Meski awalnya hanya sebagai hobi, Lilyana bergabung dengan klub bulu tangkis Pisok-Manado sejak duduk di bangku sekolah dasar. Pada usia 12 tahun dia diterima di PB Tangkas – Jakarta dan pada umur 17 tahun masuk Pelatnas PBSI. Dari sanalah Liliyana menapaki kariernya sebagai pemain bulu tangkis dan mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya.
Pada awal kariernya Liliyana bertanding pada kelas ganda putri. Dia pernah dipasangkan dengan Eny Erlanda, kemudian dengan Vita Marissa. Bersama Vita Marissa, Liliyana berhasil menjadi juara Indonesia Open (2007) dan China Master (2008). Dari ganda putri, Liliayana beralih ke ganda campuran. Sempat berpasangan dengan Nova Widianto, tahun 2011 Liliyana dipasangkan dengan Tontowi hingga sekarang.
Bersama pasangannya ini Liliyana menghasilkan banyak prestasi bergengsi, mulai dari Kejuaraan Dunia BWF, Kejuaraan Bulutangkis Asia, Asian Games, SEA Games hingga BWF Super Series yang merupakan rangkaian pertandingan bulu tangkis di beberapa negara seperti Japan Open, Singapore Open, China Open.
Bersama Tontowi, Liliyana menjadi juara All England—ajang bulu tangkis paling bergengsi—tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 2012, 2013, dan 2014. Satu lagi prestasi yang tak terlupakan adalah medali emas Olimpiade Rio 2016 untuk kategori bulu tangkis ganda campuran, yang mereka peroleh tepat pada hari Kemerdekaan Indonesia ke-71.
Kerja Keras Mendulang Emas
Liliyana Natsir menjadi perempuan Indonesia kedua yang berhasil meraih emas Olimpiade setelah Susi Susanti. Dalam ajang Olimpiade ini sendiri, medali emas yang diperoleh Lilyana adalah medali kedua yang pernah diraihnya. Sebelumnya dia pernah meraih medali perak di Olimpiade Beijing saat masih berpasangan dengan Nova Widianto.
Liliyana tidak menampik kenyataan bahwa usia sangat memengaruhi kemampuan seorang atlet di lapangan. Menurutnya, faktor umur tidak bisa bohong. Kecepatan tangan dan kaki sudah berbeda. Sementara di permainan ganda, kecepatan itu amat dibutuhkan.
Karena itu pula ketika mempersiapkan Olimpiade 2016 di Brazil, Liliyana meminta porsi latihan lebih banyak. “Saya minta porsi yang lebih banyak pas latihan. Mengingat lawan saya semua itu lebih muda, termasuk pasangan Malaysia dan China. Untungnya saya dan Owi bisa tampil maksimal di Olimpiade,” ucap Liliyana ketika bercerita soal kemenangannya meraih medali Emas di Olimpiade Rio 2016.
Kemenangan dalam Olimpiade Rio dirasakan sebagai highlight dari prestasinya. “Medali ini amat spesial karena merupakan level tertinggi. Apalagi saya sudah tidak akan bermain di Olimpiade 2020. Tapi semoga saya bisa di sana (Jepang) untuk mendukung pasangan Owi,” ucapnya.
Prestasi luar biasa ini didapat Liliyana berkat disiplin dan kerja keras. Seperti moto hidupnya, “Disiplin, kerja keras, pantang menyerah, dan selalu haus akan juara.”
Mengalahkan Ego
Tantangan terbesar sebagai pemain ganda adalah mengatur kekompakan dengan pasangannya. Manajemen tim menyediakan psikolog dan motivator untuk membimbing Liliyana dan pasangannya agar bisa fokus saat bermain. Namun itu kembali pada pribadi tiap orang dan bagaimana bisa mengatur ego.
“Paling berat adalah menekan ego. Ada dorongan untuk menyalahkan pasangan ketika dia berbuat salah. Tapi karena sudah satu tujuan, kami mampu menahan diri,” ungkap Liliyana dalam satu wawancaranya.
Liliyana selalu ingat tujuannya masuk Pelatnas adalah menjadi juara. “Tantangan dan musuh terbesar adalah diri sendiri. Tapi saya bisa mengatasinya dengan baik lewat disiplin diri. Saya selalu ingat tujuan saya di Pelatnas adalah untuk menjadi juara, membanggakan orang tua, dan mengharumkan bangsa Indonesia.”