Saat ini diperkirakan lebih dari 50% populasi penduduk dunia tinggal di daerah perkotaan. Di tahun 2050 jumlah ini diramalkan akan meningkat hingga 70%. Inilah salah satu masalah besar bagi penduduk perkotaan karena tekanan hidup semakin besar, semakin sulit mendapatkan ruang gerak dan ruang hijau, serta semakin meningkatnya polusi. Bila kondisi ini terus dibiarkan tentu akan memengaruhi kualitas hidup mereka.
Wina – Austria menempati peringkat satu sebagai kota layak huni dan kota paling hijau di dunia. Sekitar 51% ruangnya dikategorikan sebagai ruang hijau. Setiap orang yang tinggal di kota tersebut memiliki sekitar 120 m2 ruang hijau.
Menempati urutan berikutnya adalah Stockholm dengan 87,5 m2, disusul Singapura dengan 66 m2, dan Amsterdam dengan 45,5 m2. Bagaimana dengan Jakarta? Ibu kota kita tercinta ini berada di urutan 10 terbawah, yaitu posisi 46.
Sejumlah kendala sering dilontarkan berkaitan dengan keberadaan taman ini. Jumlah penduduk kota memberikan konsekuensi semakin padatnya tempat tinggal sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan ruang hijau ini.
Meningkatkan Kesehatan Mental
Kebutuhan akan ruang hijau berkaitan erat dengan kualitas hidup manusia yang tinggal di situ. Menurut WHO, sebuah kota yang layak huni adalah kota yang menyediakan akses ruang hijau bagi publik dan dilengkapi sarana fisik di setiap wilayahnya. Salah satu bentuk ruang hijau adalah taman kota. Semakin banyak taman kota, semakin meningkat pula kualitas hidup penduduknya.
Salah satu keuntungan utama keberadaan taman adalah meningkatkan kesehatan mental. Sebuah studi yang ditulis di Proceeding of the National Academy of Science menyatakan orang yang berada di alam atau di daerah hijau selama 90 menit terbukti bisa mengurangi depresi. Pendapat ini diperkuat dengan sebuah studi dari Finlandia yang menyatakan orang yang berjalan 10 menit di taman setelahnya merasa lebih senang dan tidak stres lagi. Bahkan sekarang pun dianjurkan agar para pekerja tidak hanya bekerja dalam ruangan tetapi juga di udara terbuka atau di taman.
Selain meningkatkan kesehatan mental, taman bisa dijadikan tempat beraktivitas fisik. Bukan rahasia lagi kalau gaya hidup modern seperti menikmati junk food, duduk lama di depan komputer, dan bepergian mengendarai mobil menyebabkan tingkat obesitas tinggi pada penduduk kota. Aktivitas fisik di taman kota adalah salah satu solusi masalah ini.
Beberapa taman di Jakarta sudah dirancang agar nyaman untuk lari atau joging seperti Taman Monas, Taman Tebet, Taman Suropati, dan Taman Menteng. Di Bandung pun sudah muncul tiga taman untuk berolahraga yaitu Taman Fitness, Taman Aktif, dan Taman Bugar yang dilengkapi alat fitness mulai dari chest press, elliptical trainer, sit-up bench, hingga cross trainer.
Pusat Komunitas dan Bergaul
Di sisi lain, taman bisa memungkinkan sosialisasi tatap muka warga yang tinggal dalam satu kompleks. Manusia adalah makhluk sosial, keberadaan gawai sudah semakin mengurangi sosialisasi tatap muka manusia yang dalam jangka panjang bisa berakibat buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Dengan adanya taman, fungsi makhluk sosial seseorang bisa tetap terjaga. Terutama bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, penting bagi mereka untuk berinteraksi dengan orang lain agar bisa menjadi makhluk sosial yang baik.
Tidak hanya itu. Taman bisa pula dijadikan sebagai pusat komunitas. Berbagai aktivitas atau hobi banyak dimulai dari taman. Misalnya Taman Kalijodo yang menyediakan lintasan sepeda dan skate park yang bisa menumbuhkan komunitas olahraga ekstrem di sini. Begitu pula Taman Fotografi di Bandung yang bisa jadi tempat berkumpul para pencinta fotografi.