Menjadi dokter bukan pekerjaan menyenangkan, tutur dr. Ratih. Selalu menghadapi orang sakit bisa membuat stres, apalagi ketika harus menyampaikan berita buruk tentang kondisi kesehatan pasien kepada pasien itu sendiri atau keluarganya.

Berbeda dengan kebanyakan teman seprofesinya, wanita 37 tahun ini sudah 10 tahun tidak bekerja di rumah sakit ataupun membuka klinik sendiri. Ia lebih memilih mengobati masyarakat di pedalaman Nusantara dan korban bencana. Panggilan ini berawal ketika gempa melanda Pariaman, Sumatera Barat, tahun 2009 silam. “Tiba-tiba sangat kepengin pergi ke sana untuk membantu korban bencana. Mungkin inilah ‘panggilan jiwa’ untuk berbuat sesuatu yang lebih,” ungkapnya.



Semangat Meski Terbatas
Meski sempat terserang stroke yang menyebabkan tubuh sebelah kirinya lumpuh karena kelainan darah pada sumsum tulang, bagi dr. Ratih semua perjalanannya meninggalkan kesan.

“Ketika menyambangi Huahulu di Pulau Seram, Maluku, dan bertemu seorang pasien pengidap kanker, saya sedih tidak bisa berbuat banyak lantaran harus menempuh perjalanan jauh untuk evakuasi,” kenangnya. “Di Kalimantan pun, untuk mengambil obat dari posko kesehatan atau puskemas kabupaten, harus menempuh perjalanan 9,5 jam berjalan kaki,” lanjutnya.

Keputusan jadi dokter tanpa rumah sakit dan klinik justru membuat ia kenyang pengalaman. Ketika terjadi bencana besar di Nepal beberapa tahun silam, ia hadir di sana meski mengalami kesulitan komunikasi. Kebanyakan korban tak bisa berbahasa Inggris. Sebaliknya, dr. Ratih tak mengerti bahasa Nepal. Jadilah mereka menggunakan bahasa tubuh.

Melihat korban gempa tersenyum setelah tertangani secara medis merupakan kebanggaan tersendiri bagi dr. Ratih. Kendati kadang tidak bisa berbuat banyak, ia percaya kedekatan dengan pasien setidaknya sudah mengobati 50% rasa sakit mereka.



Edukasi Masyarakat Luas
Sepak terjang ibu tiga anak di tengah kondisi tanggap darurat ini membuat banyak pihak ingin mengenalnya lebih jauh. Program Studi Dokter Spesialis Emergency Medis Universitas Indonesia memintanya memberi pengarahan pre-hospital atau tindakan sebelum masuk rumah sakit serta pengobatan ke pelosok dan pedalaman. KompasTV juga menokohkannya sebagai karakter utama dalam program Doctors Go Wild yang tayang tahun 2013–2015 lalu.

Meski program televisi ini sudah berakhir, ia masih terus berusaha mengedukasi masyarakat tentang kesehatan melalui YouTube. “Materinya antara lain tentang keselamatan pendakian, juga safety riding. Mudah-mudahan bisa mengurangi kekhawatiran masyarakat dan lebih mawas diri tentang kecelakaan,” paparnya.

Ia pun masih ingin membuat video edukasi bertema urban lifestyle. Bu Dokter yang produktif ini menargetkan bisa membuat 80 klip kesehatan hingga pertengahan tahun ini. Konsepnya adalah konten first aid seputar informasi hal-hal darurat yang bisa dilakukan orang saat menghadapi korban kecelakaan. Jika edukasi ini dipahami, paling tidak bisa meringankan rasa sakit korban dan mengurangi tugas dokter saat tiba di rumah sakit sehingga nyawa korban lebih berpeluang besar tertolong.



Tip Menjadi Dokter di Pelosok dan Pedalaman.
Menurut dr. Ratih, seorang dokter seharusnya mampu menghadapi berbagai jenis rintangan, apalagi jika punya niat terjun ke pedalaman. Tiap daerah punya karakter warga begitu beragam, begitu pula tantangan alamnya. Pesan dr. Ratih, jangan manja dengan kondisi ekstrem dan jangan berharap imbalan apa pun. Hambatan pasti akan terjadi, mantapkan saja niat untuk membantu.

“Sikapi dengan tenang, niat baik pasti akan dimudahkan jalannya. Percayalah, saya sudah menjalani profesi ini selama 10 tahun. Semoga ada regenerasi dokter muda untuk penanganan bencana alam di Tanah Air dan dunia,” tutup dr. Ratih.