015. Pendirian sanggar ini melibatkan suaminya–Bagas Arga Santosa, dan dua orang rekan, Wahono dan Anton Ismael.
Proses pembelajaran di sanggar nirlaba ini memperhatikan dua hal, yakni kebebasan berekspresi dan bersahabat dengan alam. Metode yang digunakan adalah inkuiri dan kontekstual yang memungkinkan siswa berpartisipasi dalam proses belajar dan dekat dengan lingkungan sekitar.

Dengan delapan orang pengajar, selain tari klasik Yogyakarta seperti “Nawung Sekar”, “Sari Kusuma”, “Kenyotinimbe”, dan “Pudyastuti”, Sanggar Seni Kinanti Sekar juga mengajarkan tari kreasi seperti “Gelegar Nusantara”, “Kenes Ghandes”, “Senggah”, dan “Pendet”, serta tari untuk anak-anak, yakni “Kwek-kwek”, “Nyawiji”, “Padang Bulan”, “Jampi Gugat”, dan “Nusantara”.

Meski belum genap tiga tahun, tetapi Sekar merasa harapannya sudah tercapai, yaitu agar anak-anak dapat menari. Meski demikian, Sekar mengakui kalau masih ada yang akan terus dikejarnya. “Saya ingin punya tempat sendiri untuk sanggar saya, karena sampai hari ini meski sudah ada tiga tempat, tetapi semua tempat itu merupakan pinjaman dari KPY, RainTree, dan Pendopo Omah Kalbu,” pungkasnya.

Doa kami menyertai harapan dan keinginanmu, Kinanti Sekar Rahina.

Website : kinantisekar.com